GAZA – Sebuah gencatan senjata yang digambarkan PBB sebagai “vital namun rapuh” mulai meredakan penderitaan lebih dari satu juta anak di Jalur Gaza. Namun, para pejabat senior PBB memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan tetap sangat genting dan mematikan, dengan ratusan ribu nyawa masih di ujung tanduk.
Peringatan itu disampaikan oleh Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, dan Carl Skau dari Program Pangan Dunia (WFP) dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, Senin (26/1). Keduanya baru saja menyelesaikan misi penilaian selama seminggu di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Kemajuan Rapuh dan Ancaman yang Bertahan
Chaiban mengakui adanya kemajuan signifikan sejak gencatan senjata berlaku. “Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ada tanda-tanda bahwa gencatan senjata yang tidak sempurna, rapuh, namun vital, mulai membawa perubahan,” ujarnya. Lebih banyak bantuan penyelamat jiwa dapat masuk, dan ancaman kelaparan ekstrem (famine) telah berhasil dicegah.
WFP melaporkan kini dapat menjangkau lebih dari satu juta orang per bulan dengan jatah penuh dan menyajikan 400.000 makanan panas setiap hari. UNICEF telah memulihkan layanan perawatan intensif anak di Rumah Sakit Al-Shifa.
Namun, di balik kemajuan itu, krisis akut masih berlangsung:
Ancaman Kesehatan: Lebih dari 100.000 anak masih menderita kekurangan gizi akut dan memerlukan perawatan jangka panjang. Sedikitnya 10 anak dilaporkan meninggal karena hipotermia sejak musim dingin dimulai.
Krisis Tempat Tinggal: Sekitar 1,3 juta orang sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak, banyak yang bertahan di tenda atau reruntuhan di tengah cuaca buruk.
Keterbatasan Bantuan: Akses bantuan masih terhambat. Chaiban menyoroti keputusan Israel yang mencabut registrasi sejumlah LSM internasional berisiko merusak operasi kemanusiaan.
Seruan Mendesak untuk Tindakan Lebih Lanjut
Kedua pejabat PBB menekankan bahwa fase gencatan senjata saat ini bukan hanya tonggak politik, tetapi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak. Mereka menyerukan sejumlah langkah kritis:
Peningkatan Akses: Membuka semua pos penyeberangan yang tersedia secara bersamaan, termasuk koridor Rafah untuk lalu lintas dua arah, serta membuka koridor aman melalui Yordania dan Mesir.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar: Mengizinkan masuknya barang-barang penting, termasuk perlengkapan untuk air, sanitasi, dan pendidikan, yang sering tertahan karena diklasifikasikan sebagai “barang penggunaan ganda”.
Perlindungan dari Cuaca: “Membanjiri” Gaza dengan tempat penampungan yang layak untuk melindungi keluarga dari hawa dingin dan hujan.
“Seluruh populasi kini hidup di tepi jurang,” tegas Carl Skau dari WFP. “Membiarkan seluruh populasi hidup di tepi jurang sama sekali tidak dapat diterima.”
Melihat ke Depan
Chaiban juga menyebutkan pembentukan Komite Nasional untuk Pengelolaan Gaza sebagai peluang untuk meningkatkan akses dan memulai pemulihan, asalkan didukung penuh dan melibatkan keagenan rakyat Palestina.
Pesan akhirnya jelas: “Anak-anak Gaza… tidak membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan keputusan sekarang yang memberi mereka kehangatan, keamanan, makanan, pendidikan, dan masa depan.” Komunitas internasional didesak untuk bertindak sebelum kemajuan yang rapuh ini kembali terbalik.
Dilansir dari : www.aa.com





