PARIS, 1 Mei 2026 — Menteri luar negeri dari 11 negara, yaitu Yordania, Spanyol, Pakistan, Brasil, Bangladesh, Turki, Afrika Selatan, Kolombia, Libya, Maladewa, dan Malaysia, pada hari Kamis (30/4) mengecam dalam istilah yang “paling keras” serangan Israel terhadap Armada Ketahanan Global. Armada ini sedang berlayar menuju Jalur Gaza untuk memecah blokade dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduknya.
Dalam sebuah pernyataan bersama yang dipublikasikan di platform X, ke-11 menteri tersebut menegaskan bahwa menargetkan kapal-kapal dan menahan aktivis kemanusiaan secara ilegal di perairan internasional merupakan “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional.”
Kekhawatiran atas Keselamatan Aktivis
Mereka menyatakan keprihatinan atas keselamatan para aktivis sipil dan menuntut pemerintah Israel mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin pembebasan segera mereka. Pernyataan bersama dari 11 negara ini mewakili kecaman diplomatik yang signifikan terhadap tindakan Israel dan muncul di tengah meningkatnya ketegangan mengenai blokade yang sedang berlangsung di Gaza.
Serangan di Perairan Internasional
Sebelumnya, radio militer Israel mengumumkan pada Kamis dini hari bahwa Angkatan Laut Israel telah melaksanakan operasi besar-besaran yang menargetkan Armada Ketahanan Global di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani—lebih dari 1.000 kilometer dari pantai Israel.
Radio tersebut melaporkan bahwa pasukan angkatan laut telah menguasai 21 kapal yang berpartisipasi dalam armada tersebut, dan mencatat bahwa operasi itu berjalan tanpa insiden luar biasa atau cedera. Radio juga mengatakan bahwa militer Israel bermaksud untuk melanjutkan operasinya melawan sisa-sisa armada jika mereka tidak mematuhi perintah untuk kembali.
Seruan untuk Bertindak
Sebaliknya, penyelenggara Armada Ketahanan menyerukan pemerintah di seluruh dunia untuk segera bertindak melindungi para peserta, dan meminta pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran hukum internasional yang mencolok. Mereka menegaskan bahwa tindakan mereka bertujuan untuk memecah blokade Israel di Jalur Gaza dan menyoroti penderitaan penduduk setempat setelah perang genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.
Sumber: Al Jazeera





