Sebuah penyelidikan eksklusif Al Jazeera berhasil mengungkap rincian operasi pembunuhan terhadap seorang pejabat keamanan senior di Gaza, yang diarahkan langsung oleh intelijen Israel dan dilaksanakan oleh agen-agen lokal yang mereka rekrut. Investigasi ini didukung oleh bukti visual dan audio dari kamera tersembunyi yang dipakai oleh salah satu pelaku, yang kemudian ditangkap.
Operasi tersebut menyasar Ahmad Abdul Bari Zamzam, yang lebih dikenal dengan nama “Abu al-Majd”. Ia menjabat sebagai Wakil Direktur Keamanan Internal untuk Distrik Tengah Gaza dan dijuluki “Si Mekanik” oleh perwira intelijen Israel. Abu al-Majd dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab menyelidiki dan membongkar jaringan milisi lokal yang berkolaborasi dengan pasukan Israel selama dan setelah perang.
Modus Operasi: Rekrutmen, Pelatihan, dan Pembunuhan Berarahan
Berdasarkan pengakuan dan rekaman dari agen yang ditangkap, Al Jazeera merekonstruksi kronologi operasi:
Perekrutan: Dua warga Gaza direkrut oleh sebuah milisi pro-Israel yang dipimpin oleh mantan perwira Otoritas Palestina, Shawqi Abu Nuseira. Milisi ini diklaim beranggotakan sekitar 50 orang dan aktif membantu Israel dengan mengidentifikasi terowongan pejuang, menjebak target, hingga mencuri bantuan kemanusiaan.
Pelatihan di Dalam Israel: Pada 10 Desember 2025, kedua calon eksekutor dibawa melalui Pos Lintas “Kosofim” (“Abu Umar”) ke sebuah pangkalan militer Israel. Di sana, mereka dilatih menggunakan pistol “Glock“ dengan alat peredam suara.
Pelaksanaan dengan Panduan Langsung: Pada pagi hari 14 Desember 2025, mereka melakukan pembunuhan. Selama operasi, mereka dipandu langsung oleh seorang perwira Israel melalui komunikasi dua arah. Perwira tersebut menerima siaran langsung dari kamera tersembunyi yang dipasang di baju salah satu agen, sementara drone memindai area untuk memandu mereka.
Kegagalan Melarikan Diri dan Penangkapan: Setelah eksekusi, koneksi dengan perwira Israel terputus. Salah satu agen yang membawa kamera berhasil ditangkap oleh pihak keamanan Gaza, sementara rekannya melarikan diri kembali ke wilayah yang dikontrol Israel.
Bukti Visual dan Pengakuan Sang Agen
Investigasi ini mendapatkan akses ke foto dan rekaman dari kamera yang dipakai agen tersebut. Dalam rekaman, terdengar dialog perekrutan di mana mereka diperintahkan untuk “bersiap dengan senjata, makan, minum, merokok, dan siap menembak saat ada operasi.” Sebuah foto juga menunjukkan salah satu agen berada di dalam markas milisi di Sekolah Al-Azami, wilayah Al-Mazra’a, yang membuktikan bahwa mereka dapat bergerak bebas dari wilayah Israel ke dalam Gaza.
Dalam pengakuannya, agen yang ditangkap mengungkapkan berbagai tugas milisi pro-Israel, termasuk merampok truk bantuan, menjebak target yang dicari Shin Bet (badan keamanan Israel), hingga menculik dan memperlakukan mayat para syuhada dengan cara yang tidak senonoh, semuanya di bawah perlindungan pasukan dan drone Israel.
Implikasi: Perang Intelijen Tersembunyi di Gaza
Kasus ini menyoroti dimensi lain dari konflik yang terus berlangsung: pertempuran intelijen dan perang bayangan yang melibatkan perekrutan agen lokal. Operasi pembunuhan Abu al-Majd mengungkapkan metode Israel dalam menggunakan jaringan kolaborator di dalam Gaza untuk melaksanakan target eliminasi dengan presisi, sambil meminimalkan risiko bagi pasukan mereka sendiri.
Pembongkaran ini juga mempertanyakan efektivitas dan dampak dari strategi semacam itu terhadap keamanan dan stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut, di mana saling curiga dan permusuhan semakin diperdalam oleh operasi-operasi rahasia.
Sumber: Investigasi Eksklusif Al Jazeera





