Oleh: Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Pertanyaan:
Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Apakah dari ayat ini kita memahami bahwa rasa lelah dan cobaan adalah sifat dasar kehidupan?
Jawaban Syaikh:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada semulia-mulia rasul, kepada keluarga dan para sahabatnya sekalian.
Ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”, adalah ayat keempat dari Surah Al-Balad, sebuah surah Makkiyah tanpa diragukan lagi. Surah ini dimulai dengan sumpah demi negeri ini. Meskipun secara lahiriah berbentuk sumpah, namun ia menegaskan bahwa kebenarannya begitu jelas hingga tidak perlu disumpahkan. “Negeri ini” adalah Makkah Al-Mukarramah, tanah suci, yang di dalamnya terdapat Baitullah Al-Haram. Kemudian Allah bersumpah demi “bapak dan anaknya” , yang mungkin dimaksud adalah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail serta keturunannya. Adapun hal yang disumpahi adalah: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Ayat ini adalah jawaban dari sumpah sebelumnya.
Ini adalah sumpah dari Allah Ta’ala bahwa Dia menciptakan manusia dalam kesulitan, keletihan, kepayahan, dan kesusahan. Kesukaran yang terus-menerus sejak masa kanak-kanak dan seterusnya hingga kematian. Manusia senantiasa menghadapi berbagai macam kesulitan, sejak ruh ditiupkan ke dalamnya hingga saat ruh dicabut darinya, dan apa yang ada setelahnya. Dikatakan, “kabida ar-rajulu kabadan” jika hatinya sakit. Asal katanya adalah mengenai hati yang terkena penyakit, kemudian maknanya meluas hingga digunakan untuk setiap kepayahan dan kesusahan. Dari sinilah kata al-mukabadah (kesukaran) berasal.
Ayat ini merupakan penghibur bagi Rasulullah atas apa yang beliau alami dari orang-orang kafir Quraisy. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Manusia mengalami kesukaran dalam menghadapi musibah dunia dan kerasnya akhirat.” Dalam riwayat lain darinya: “Ia mengalami kesukaran dalam bersyukur atas kesenangan dan mengalami kesukaran dalam bersabar atas kesengsaraan. Karena ia tidak pernah lepas dari salah satu dari keduanya.”
Para ulama kita berkata:
“Pertama kali manusia mengalami kesukaran adalah ketika tali pusarnya dipotong.
Kemudian ketika ia dibedong dan diikat erat, ia mengalami kesukaran karena sempit dan lelah.
Kemudian ia mengalami kesukaran dalam menyusu, jika luput darinya, ia akan celaka.
Kemudian ia mengalami kesukaran dengan tumbuhnya gigi dan gerak lidahnya.
Kemudian ia mengalami kesukaran dengan masa sapih, yang lebih berat daripada tamparan.
Kemudian ia mengalami kesukaran dengan khitan, rasa sakit, dan kesedihan.
Kemudian ia mengalami kesukaran dengan gurunya dan kerasnya, dengan pendidiknya dan aturannya, serta dengan profesornya dan kewibawaannya.”
Kemudian ia mengalami kesukaran dengan urusan pernikahan dan ketergesa-gesaan di dalamnya. Kemudian ia mengalami kesukaran dengan urusan anak-anak, pembantu, dan tanggungan. Kemudian ia mengalami kesukaran dengan urusan rumah dan pembangunan istana. Kemudian masa tua dan pikun, lemah lutut dan kaki, dalam musibah yang banyak jumlahnya, dan bencana yang panjang rentetannya: sakit kepala, sakit gigi geraham, radang mata, himpitan hutang, sakit gigi, dan sakit telinga.
Ia mengalami kesukaran dengan cobaan pada harta dan jiwa, seperti dipukul dan dipenjara. Tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa ia rasakan kesulitan, dan tidak ada satu kesusahan pun yang ia alami kecuali dengan kepayahan. Kemudian kematian setelah semua itu. Kemudian pertanyaan malaikat, himpitan kubur, dan kegelapannya. Kemudian kebangkitan dan penghadapan kepada Allah, hingga akhirnya ia menetap di tempatnya, entah di surga atau neraka. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Jika urusan itu terserah kepadanya, niscaya ia tidak akan memilih kesulitan-kesulitan ini. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki Pencipta yang mengatur dirinya dan menetapkan keadaan-keadaan ini atasnya. Maka, hendaklah ia taat kepada perintah-Nya.
Semua imam, dai, dan pemberi petunjuk sangat menekankan kesukaran manusia dalam menghadapi kesusahan hidup. Seperti perkataan Ali ketika diminta menggambarkan dunia: “Apa yang akan kugambarkan kepadamu tentang negeri yang awalnya tangisan, pertengahannya kepayahan, dan akhirnya kefanaan?”
Ibnu ar-Rumi berkata menunjukkan rendahnya dunia:
مَا وَعَدَتِ الدُّنْيَا بِصُرُوفِهَا … إِلَّا وَبُكَاءُ الطِّفْلِ فِي مَوْلُودِهِ
لَوْلَا ذَاكَ مَا بَكَى عَلَيْهِ … وَالدُّنْيَا أَوْسَعُ وَأَرْفَهُ مِنْ قَبْلِهِ
“Apa yang dijanjikan dunia dengan perubahan-perubahannya,
Menjadi sebab tangisan bayi saat dilahirkan.
Jika bukan karena itu, tidaklah ia menangis karenanya,
Padahal dunia lebih luas dan lebih makmur daripada tempat sebelumnya.”
Seseorang mengomentari bait Ibnu ar-Rumi, ia berkata:
أُمُّكَ تَلِدُكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا … وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا
فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا … يَوْمَ مَمَاتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا
“Ibumu melahirkanmu, wahai anak Adam, dalam keadaan menangis,
Sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira.
Maka, berjuanglah untuk dirimu, agar kelak ketika mereka menangis
Pada hari kematianmu, engkau dalam keadaan tertawa dan gembira.”
Kita lihat Al-Qur’an Al-Karim menjelaskan kehinaan dunia yang telah memperdaya banyak akal, sehingga melalaikan mereka dari akhirat, melupakan mereka akan kedudukan Tuhan mereka, dan mempesona mereka dengan harta yang mereka belanjakan untuk hal-hal yang tidak pasti manfaatnya.
Dengan memahami ayat ini, wahai saudaraku tercinta, engkau akan menyadari bahwa dunia ini diciptakan dengan tabiat kekeruhan, penyakit, dan kepayahan. Ia tidak pernah lepas dari kesulitan. Tidak seorang pun selamat dari kekeruhan dan kepayahannya, bahkan para nabi dan rasul Allah sekalipun. Benarlah apa yang dikatakan penyair:
خُلِقَتِ الدُّنْيَا عَلَى طَبْعِ الْأَكْدَارِ … وَأَنْتَ تُرِيدُهَا
صَفْوَاءَ مِنْ أَوْصَابِهَا وَأَكْدَارِهَا
مَنْ يَتَعَنَّ الْأَيَّامَ تَتَعَنَّهُ … كَمَنْ يَطْلُبُ الْجَمْرَ فِي الْمَاءِ
“Dunia diciptakan dengan tabiat kekeruhan, sedangkan engkau menginginkannya
Bersih dari rasa sakit dan kekeruhan.
Orang yang memaksakan hari-hari melawan tabiatnya
Adalah seperti orang yang meminta bara api di dalam air.”
Akan tetapi, sikap seorang mukmin terhadap dunia sungguh menakjubkan. Dalam hal ini, Nabi bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia mendapat kesengsaraan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (H.R. Muslim dari Shuhaib)
Wallāhu a’lam.
Sumber: Al-Qaradhawi.net



