Konflik di Sudan kembali memakan korban jiwa sipil yang tragis. Serangkaian serangan yang dituduhkan kepada pasukan Rapid Support Forces (RSF) menyasar pengungsi dan konvoi bantuan kemanusiaan di dua negara bagian, menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka. Insiden ini menuai kecaman keras secara internasional sebagai pelanggaran hukum humaniter.
Menurut koordinator bantuan kemanusiaan di kota Ar Rahad, Negara Bagian North Kordofan, sebuah bus yang membawa pengungsi diserang oleh drone milik RSF. Serangan tersebut menewaskan 24 pengungsi dan melukai puluhan lainnya, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Di lokasi terpisah, sumber-sumber militer Sudan melaporkan bahwa drone RSF juga menyerang konvoi yang membawa bantuan pangan dan penumpang sipil di kota Umm Rawaba, North Kordofan. Serangan ini diklaim menewaskan 5 warga sipil. Selain itu, pangkalan udara Kenana di Negara Bagian White Nile juga dilaporkan diserang.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Dalam
Serangan terhadap akses bantuan ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah. UNICEF mengonfirmasi bahwa setidaknya 20 anak tewas di Sudan hanya pada bulan Januari 2026 saja, sebagian besar di wilayah Kordofan dan Darfur. Organisasi tersebut memperingatkan bahwa kelaparan telah terkonfirmasi di beberapa area seperti Al-Fashir (Darfur Utara) dan Kadugli (Kordofan), dengan 20 wilayah lainnya berisiko mengalami hal serupa.
Kecaman Internasional yang Meluas
Pemerintah Sudan melalui Kementerian Luar Negeri secara tegas mengutuk serangan yang mereka sebut sebagai “tindakan kriminal” dan “kejahatan perang” oleh milisi RSF, yang dinilai melanggar hukum internasional.
Kecaman juga datang dari komunitas global:
Amerika Serikat, melalui penasihat senior Presiden Donald Trump, Masad Paulus, menyatakan serangan terhadap konvoi Program Pangan Dunia (WFP) “tidak dapat diterima” dan menegaskan tidak akan mentolerir penghancuran bantuan yang didanai AS.
PBB, melalui Koordinator Kemanusiaan untuk Sudan Denise Brown, mengecam serangan terhadap konvoi bantuan yang membawa pasokan penyelamat nyawa. Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, juga menegaskan bahwa menargetkan pekerja dan operasi kemanusiaan adalah “hal yang tidak dapat diterima.”
Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF yang pecah pada April 2023 telah menciptakan salah satu krisis pengungsian terburuk di dunia, dengan puluhan ribu tewas dan sekitar 11 juta orang mengungsi. Serangan terbaru terhadap jalur bantuan ini semakin mempersulit upaya pertolongan bagi jutaan warga yang sangat membutuhkan.
Sumber: Al Jazeera





