Oleh : Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Pertanyaan: Apakah segala sesuatu yang terjadi pada manusia di dunia telah tertulis untuknya sejak awal ? kematian, rezeki, kesuksesan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia, serta apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka… Lalu, apa nilai usaha manusia? Apakah dokter dapat menyelamatkan seseorang dari kematian dalam suatu insiden? Apakah kerja keras dan kerja terus-menerus, atau pengelolaan bisnis dan pertanian yang baik, berhubungan dengan bertambahnya rezeki, ataukah rezeki itu sudah ditentukan dan diukur… terlepas dari apakah kita bekerja atau bermalas-malasan?
Jawaban Syaikh Al-Qaradhawi:
Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang telah dikenal. Tampaknya, seiring berjalannya waktu, pertanyaan ini akan tetap terlintas dalam pikiran dan diperbincangkan. Tidak perlu ada kebingungan tentang hal ini, karena Islam telah memberikan jawaban yang jelas dan memadai.
Adapun bahwa segala sesuatu di alam semesta telah tertulis dan tercatat, ini adalah pengetahuan agama yang pasti dan tidak diragukan lagi, meskipun kita tidak mengetahui cara penulisannya dan hakikat catatan tersebut. Yang kita ketahui hanyalah bahwa Allah Ta’ala menciptakan alam semesta beserta bumi, langit, benda mati, dan makhluk hidupnya sesuai dengan ketentuan azali di sisi-Nya. Dan bahwa Dia meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya serta menghitung segala sesuatu dengan jumlahnya. Segala yang terjadi di alam semesta yang luas ini terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya:
{وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ}
“Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yunus: 61).
{وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ}
“Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Al-An’am: 59).
{مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ}
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Ilmu yang meliputi segalanya, penghitungan yang teliti, dan pencatatan menyeluruh terhadap segala sesuatu dan peristiwa sebelum terjadinya, tidak bertentangan dengan usaha keras dalam bekerja dan mengambil sebab-sebab (ikhtiar):
Karena sesungguhnya, sebagaimana Allah menuliskan akibat-akibat, Dia juga menuliskan sebab-sebabnya. Sebagaimana Dia menentukan hasil-hasil, Dia juga menentukan pendahulu-pendahulunya. Dia tidak hanya menuliskan keberhasilan bagi seorang penuntut ilmu sehingga ia mencapai hasil tersebut dengan cara apa pun, tetapi Dia menuliskan keberhasilan baginya melalui sarana-sarananya:
seperti kesungguhan, ketekunan, kewaspadaan, kesadaran, kesabaran, ketabahan, dan sebab-sebab lainnya hingga akhirnya. Yang ini (sebab) telah ditentukan dan ditulis, dan yang itu (akibat) juga telah ditentukan dan ditulis.
Mengambil sebab-sebab (ikhtiar) tidak bertentangan dengan takdir, bahkan ia merupakan bagian dari takdir juga. Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang obat-obatan dan sebab-sebab yang digunakan untuk menolak hal-hal yang tidak diinginkan, apakah hal itu dapat menolak sesuatu dari takdir Allah? Jawaban beliau yang tegas adalah:
“هي من قدر الله“
“Ia (obat/sebab itu) merupakan bagian dari takdir Allah.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, dan beliau menghasankannya).
Ketika wabah menyebar di negeri Syam, Umar RA setelah bermusyawarah dengan para sahabat memutuskan untuk tidak memasuki wilayah tersebut dan kembali bersama kaum Muslimin yang menyertainya. Seseorang berkata kepadanya: “Apakah engkau lari dari takdir Allah, wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab: “Ya, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah. Bagaimana pendapatmu jika ada dua bidang tanah, satu subur dan yang lain gersang? Bukankah jika kamu menggembalakan (ternakmu) di tanah yang subur, kamu menggembalakannya dengan takdir Allah? Dan jika kamu menggembalakan (ternakmu) di tanah yang gersang, kamu menggembalakannya dengan takdir Allah juga?!”
Takdir Adalah Urusan yang Gaib dan Tersembunyi dari kita. Kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditakdirkan kecuali setelah itu terjadi. Sebelum terjadinya, kita diperintahkan untuk mengikuti sunah-sunah kauniah (hukum alam) dan petunjuk-petunjuk syar’i untuk meraih kebaikan bagi agama dan dunia kita.
Sesungguhnya, ilmu gaib itu adalah sebuah kitab yang dijaga
dari pandangan makhluk oleh Tuhan semesta alam.
Tidak tampak darinya bagi manusia melainkan
halaman demi halaman tentang keadaan masa kini.
Sunah-sunah Allah di alam semesta dan syariat-Nya mewajibkan kita untuk mengambil sebab-sebab (ikhtiar), sebagaimana yang dilakukan oleh manusia yang paling kuat imannya kepada Allah, ketetapan, dan takdir-Nya, yaitu Rasulullah ﷺ. Beliau mengambil tindakan hati-hati, menyiapkan pasukan, mengirim pengintai dan mata-mata, memakai dua baju besi, mengenakan pelindung kepala (mighfar), menempatkan pemanah di mulut celah (perbukitan), menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah, mengizinkan hijrah ke Habasyah dan Madinah, serta hijrah sendiri. Beliau juga mengambil berbagai tindakan pencegahan dalam hijrahnya…
Beliau menyiapkan kendaraan yang akan ditunggangi, pemandu yang akan menemaninya, mengubah rute perjalanan, bersembunyi di gua, mengupayakan makanan dan minuman, menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun, dan tidak menunggu rezeki turun dari langit. Kepada orang yang bertanya apakah ia harus mengikat untanya atau membiarkannya lalu bertawakal, beliau bersabda:
“Ikatlah dan bertawakallah.” (HR. Ibnu Hibban dengan sanad shahih dari Amr bin Umayyah adh-Dhamri, dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ath-Thabarani dengan sanad yang baik dengan lafal: “Ikattlah dan bertawakallah”). Beliau juga bersabda: “Larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Al-Bukhari) dan “Janganlah pemilik unta yang sakit mencampur untanya dengan unta yang sehat.” (HR. Al-Bukhari), maksudnya agar tidak menularkan penyakit.
Dengan demikian, iman kepada takdir tidak bertentangan dengan usaha, upaya, dan kesungguhan dalam meraih apa yang kita cintai serta menghindari apa yang kita benci.
Tidaklah dibenarkan bagi orang yang bermalas-malas atau pemalas untuk membebankan semua kesalahan, beban, kekeliruan, dan dosanya kepada takdir. Ini adalah bukti kelemahan dan pelarian dari tanggung jawab. Semoga Allah merahmati Dr. Muhammad Iqbal yang mengatakan: “Seorang Muslim yang lemah berdalih dengan qadha dan qadar Allah, sedangkan seorang Muslim yang kuat meyakini bahwa ia adalah qadha Allah yang tidak dapat ditolak dan qadar-Nya yang tidak dapat dikalahkan.”
Dan demikianlah keyakinan kaum Muslimin pertama:
Dalam pertempuran-pertempuran penaklukan Islam, Al-Mughirah bin Syu’bah menemui seorang panglima Romawi. Sang panglima bertanya: “Siapakah kalian?” Al-Mughirah menjawab: “Kami adalah takdir Allah, Allah menguji kalian dengan kami. Sekiranya kalian berada di awan, niscaya kami akan naik kepada kalian, atau kalian akan turun kepada kami!!”
Dan tidak selayaknya seseorang mencari alasan dengan takdir kecuali setelah ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, menghabiskan segala daya dan upayanya. Setelah itu, barulah ia dapat berkata: “Ini adalah ketetapan Allah.”
Seorang laki-laki dikalahkan oleh orang lain di hadapan Nabi ﷺ. Si yang kalah berkata:“Cukuplah Allah bagiku.”Nabi pun marah, karena melihat lahiriah perkataan ini menunjukkan keimanan, namun batinnya justru menunjukkan kelemahan. Beliau bersabda:
“إن الله يلوم على العجز، ولكن عليك بالكيس، فإذا غلبك أمر فقل حسبي الله“
“Sesungguhnya Allah mencela atas kelemahan, tetapi hendaklah engkau berusaha dengan sungguh-sungguh (alkays). Jika engkau dikalahkan oleh suatu urusan, maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al-Albani).
Buah Iman kepada Qadha dan Qadar:
Diantara buah iman kepada qadha dan qadar ketika seseorang telah mengerahkan semua yang ada dalam kemampuannya dan menanti apa yang ada di tangan Allah adalah keberanian dalam menghadapi keputusasaan, tekad dalam arena perjuangan, keberanian saat bahaya, kesabaran saat musibah, serta kerelaan dengan penghasilan yang halal meski terdapat ketimpangan dalam bagian-bagian duniawi.
Ia akan berkata saat berjuang: “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.”
Dan ia akan berkata saat peperangan:
{قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ}
“Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh’.” (QS. Ali ‘Imran: 154).
Dan ia akan berkata saat ditimpa musibah: “Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”
Dan ia akan berkata kepada penguasa yang zalim: “Engkau tidak akan dapat mendahulukan ajalku, dan engkau tidak akan dapat menghalangi rezekiku yang telah menjadi bagianku.”
Akidah takdir, jika dipahami dengan benar, mampu menciptakan dari umat kita sebuah umat yang berjuang dan teguh, yang pantas memegang kendali sejarah.
Wallahu a’lam.
Sumber : Qaradawi.net





