Dr. Yusuf Qaradhawi
Tauhid yang murni dari segala kotoran kemusyrikan, jika terwujud dalam kehidupan seorang individu, atau dijadikan fondasi kehidupan suatu bangsa, niscaya akan menghasilkan buah yang paling matang dan mewujudkan pengaruh yang paling bermanfaat dalam kehidupan. Di antara buah dan pengaruh tauhid tersebut adalah:
(A) Membebaskan Manusia
Kemusyrikan dalam segala bentuk dan manifestasinya tidak lain adalah penghinaan dan perendahan terhadap martabat manusia. Kemusyrikan mewajibkan manusia untuk tunduk kepada makhluk dan menghambakan diri kepada benda-benda atau orang-orang yang tidak menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan. Mereka tidak kuasa mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk diri mereka sendiri, dan tidak kuasa mendatangkan kematian, kehidupan, maupun kebangkitan.
Adapun tauhid, pada hakikatnya adalah pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan selain kepada Tuhannya yang telah menciptakan dan menyempurnakannya. Tauhid adalah pembebasan akal dari takhayul dan khayalan, pembebasan hati nurani dari ketundukan, kehinaan, dan kepasrahan, serta pembebasan kehidupan dari tirani para Fir’aun, tuhan-tuhan, dan orang-orang yang mendewa-dewakan diri mereka atas hamba-hamba Allah.
Karena itulah para pemimpin kemusyrikan dan para tiran Jahiliyah melawan seruan para nabi pada umumnya, dan seruan Rasulullah secara khusus. Karena mereka mengetahui bahwa makna “Laa ilaaha illallah” adalah deklarasi umum untuk membebaskan umat manusia, menjatuhkan semua raksasa dari singgasana ke-tuhanan palsu mereka, dan meninggikan martabat orang-orang yang beriman; sehingga ia tidak menunduk kecuali hanya bersujud kepada Allah, Tuhan semesta alam.
(B) Membentuk Kepribadian yang Seimbang
Tauhid membantu pembentukan kepribadian yang seimbang, yang arahnya telah jelas dalam kehidupan, tujuannya telah menyatu, dan jalannya telah ditentukan. Ia hanya memiliki satu Tuhan yang dituju dalam kesendirian dan keramaian, yang diseru dalam kesenangan dan kesulitan, dan yang diupayakan keridaan-Nya dalam perkara kecil maupun besar.
Berbeda dengan orang musyrik yang kiblatnya terbagi-bagi oleh berbagai tuhan, dan kehidupannya tercerai-berai oleh berbagai sesembahan. Terkadang ia menghadap kepada Allah, terkadang kepada berhala, terkadang kepada berhala yang satu, dan terkadang kepada yang lain.
Karena itu, Yusuf ‘alaihis salam berkata:
يَـٰصَـٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌۭ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ
“Wahai kedua temanku dalam penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang terpecah-pecah itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)
Dan Allah berfirman:
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا رَّجُلًۭا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَـٰكِسُونَ وَرَجُلًۭا سَلَمًۭا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki yang dimiliki oleh beberapa orang yang saling berselisih, dan seorang laki-laki yang menjadi milik penuh seorang laki-laki. Adakah kedua perumpamaan itu sama?” (QS. Az-Zumar: 29)
Maka Dia memisalkan orang mukmin dengan seorang budak yang memiliki satu tuan, yang mengetahui apa yang membuat tuannya rida dan apa yang membuatnya murka, lalu ia berhenti pada apa yang membuat tuannya rida dan merasa tenteram karenanya. Dan Dia memisalkan orang musyrik dengan seorang budak yang memiliki lebih dari satu tuan. Yang satu mengarahkannya ke timur, yang lain ke barat. Yang satu menariknya ke kanan, yang lain ke kiri. Mereka adalah tuan-tuan yang saling berselisih, sementara budak itu berada di tengah-tengah mereka dalam keadaan tercerai-berai dan terbagi, tidak memiliki keteguhan dan ketetapan.
(C) Tauhid Sumber Keamanan Jiwa
Tauhid memenuhi jiwa pemiliknya dengan rasa aman dan tenteram. Ketakutan-ketakutan yang menguasai penganut kemusyrikan tidak dapat menguasai dirinya. Tauhid telah menutup celah-celah ketakutan yang sering dibuka manusia untuk diri mereka sendiri: takut akan rezeki, takut akan ajal, takut akan keselamatan diri, takut akan keluarga dan anak-anak, takut terhadap manusia, takut terhadap jin, takut terhadap kematian, dan takut terhadap apa yang terjadi setelah kematian.
Adapun seorang mukmin yang bertauhid, ia tidak takut kepada sesuatu apa pun dan kepada siapa pun selain Allah. Karena itu, engkau melihatnya merasa aman ketika manusia merasa takut, tenteram ketika manusia gelisah, dan tenang ketika manusia kalut. Dalam hal ini, Al-Qur’an menyebutkan dialog Ibrahim dengan kaumnya yang musyrik ketika mereka menakut-nakutinya dengan berhala-berhala dan tuhan-tuhan palsu mereka. Ia menjawab mereka dengan penuh keheranan dan kekaguman:
وَكَيْفَ أَخَافُ مَآ أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ عَلَيْكُمْ سُلْطَـٰنًۭا ۚ فَأَىُّ ٱلْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِٱلْأَمْنِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Bagaimana aku takut kepada apa yang kalian persekutukan, padahal kalian tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu tentang itu. Maka manakah di antara dua golongan yang lebih berhak mendapatkan keamanan, jika kalian mengetahui?” (QS. Al-An’am: 81)
Kemudian Allah menjelaskan siapa yang berhak mendapatkan keamanan di antara dua golongan itu dengan firman-Nya:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Keamanan ini bersumber dari dalam jiwa, bukan dari penjagaan polisi. Ini adalah keamanan dunia. Adapun keamanan akhirat, itu lebih besar dan lebih kekal, karena mereka telah mengikhlaskan diri kepada Allah dan tidak mencampuri tauhid mereka dengan kemusyrikan.
Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Ketika turun ayat: ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman’, kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Bukan seperti yang kalian katakan. Tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada putranya:
يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ
*’Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan adalah kezaliman yang besar.’ Maka makna ‘tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman’ adalah mereka mengikhlaskan agama mereka hanya untuk Allah, sehingga mereka tidak mencampuri tauhid mereka dengan kemusyrikan.”
(D) Tauhid Sumber Kekuatan Jiwa
Tauhid memberikan kekuatan psikologis yang luar biasa kepada pemiliknya. Jiwanya dipenuhi dengan harapan kepada Allah, kepercayaan kepada-Nya, ketergantungan kepada-Nya, keridaan terhadap ketetapan-Nya, kesabaran atas ujian-Nya, dan rasa tidak butuh terhadap makhluk-Nya. Ia kokoh seperti gunung, tidak tergoyahkan oleh peristiwa, dan tidak diguncangkan oleh bencana.
Setiap kali musibah menimpanya atau kesulitan melandanya, ia menolak untuk berlindung kepada makhluk, dan mengarahkan hatinya kepada Sang Pencipta. Hanya kepada-Nya ia meminta, dari-Nya ia mencari kekuatan, dan kepada-Nya ia bersandar. Ia tidak mengharapkan selain-Nya dalam menghilangkan bahaya dan mendatangkan kebaikan. Ia tidak mengulurkan tangan kepada siapa pun kecuali kepada Allah, dengan merendahkan diri, berdoa, dan kembali kepada-Nya.
Semboyannya adalah sabda Nabi kepada Ibnu Abbas:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Dan firman-Nya:
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّۢ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍۢ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)
Tidakkah engkau perhatikan bahwa ketika kaumnya menakut-nakuti Hud ‘alaihis salam dengan tipu daya berhala-berhala mereka, ia berkata:
إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌۭ مِّمَّا تُشْرِكُونَ * مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًۭا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ * إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
“Sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan, dari selain-Nya. Maka jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku, dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56)
Ini adalah logika yang kuat yang mengekspresikan jiwa yang penuh percaya diri, tekad yang kokoh, iman yang tidak lemah dan tidak tunduk, serta ruh yang tidak mengenal kelemahan dan ketakutan; karena ia memperoleh kekuatannya dari bertawakal kepada Allah.
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 49)
(E) Tauhid Fondasi Persaudaraan dan Kesetaraan
Jika tauhid dianggap sebagai fondasi bagi kebebasan manusia dan penegasan akan kemuliaan dan martabatnya, ia juga merupakan fondasi bagi penegakan persaudaraan kemanusiaan dan kesetaraan antarmanusia. Karena persaudaraan dan kesetaraan tidak akan terwujud dalam kehidupan manusia jika sebagian dari mereka menjadi tuhan bagi sebagian yang lain. Namun jika mereka semua adalah hamba Allah, maka itulah asal mula kesetaraan dan persaudaraan antar manusia. Karena itu, seruan Rasulullah kepada raja-raja bumi dan kepala negara diakhiri dengan ayat yang mulia ini:
تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ
“Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa jangan ada di antara kita yang menjadikan yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 64)
Dan di antara doa Nabi setelah shalat adalah doa yang indah dan agung ini: “Ya Allah, Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, dan Penguasa segala sesuatu, aku bersaksi bahwa Engkau Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu. Ya Allah, Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, dan Penguasa segala sesuatu, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu. Ya Allah, Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, dan Penguasa segala sesuatu, aku bersaksi bahwa semua hamba adalah bersaudara.”
Ketiga kesaksian yang disebutkan oleh Nabi ini saling terkait satu sama lain. Deklarasi persaudaraan kemanusiaan universal –bahwa semua hamba adalah bersaudara– dibangun di atas dua kesaksian pertama: (1) Bahwa Allah Maha Esa dalam ketuhanan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tuhan-tuhan bersama-Nya, dan tidak ada yang berhak menerima ketundukan dan penyembahan selain Dia. (2) Bahwa Muhammad adalah hamba Allah yang menyampaikan risalah-Nya, yang meniadakan setiap kecurigaan atau aroma ketuhanan dari dirinya. Ia bukan tuhan, bukan anak tuhan, dan bukan sepertiga dari tuhan, seperti yang diklaim oleh orang-orang Nasrani tentang Al-Masih.
Kerusakan dan Bahaya Kemusyrikan
Kemusyrikan memiliki banyak kerusakan dan bahaya dalam kehidupan individu dan masyarakat, yang terpenting adalah:
1. Kemusyrikan adalah Penghinaan terhadap Kemanusiaan
Kemusyrikan adalah penghinaan terhadap martabat manusia dan merendahkan derajat dan kedudukannya. Allah telah menjadikannya khalifah di bumi, memuliakannya, mengajarinya semua nama, menundukkan untuknya apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, dan menjadikannya penguasa atas segala sesuatu di alam semesta ini. Namun ia tidak mengetahui nilai dirinya, lalu menjadikan sebagian elemen alam ini sebagai tuhan yang disembah, yang ia tunduk, hina, dan sujud kepadanya, padahal ia adalah tuan dari makhluk yang dimuliakan. Allah berfirman:
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)
Penghinaan apa yang lebih besar terhadap manusia daripada melihat –hingga hari ini– ratusan juta manusia menyembah sapi yang Allah tundukkan untuk manusia agar melayaninya dalam keadaan hidup, dan mereka memakannya dalam keadaan disembelih, lalu tiba-tiba sapi itu menjadi tuhan yang disembah?! Karena itu, Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kemusyrikan merendahkan penganutnya dengan firman-Nya:
وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍۢ سَحِيقٍۢ
“Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
2. Kemusyrikan Sarang Takhayul
Kemusyrikan adalah sarang takhayul dan kebatilan. Karena orang yang percaya adanya pengaruh selain Allah di alam semesta –baik dari bintang, jin, hantu, roh, atau lainnya– pikirannya menjadi siap untuk menerima setiap takhayul dan membenarkan setiap dukun. Dengan demikian, barang dagangan para pendeta, peramal, tukang sihir, ahli nujum, dan sejenisnya yang mengaku mengetahui hal gaib dan berhubungan dengan kekuatan-kekuatan tersembunyi menjadi laris di masyarakat musyrik.
Demikian pula, dalam masyarakat seperti ini, mengabaikan sebab-sebab dan sunnah-sunnah alamiah menjadi hal yang umum, serta bersandar pada jimat-jimat, ruqyah syirik, sihir, pelet, dan sejenisnya.
3. Kemusyrikan adalah Kezaliman yang Besar
Kemusyrikan adalah kezaliman yang besar; kezaliman terhadap kebenaran, kezaliman terhadap diri sendiri, dan kezaliman terhadap orang lain. Kezaliman terhadap kebenaran, karena kebenaran yang paling besar adalah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada hukum selain dari-Nya. Tetapi orang musyrik menjadikan selain Allah sebagai tuhan, mencari selain Allah sebagai Tuhan, dan mencari selain-Nya sebagai hakim.
Kezaliman terhadap diri sendiri, karena orang musyrik menjadikan dirinya sebagai budak bagi makhluk yang sama seperti dirinya atau lebih rendah darinya, padahal Allah telah menciptakannya sebagai orang yang merdeka.
Kezaliman terhadap orang lain, karena barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia telah menzalimi sesuatu itu, karena ia memberikan hak yang bukan haknya.
4. Kemusyrikan Sumber Ketakutan
Kemusyrikan adalah sumber ketakutan dan khayalan, sebagaimana tauhid adalah sumber keamanan dan ketenteraman. Orang yang pikirannya menerima takhayul dan membenarkan kebatilan serta omong kosong akan menjadi takut dari berbagai arah: takut kepada tuhan-tuhan, takut kepada para pemelihara tuhan-tuhan, dan takut kepada khayalan yang disebarkan dan dipromosikan oleh para pemelihara, pendeta, dan pengikut mereka di antara manusia. Karena itu, dalam suasana kemusyrikan tersebar ath-thiyarah, pesimisme, dan ketakutan tanpa sebab yang jelas. Sebagaimana firman Allah:
سَنُلْقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعْبَ بِمَآ أَشْرَكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَـٰنًۭا ۖ وَمَأْوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى ٱلظَّـٰلِمِينَ
“Kami akan menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah tentangnya.” (QS. Ali ‘Imran: 151)
5. Kemusyrikan Menghambat Proaktivitas Manusia
Kemusyrikan menghambat kerja yang bermanfaat dan melumpuhkan proaktivitas serta kemandirian manusia -setelah Allah- karena ia mengajarkan para pengikutnya untuk bersandar kepada para pemberi syafaat dan perantara. Mereka melakukan dosa-dosa besar dan mengerjakan kejahatan, dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka akan memberi syafaat untuk mereka di sisi Allah.
Inilah yang diyakini oleh orang-orang musyrik Arab tentang tuhan-tuhan dan berhala-berhala mereka:
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak pula mendatangkan manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.'” (QS. Yunus: 18)
Demikian pula halnya dengan orang-orang Nasrani yang melakukan apa yang dikehendaki hawa nafsu mereka berupa kemungkaran, dengan keyakinan bahwa Tuhan mereka -Al-Masih- telah menebus dosa-dosa ketika ia disalib -menurut klaim mereka- dan menebus umat manusia.
6. Akibat Kemusyrikan di Akhirat
Itulah akibat kemusyrikan di dunia. Adapun di akhirat, cukuplah bahwa ia adalah dosa yang tidak akan diampuni dalam keadaan apa pun, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni apa pun di luar itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)
Tidak ada tempat kembali bagi orang musyrik kecuali neraka. Adapun surga, haram baginya untuk memasukinya. Allah berfirman:
إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ
“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 72)
Dan Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa bertemu-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, niscaya ia masuk neraka.”
Sumber: Haqiqat at-Tauhid (Hakikat Tauhid) oleh Yang Mulia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.





