Rasulullah ﷺ memberikan beberapa wasiat kepada kaum muslimin pada hari-hari terakhir sakitnya. Di antara wasiat tersebut adalah mengeluarkan orang-orang Yahudi dan musyrik dari Jazirah Arab. Juga wasiat untuk memelihara shalat, memelihara hak budak yang dimiliki, serta memberikan jamuan dan hadiah kepada utusan-utusan sebagaimana yang biasa dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau juga berwasiat untuk memperhatikan mimpi-mimpi yang baik, karena mimpi tersebut merupakan satu-satunya hal yang tersisa dari kenabian.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga berwasiat tentang kaum Anshar; ini merupakan isyarat yang jelas bahwa mereka tidak akan menjadi khalifah sepeninggal beliau. Di sisi lain, dalam banyak perkataan dan sikap, beliau mengisyaratkan bahwa beliau meridhai Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah setelah wafatnya.
Rasulullah ﷺ juga merahasiakan sesuatu kepada Utsman bin Affan, dan mungkin hal itu berkaitan dengan fitnah yang akan terjadi pada masa akhir pemerintahannya sebagai khalifah kaum muslimin.
Setelah berbagai isyarat tentang dekatnya ajal Rasulullah ﷺ ini, beliau kemudian menyatakan terus terang kepada putrinya, Fatimah, bahwa beliau akan wafat dalam sakitnya ini. Beliau juga mengabarkan bahwa Fatimah akan menjadi orang pertama dari keluarganya yang menyusul beliau, serta memberi kabar gembira bahwa Fatimah akan menjadi penghulu para wanita penghuni surga. Perlu dicatat bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, dan beliau adalah orang pertama dari keluarganya yang menyusul beliau, sebagaimana yang telah disabdakan.[1]
[1] Lihat: Dr. Raghib As-Sirjani, Man Huwa Muhammad, Dar at-Taqwa li ath-Thiba’ah wa an-Nasyr, Kairo, cetakan pertama, 1442 H = 2021 M, hlm. 416-417.
Sumber: IslamStory.com





