Dr. Yusuf Qaradhawi
Lingkup tawakal sangat luas, dan cakupannya meliputi segala sesuatu yang diminta dan diinginkan oleh manusia, baik urusan dunia maupun tuntutan agama. Namun, banyak orang ketika disebut kata “tawakal”, yang terlintas dalam pikiran mereka hanyalah “rezeki”. Mereka bertawakal kepada Allah dalam masalah rezeki, yang telah Allah jamin bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia jamin bagi setiap makhluk bergerak di bumi. Allah berfirman:
وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍۢ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan betapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat membawa rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 60)
Ketika seorang mukmin diajak untuk berinfak, ia pun berinfak dengan tenang, yakin bahwa Allah akan memberinya rezeki yang lebih baik dari apa yang telah ia infakkan. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍۢ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
“Dan apa pun yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)
Ketika Imam Al-Ghazali berbicara dalam kitabnya Minhaj al-‘Abidin tentang “penghalang-penghalang” yang dihadapi oleh para pejalan di jalan menuju Allah, ia menjadikan “rezeki” sebagai yang terdepan, dan ia gambarkan pengobatannya dengan “tawakal”.
Tidak diragukan bahwa masalah rezeki sangat penting dan menyibukkan manusia, sebagaimana masalah ajal juga menyibukkan mereka. Namun, orang-orang yang bertawakal kepada Allah telah terbebas dari dua urusan ini. Mereka yakin bahwa rezeki telah dibagi dan ajal telah ditentukan. Tidak seorang pun dapat mengurangi rezeki mereka seberat biji zarrah pun, dan tidak dapat memajukan ajal mereka sekejap pun. Ini tidak berarti mereka meninggalkan usaha untuk mencari rezeki. Mereka tetap berusaha dan bekerja keras, dengan keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang akan memakan rezeki mereka, sebagaimana mereka tidak akan memakan rezeki orang lain. Apa yang telah ditakdirkan menjadi rezeki bagi mereka pasti akan mereka dapatkan, dan apa yang tidak ditakdirkan bagi mereka pasti tidak akan mereka dapatkan.
Orang-orang Arab Jahiliyah tidak mengetahui hal ini, sehingga mereka melakukan kejahatan yang paling buruk: mereka membunuh anak-anak mereka dengan tangan mereka sendiri, seburuk-buruk pembunuhan, dengan motivasi yang paling jahat: karena kemiskinan yang sudah terjadi atau karena takut jatuh miskin di masa depan. Mereka takut anak-anak itu akan ikut makan bersama mereka dan bersaing dalam rezeki mereka. Mereka lupa bahwa rezeki anak-anak itu datang bersama mereka.
Allah berfirman dalam konteks apa yang diharamkan-Nya bagi hamba-hamba-Nya:
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَـٰدَكُم مِّنْ إِمْلَـٰقٍۢ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151)
Dan dalam surat lain:
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَـٰدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَـٰقٍۢ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًۭٔا كَبِيرًۭا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)
Islam telah membatalkan kejahatan keji ini, dan mengajarkan manusia bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki lagi Maha Kuat lagi Maha Kokoh, dan bahwa perbendaharaan-Nya penuh, tidak pernah habis:
وَلِلَّهِ خَزَآئِنُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ
“Dan milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun: 7)
Sumber: At-Tawakkal (Tawakal) oleh Yang Mulia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.





