Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan senantiasa ada segolongan (thā’ifah) dari umatku yang menang di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, hingga datang urusan Allah (kiamat) dan mereka dalam keadaan demikian.” (H.R. Muslim No. 1920, At-Tirmidzi No. 2229, Ibnu Majah No. 6)
Siapakah “segolongan umatku” yang dimaksud dalam hadis ini?
Imam Ali bin Al-Madini Rahimahullah berkata:
عَلَيَّ هُمْ أَهْلُ الْحَدِيثِ
“Menurutku, mereka adalah ahli hadis.” (Sunan At-Tirmidzi No. 2229)
Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata:
إِنْ لَمْ يَكُونُوا هُمْ أَهْلَ الْحَدِيثِ فَلَا أَدْرِي مَنْ هُمْ؟
“Jika mereka bukan ahli hadis, maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka?” (Imam An-Nawawi, Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, 13/76)
Al-Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:
وَإِنَّمَا أَرَادَ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَمَنْ يَعْتَقِدُ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَدِيثِ
“Maksudnya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan orang yang berkeyakinan dengan mazhab Ahli Hadis.” (Ibid)
Sementara Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, bahwa maksud golongan ini tidak terbatas pada ahli hadis saja:
قُلْتُ: وَيَحْتَمِلُ أَنَّ هَذِهِ الطَّائِفَةَ مُفَرَّقَةٌ بَيْنَ أَنْوَاعِ الْمُؤْمِنِينَ، مِنْهُمْ شُجْعَانٌ مُقَاتِلُونَ، وَمِنْهُمْ فُقَهَاءُ، وَمِنْهُمْ مُحَدِّثُونَ، وَمِنْهُمْ زُهَّادٌ، وَآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَمِنْهُمْ أَهْلُ أَنْوَاعٍ أُخْرَى مِنَ الْخَيْرِ، وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونُوا مُجْتَمِعِينَ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ مُتَفَرِّقِينَ فِي أَقْطَارِ الْأَرْضِ
“Aku (An-Nawawi) berkata: Bahwasanya kelompok ini tersebar di antara berbagai jenis orang beriman. Di antara mereka ada para pemberani dari kalangan mujahid, ada ahli fikih, ada ahli hadis, ada orang-orang zuhud, ada yang amar makruf nahi mungkar, dan ada pula pelbagai jenis kebaikan lainnya. Tidak mesti mereka berkumpul di satu tempat, tetapi boleh saja mereka berpencar di berbagai penjuru bumi.” (Ibid)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (al-ghurabā’).” (H.R. Muslim No. 145)
Siapakah al-ghurabā’ (orang-orang asing) yang dimaksud? Salah satu maknanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis lain:
الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا عِبَادَ اللَّهِ
“Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.” (H.R. Al-Qudha’i dalam Musnad Syihāb No. 1052, 1053)
Pujian Para Imam
Al-A’masy Rahimahullah berkata:
لَا أَعْلَمُ لِلَّهِ قَوْمًا أَفْضَلَ مِنْ قَوْمٍ يَطْلُبُونَ هَذَا الْحَدِيثَ وَيُحْيُونَ هَذِهِ السُّنَّةَ
“Aku tidak mengetahui bagi Allah suatu kaum yang lebih utama daripada kaum yang mencari hadis dan menghidupkan sunnah ini.” (Al-Qadhi ‘Iyadh, Al-Ilmā’, hlm. 27)
Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata:
مَا شَيْءٌ أَخْوَفَ عِنْدِي مِنَ الْحَدِيثِ، وَلَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُ لِمَنْ أَرَادَ بِهِ مَا عِنْدَ اللَّهِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih membuatku takut (kepada Allah) daripada mempelajari hadis, dan tidak ada sesuatu yang lebih utama daripadanya bagi orang yang menginginkan dengan (ilmu hadis) itu apa yang ada di sisi Allah.” (Ibid, hlm. 28)
Beliau juga berkata:
إِنَّمَا الدِّينُ بِالْآثَارِ
“Sesungguhnya agama itu adalah dengan atsar-atsar (hadis).” (Ibid, hlm. 38)
Syaikh Al-Albani mengutip sebuah syair dalam kitabnya:
أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَهْلُ النَّبِيِّ وَإِنْ … لَمْ يَصْحَبُوا نَفْسَهُ أَنْفَاسَهُ صَحِبُوا
“Ahli hadis, mereka adalah keluarga Nabi, walaupun mereka tidak bersahabat dengan dirinya, tetapi mereka bersahabat dengan napas-napasnya.” (Taḥrīmu Ālāti aṭ-Ṭarb, hlm. 69)
Wallāhu A’lam wa Lillāhil ‘Izzah.
Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah
Sumber: Alfahmu.id – Website Resmi Ustadz Farid Nu’man.


