Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia kini tengah bergerak menuju kemitraan baru di bidang manufaktur pertahanan. Sebuah nota kesepahaman (MoU) diperkirakan bakal segera ditandatangani di Doha untuk memperluas skema produksi bersama sekaligus transfer teknologi.
Kesepakatan ini bakal memperkuat kerja sama pertahanan yang sudah terjalin di antara keempat negara. Langkah ini sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih erat, mulai dari sektor manufaktur, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan teknologi militer.
Presidensi Industri Pertahanan Turki (SSB) menyampaikan pada Selasa lalu bahwa kesepakatan ini menjadi tolok ukur baru dalam pendekatan diplomasi pertahanan multilateral Ankara. Lembaga tersebut menegaskan, fokus mereka kini bergeser dari yang tadinya sebatas memasok alutsista, menjadi kolaborasi produksi bersama, transfer teknologi, peningkatan interoperabilitas, serta integrasi rantai pasok.
Menurut SSB, kerja sama industri pertahanan merupakan pilar strategis dalam kebijakan luar negeri Turki. Upaya untuk memperluas produksi massal dan ekspor pun terus terpacu di bawah kepemimpinan Presiden SSB Haluk Görgün.
Pengumuman ini bertepatan dengan kunjungan resmi Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler ke Qatar pada Selasa lalu. Setibanya di Doha, Güler disambut langsung oleh Komandan Angkatan Udara Qatar Faisal bin Khalid Al Ghanim, Duta Besar Turki untuk Qatar Yakup Caymazoğlu, serta jajaran atase militer Turki.
Melonjaknya Ekspor Pertahanan Turki
Rencana kemitraan ini bergulir di tengah melesatnya industri pertahanan dan kedirgantaraan Turki yang kini menjadi salah satu penopang utama ekspor negara tersebut. Data Asosiasi Eksportir Industri Pertahanan dan Kedirgantaraan Turki mencatat, sektor ini membukukan nilai ekspor sekitar 54 miliar dolar AS sepanjang periode 2012 hingga September 2026.
Menariknya, lebih dari 30 miliar dolar AS atau melampaui 55 persen dari total angka tersebut diraih dalam kurun waktu 2023 hingga September 2026 saja. Pada tahun 2025, ekspor sektor ini melonjak 48 persen dibanding tahun sebelumnya hingga menembus angka 10 miliar dolar AS, bahkan mampu melewati threshold 11 miliar dolar AS dalam rentang 12 bulan terakhir.
Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) turut mencatat bahwa ekspor senjata Turki melonjak 122 persen dalam lima tahun terakhir. Capaian ini menempatkan Turki sebagai pemasok alutsista terbesar keenam di dunia, dengan sekitar 56 persen porsi ekspornya mengalir ke negara-negara anggota NATO.
Produksi Bersama dan Transfer Teknologi dengan Qatar
Kemitraan pertahanan Turki dan Qatar sendiri telah terbangun kuat selama beberapa tahun terakhir, mencakup armada drone bersenjata, kendaraan lapis baja, hingga peralatan angkatan laut. Sejumlah sistem alutsista buatan Turki yang telah aktif digunakan militer Qatar di antaranya adalah drone Bayraktar TB2, ranpur lapis baja, dan kapal cepat rudal.
Barzan Holdings, badan usaha di bawah Kementerian Pertahanan Qatar, juga aktif menjalin kerja sama dengan raksasa pertahanan Turki seperti Aselsan, STM, dan MKE. Salah satu wujud konkritnya adalah Barq, perusahaan patungan antara Aselsan dan Barzan Holdings yang beroperasi di Qatar. Barq kini berfokus pada perakitan, manufaktur, serta kalibrasi sistem senjata kendali jarak jauh (SARP) dan perangkat elektro-optik.
Proyek bersama di Qatar ini tak hanya memperkuat kedua negara, tetapi juga membuka peluang kolaborasi untuk menawarkan solusi industri pertahanan ke negara ketiga.
Kapal Perang untuk Pakistan, Tank Medium untuk Indonesia
Sementara itu, kerja sama pertahanan Turki dan Pakistan berfokus pada manufaktur angkatan laut, terutama lewat proyek kapal perang MILGEM. Melalui kontraktor utama ASFAT dari Turki, proyek ini menggarap empat kapal korvet kelas Babur. Dua kapal pertama dirakit di Istanbul, sedangkan dua sisanya dibangun di Galangan Kapal Karachi, Pakistan. Proyek ini juga mencakup modernisasi fasilitas galangan di Karachi serta transfer keahlian teknik pembuatan kapal kepada personel lokal.
Di sisi lain, kemitraan Turki dengan Indonesia berpusat pada pengembangan tank medium Kaplan MT (Harimau). Tank ini dirancang bersama oleh FNSS dari Turki dan PT Pindad dari Indonesia melalui kerja sama antarpemerintah. Usai pengiriman prototipe dan unit awal dari Turki, PT Pindad melanjutkan proses produksi lokal di dalam negeri melalui skema transfer teknologi.
Sumber: The New Arab





