Salah satu sifat terpenting Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah keberaniannya dalam mengambil sikap yang biasanya mendapat tentangan dari orang-orang, namun justru kebenaran berada pada pilihannya. Di antara sikap tersebut adalah: melaut dan membentuk armada laut Islam pertama, menaklukkan Tunisia, mengubah konstruksi Masjid Nabawi dari kayu menjadi batu bata, membakar berbagai bacaan Al-Qur’an yang berbeda dan mempertahankan satu bacaan, serta mengangkat generasi muda dalam kepemimpinan.
Alasan pengangkatannya terhadap generasi muda adalah karena ia mencari kompetensi meskipun usia masih muda, untuk memastikan keberlangsungan pekerjaan dalam periode yang lebih panjang, dan juga untuk memanfaatkan semangat serta tenaga generasi muda, terutama dengan seringnya terjadi jihad dan peperangan. Contoh dalam jabatan publik: pengangkatan Al-Walid bin Uqbah radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur Kufah pada usia antara tiga puluh dan empat puluh tahun; pengangkatan Sa’id bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur Kufah pada usia tiga puluh tahun; pengangkatan Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur Bashrah pada usia dua puluh empat tahun.
Juga dalam pengumpulan Al-Qur’an pada satu bacaan, kelompok yang ditugaskan Utsman radhiyallahu ‘anhu untuk menyalin Al-Qur’an semuanya dari kalangan muda. Pemimpin mereka adalah Zaid bin Tsabit Al-Khazraji radhiyallahu ‘anhu, yang ditugaskan sendirian pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk mengumpulkan Al-Qur’an, dan pada saat penyalinan di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu usianya tiga puluh enam tahun. Juga Abdullah bin Az-Zubair bin Al-Awwam Al-Asadi radhiyallahu ‘anhuma, pada usia dua puluh lima tahun; Sa’id bin Al-Ash Al-Umawi radhiyallahu ‘anhu, juga pada usia dua puluh lima tahun; dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi radhiyallahu ‘anhuma, pada usia paling banyak dua puluh lima tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih muda!
Pilihan ini mengungkapkan: kepercayaan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu terhadap pemuda muslim, keyakinannya pada kemampuan mereka, dan kebijakan Utsman radhiyallahu ‘anhu dalam memilih para pejabat dan pemimpin. Keanehan pemikiran maju ini dari seorang yang telah melewati usia tujuh puluh tahun merupakan salah satu kebaikannya yang paling mengagumkan! Perlu dicatat bahwa keempat orang ini memiliki derajat wara’, ilmu, dan zuhud yang disepakati oleh semua riwayat. Di atas itu, mereka juga memiliki keunggulan mencolok dalam hal Al-Qur’an:
Dari Suwaid bin Ghafalah Al-Ju’fi[1] berkata: “Dikatakan, ‘Siapakah orang yang paling fasih dan siapakah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara manusia?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang paling fasih adalah Sa’id bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu, dan orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an adalah Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.’ Maka beliau[2] berkata, ‘Hendaklah salah seorang dari mereka menulis dan yang lain mendiktekan.’ Maka keduanya melakukannya, dan manusia pun disatukan pada satu mushaf.”[3]
Dan Sa’id bin Abdul Aziz[4] menyebutkan bahwa kefasihan bahasa Arab Al-Qur’an ditegakkan melalui lisan Sa’id bin Al-Ash bin Sa’id bin Al-Ash bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, karena dialah yang paling mirip logatnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5]
Perlu menjadi perhatian bahwa pilihan Utsman radhiyallahu ‘anhu terhadap para pemuda ini, yang masih anak-anak kecil pada masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadi di saat masih adanya para syekh dari kalangan sahabat. Namun keunggulan mereka dalam Al-Qur’an-lah yang memberikan kedudukan agung ini. Dan ini adalah bukti kuat tentang mendahulukan kompetensi dalam peradaban Islam.[6]
Sumber: IsamStory.com
Catatan Kaki:
[1] Ia masuk Islam pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak pernah melihatnya, sehingga tidak dianggap sebagai sahabat, melainkan tabi’in. Usianya melebihi seratus dua puluh tahun.
[2] Yang berkata adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
[3] Ibnu Abu Dawud: Al-Mashahif, hlm. 96.
[4] Dari kalangan besar tabi’ut tabi’in, dan ia termasuk ulama yang terpercaya.
[5] Ibnu Abu Dawud: Al-Mashahif, hlm. 102.
[6] Untuk menonton video episode ini di YouTube, klik di sini.





