Seorang pejabat AS pada hari Senin (26/1) menyatakan bahwa Amerika Serikat meyakini pelucutan senjata Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Jalur Gaza “akan disertai dengan sejenis pengampunan bagi gerakan tersebut.” Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan keterangan dua pejabat tinggi pemerintah AS yang menyebut Hamas “sangat kooperatif dan telah memenuhi kewajibannya terkait penyerahan jenazah tawanan Israel terakhir.”
Reuters melaporkan bahwa pejabat Amerika itu berbicara kepada para wartawan dengan syarat identitasnya tidak diungkap, sehubungan dengan dipulangkannya jenazah tawanan Israel terakhir di Gaza. Pernyataan ini disampaikan di saat Israel dan Amerika Serikat terus mendesak Hamas untuk menyerahkan senjatanya sebagai bagian dari rencana rekonstruksi Gaza.
Pejabat AS itu menyatakan adanya keyakinan di kalangan pejabat Amerika bahwa Hamas akan menyerahkan senjatanya, seraya menambahkan, “Kami mendengar banyak dari anggotanya berbicara tentang meletakkan senjata. Kami yakin mereka akan melakukannya. Jika mereka tidak meletakkan senjata, mereka melanggar kesepakatan. Kami percaya peletakan senjata akan disertai dengan sejenis pengampunan.”
Pejabat AS tersebut menyebutkan adanya “program yang sangat baik” dari Washington untuk melucuti senjata Hamas.
Berdasarkan rencana Presiden AS Donald Trump yang terdiri dari 20 poin, anggota Hamas yang berkomitmen pada koeksistensi damai dan menyerahkan senjata mereka akan mendapat amnesti, begitu semua tawanan Israel dikembalikan.
Rencana tersebut juga mengatur penyediaan jalur keluar yang aman bagi anggota Hamas yang ingin meninggalkan Gaza menuju negara-negara yang bersedia menerima mereka.
Posisi Hamas
Sebaliknya, anggota Biro Politik Gerakan Hamas, Husam Badran, menegaskan dalam pernyataannya pada program “Al-Masaa” di Al Jazeera Mubasher bahwa gerakannya berkomitmen untuk menangani persoalan senjata Palestina dalam koridor batasan nasional dan hukum internasional. Ia menekankan bahwa senjata Palestina adalah hak alamiah untuk membela diri, dikelola secara internal sesuai dengan kehendak rakyat Palestina, dan bukan sebagai respons atas tuntutan pendudukan atau tekanan eksternal.
Terkait hal itu, dua pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat menyatakan bahwa AS ingin mencapai tahap rekonstruksi Gaza secepat mungkin, setelah pelucutan senjata Hamas selesai dilakukan.
Kedua pejabat AS itu memperingatkan Hamas bahwa Presiden Amerika Donald Trump “akan mengambil tindakan terhadap mereka jika ingin berulah,” menurut pernyataan mereka.
Saluran 13 Israel melaporkan bahwa Washington sedang menyusun sebuah dokumen yang memuat prinsip-prinsip untuk melucuti senjata Hamas. Dokumen tersebut dikabarkan akan segera diajukan dan mencakup batas waktu untuk proses pelucutan senjata Hamas.
Setelah pengumuman pada hari Senin (26/1) mengenai ditemukannya jenazah tawanan Israel terakhir di Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa tahap kedua dari kesepakatan Gaza bukanlah untuk rekonstruksi, melainkan untuk melucuti senjata Gerakan Hamas. Ia menekankan bahwa kepentingan Israel adalah mempercepat tahap tersebut, bukan menundanya.
Di sisi lain, seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa Menteri Hakan Fidan pada hari Senin (26/1) bertemu dengan sejumlah pejabat Gerakan Hamas di ibu kota Turki, Ankara. Mereka membahas tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza serta situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Sumber tersebut menambahkan bahwa Fidan telah memberitahukan upaya-upaya yang dilakukan Turki di berbagai forum internasional kepada para pejabat Hamas, termasuk “Dewan Perdamaian” yang diketuai oleh Presiden Amerika Serikat untuk melindungi hak-hak penduduk Gaza.
Sumber : Aljazeera.net





