RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,060)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (443)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Hadits

Memuliakan Tetangga

  • 17-04-2026
  • No comments
Unnamed

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (HR. Bukhari No. 6138, Muslim No. 48)

Bagaimana cara memuliakannya? Yaitu dengan berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya baik dengan lisan maupun tangan, tidak mengganggu ketenangan mereka dengan kegaduhan di rumah kita, membantu mereka jika mengalami kesulitan baik diminta maupun tidak, berbuat baik pula kepada anak-anak mereka, menutupi aib dan kekurangan mereka, memberikan makanan jika mereka kelaparan, memberikan pakaian jika mereka tidak punya, dan hal-hal semisalnya. Ini semua merupakan bukti kesempurnaan iman.

Imam Abu Walid Al-Baji Rahimahullah menjelaskan:

أَنَّ ذَلِكَ مِنْ شَرَائِعِ الْإِيمَانِ وَأَنَّ كُلَّ مُؤْمِنٍ بِاللَّهِ وَبِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ فِي الْآخِرَةِ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ هَذَا وَيَعْمَلَ بِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Sesungguhnya hal tersebut merupakan di antara aturan keimanan, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, pahala, dan siksa akhirat yang pasti akan datang kepadanya, hendaknya berkomitmen dengan hal ini dan beramal dengannya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh…'” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’, 4/334)

Apakah yang dimaksud dengan tetangga dekat dan tetangga jauh?

Ada beberapa keterangan dari para imam mufasir:

Pertama. Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menjelaskan:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني الذي بينك وبينه قرابة، { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } الذي ليس بينك وبينه قرابة

“(Tetangga dekat) yakni antara dirimu dan dirinya ada hubungan kekerabatan, (tetangga jauh) yaitu yang tidak ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengan dirinya.”

Hal seperti ini juga diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mihran, Adh-Dhahak, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, dan Qatadah. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2/298)

Kedua. Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al-Bikali:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني المسلم { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } يعني اليهودي والنصراني

“(Tetangga dekat) yakni muslim, (tetangga jauh) yakni Yahudi dan Nasrani.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)

Ketiga. Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني المرأة. وقال مُجَاهِد أيضا في قوله: { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } يعني الرفيق في السفر

“(Tetangga dekat) yakni wanita. Mujahid juga berkata tentang firman-Nya (tetangga jauh) yakni rekan dalam perjalanan.” (Ibid)

Macam-Macam Tetangga

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الجِيرانُ ثَلاثَةٌ: جَارٌ لهُ حَقٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ أَدْنَى الجيرانِ حقًّا، وجار له حقَّان، وجَارٌ له ثلاثةُ حُقُوقٍ، وَهُوَ أفضلُ الجيرانِ حقا، فأما الذي له حق واحد فجار مُشْرِكٌ لا رَحمَ لَهُ، لَهُ حق الجَوار. وأمَّا الَّذِي لَهُ حقانِ فَجَارٌ مُسْلِمٌ، له حق الإسلام وحق الْجِوارِ، وأَمَّا الَّذِي لَهُ ثَلاثةُ حُقُوقٍ، فَجَارٌ مُسْلِمٌ ذُو رَحِمٍ لَهُ حق الجوار وحق الإسلام وحَقُّ الرحِمِ

“Tetangga ada tiga macam: 1) tetangga yang memiliki satu hak, dia mendapatkan hak bertetangga saja. 2) tetangga yang memiliki dua hak. 3) tetangga yang memiliki tiga hak, dan dia memiliki hak tetangga yang paling utama. Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik, tidak ada hubungan kasih sayang dengannya, baginya hanya hak tetangga saja. Adapun yang memiliki dua hak adalah tetangga muslim, dia memiliki hak sebagai orang Islam dan hak sebagai tetangga. Adapun yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang memiliki ikatan kasih sayang, dia memiliki hak tetangga, hak Islam, dan hak saudara senasab.” (HR. Al-Bazzar dalam Musnad-nya No. 1896)

Imam Nuruddin Al-Haitsami Rahimahullah mengatakan:

رَوَاهُ الْبَزَّارُ عَنْ شَيْخِهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَارِثِيِّ وَهُوَ وَضَّاعٌ

“Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari syaikhnya, Abdullah bin Muhammad Al-Haritsi, dan dia adalah pemalsu hadits.” (Majma’ Az-Zawa’id, 8/164)

Sehingga hadis ini telah didhaifkan oleh para imam, seperti Imam Asy-Syaukani (lihat Al-Fawa’id Al-Majmu’ah fil Ahadits Al-Maudhu’ah, no. 134), Imam Al-‘Iraqi mengatakan: “Dikeluarkan oleh Al-Hasan bin Sufyan dan Al-Bazzar dalam Musnad mereka, dan Abu Syaikh dalam Ats-Tsawab, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, dari hadis Jabir, dan Ibnu ‘Adi dari Ibnu Umar, kedua jalur ini adalah dha’if.” (Lihat Takhrij Al-Ihya’, 4/498, no. 1998), Imam Muhammad Thahir Al-Hindi Al-Fatani (lihat Tadzkiratul Maudhu’at, hlm. 203) juga Syaikh Al-Albani dalam berbagai kitabnya (Dha’iful Jami’ no. 2674, As-Silsilah Adh-Dha’ifah no. 3493, dan lain-lain).

Tetangga Mana yang Lebih Diutamakan?

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga, yang manakah di antara keduanya yang mesti saya berikan hadiah?” Beliau bersabda, “Kepada yang paling dekat di antara mereka berdua pintu rumahnya darimu.” (HR. Al-Bukhari No. 2259, 2595, 6020, juga dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 108)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah telah memberikan penjelasan yang luas terhadap hadis ini, sebagai berikut:

أَيْ أَشَدّهمَا قُرْبًا . قِيلَ : الْحِكْمَة فِيهِ أَنَّ الْأَقْرَب يَرَى مَا يَدْخُل بَيْت جَاره مِنْ هَدِيَّة

“Yaitu yang paling kuat kedekatannya di antara keduanya. Dikatakan: hikmah di dalamnya adalah bahwasanya tetangga yang lebih dekat akan melihat apa-apa yang masuk ke dalam rumah tetangganya, baik berupa hadiah dan selainnya.” (Fathul Bari, 10/447)

Tentunya jika kita membawa hadiah kepada tetangga yang agak jauh dan melewati tetangga dekat, tentu ini bisa melahirkan fitnah, seperti iri hati, dengki, dan curiga dari tetangga yang dilewatinya. Paling tidak, tetangga yang lebih dekat itu akan bertanya-tanya, mengapa dirinya tidak kebagian?

Lalu Al-Hafizh melanjutkan:

وَأَنَّ الْأَقْرَب أَسْرَع إِجَارَة لِمَا يَقَع لِجَارِهِ مِنْ الْمُهِمَّات وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَات الْغَفْلَة . وَقَالَ اِبْن أَبِي جَمْرَة : الْإِهْدَاء إِلَى الْأَقْرَب مَنْدُوب ، لِأَنَّ الْهَدِيَّة فِي الْأَصْل لَيْسَتْ وَاجِبَة فَلَا يَكُون التَّرْتِيب فِيهَا وَاجِبًا . وَيُؤْخَذ مِنْ الْحَدِيث أَنَّ الْأَخْذ فِي الْعَمَل بِمَا هُوَ أَعْلَى أَوْلَى ، وَفِيهِ تَقْدِيم الْعِلْم عَلَى الْعَمَل . وَاخْتُلِفَ فِي حَدّ الْجِوَار : فَجَاءَ عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ” مَنْ سَمِعَ النِّدَاء فَهُوَ جَار ” وَقِيلَ : ” مَنْ صَلَّى مَعَك صَلَاة الصُّبْح فِي الْمَسْجِد فَهُوَ جَار ” وَعَنْ عَائِشَة ” حَدّ الْجِوَار أَرْبَعُونَ دَارًا مِنْ كُلّ جَانِب ” وَعَنْ الْأَوْزَاعِيِّ مِثْله ، وَأَخْرَجَ الْبُخَارِيّ فِي ” الْأَدَب الْمُفْرَد ” مِثْله عَنْ الْحَسَن ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ بِسَنَدٍ ضَعِيف عَنْ كَعْب بْن مَالِك مَرْفُوعًا ” أَلَّا إِنَّ أَرْبَعِينَ دَارًا جَار ” وَأَخْرَجَ اِبْن وَهْب عَنْ يُونُس عَنْ اِبْن شِهَاب ” أَرْبَعُونَ دَارًا عَنْ يَمِينه وَعَنْ يَسَاره وَمِنْ خَلْفه وَمِنْ بَيْنَ يَدَيْهِ ” وَهَذَا يَحْتَمِل كَالْأُولَى ، وَيَحْتَمِل أَنْ يُرِيد التَّوْزِيع فَيَكُون مِنْ كُلّ جَانِب عَشْرَة

“Sesungguhnya yang lebih dekat akan lebih cepat dalam memberikan bantuan ketika terjadi sesuatu pada tetangganya berupa hal-hal yang genting, apalagi pada saat-saat lengah. Ibnu Abi Jamrah mengatakan: memberikan hadiah kepada tetangga yang lebih dekat adalah mandub, karena pada dasarnya hadiah bukanlah wajib, maka tidaklah wajib memberikan hadiah berdasarkan urutan kedekatan. Mengambil pelajaran dari hadis bahwa menjalankan perbuatan yang lebih tinggi adalah lebih utama dilakukan, dan di dalamnya terdapat pengutamaan ilmu di atas amal. Telah diperselisihkan tentang batasan ketetanggaan: telah ada riwayat dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ‘Barang siapa yang mendengar panggilan azan maka dia adalah tetangga’, ada juga yang bilang ‘Barang siapa yang shalat Subuh bersamamu di masjid maka dia adalah tetangga’, dan dari ‘Aisyah ‘Batasan tetangga adalah empat puluh rumah dari setiap sisi’ dan yang seperti itu juga diriwayatkan dari Al-Auza’i. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad yang semisal itu dari Al-Hasan, dan juga dalam riwayat Ath-Thabarani dengan sanad yang dha’if dari Ka’ab bin Malik secara marfu’: ‘Ketahuilah sesungguhnya empat puluh rumah adalah tetangga’. Ibnu Wahhab meriwayatkan dari Yunus dari Ibnu Syihab ‘Empat puluh rumah dari sebelah kanannya, kirinya, belakangnya, dan di hadapannya’ dan ini penafsirannya seperti yang pertama, dan juga bermakna bahwa hendaknya pembagian itu adalah sepuluh tetangga pada setiap sisi.” (Ibid)

Perintah Memuliakan Tetangga dan Tidak Menyakiti Mereka

Banyak riwayat sahih yang memerintahkan hal ini. Kami sebutkan beberapa saja.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 121, Muslim No. 46)

Apakah makna keburukan di sini? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya hal itu, dan beliau menjawab:

غَشْمُهُ وَظُلْمُهُ

“Kesewenangannya dan kezalimannya.” (HR. Ahmad No. 3672)

Imam Al-Haitsami mengatakan: “Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, di dalamnya terdapat orang yang saya tidak mengenal mereka.” (Majma’ Az-Zawa’id, 10/522-523). Orang tersebut adalah Ash-Shabbah bin Muhammad, yakni Ibnu Abi Hazim Al-Bajali. Imam Al-Bushiri mengatakan dalam Az-Zawa’id-nya:

هَذَا ضَعِيفٌ ، الصَّبَّاحُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو حَازِمٍ الْبَجَلِيُّ الْكُوفِيُّ : مَجْهُولٌ ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ فِي طَبَقَاتِ رِجَالِ التَّهْذِيبِ , وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ : كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الثِّقَاتِ . وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ : فِي حَدِيثِهِ وَهْمٌ ، وَيَرْفَعُ الْمَوْقُوفَ

“Ini dha’if, Ash-Shabbah bin Muhammad Abu Hazim Al-Bajali Al-Kufi: majhul, Imam Adz-Dzahabi mengatakan itu dalam Thabaqat para perawi kitab At-Tahdzib. Ibnu Hibban mengatakan: dia termasuk yang meriwayatkan hadis-hadis palsu dari orang-orang yang terpercaya. Al-‘Uqaili mengatakan: pada hadisnya ada keraguan, dia memarfu’kan hadis mawquf.” (Imam Ahmad bin Abi Bakar bin Ismail Al-Bushiri, Ittihaf Al-Khairah Al-Mahrah bi Zawa’id Al-Masanid Al-‘Asyrah, 1/82)

Namun dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang bawaiq, beliau menjawab: شَرُّهُ “keburukannya”. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain No. 7299, beliau mengatakan: shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, Imam Adz-Dzahabi menyepakatinya dalam At-Talkhish)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR. Al-Bukhari No. 6018, 6136; Muslim No. 47)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي النَّارِ “، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي الْجَنَّةِ “

“Berkata seorang laki-laki, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah diceritakan sebagai seorang wanita yang banyak shalatnya, puasa, dan sedekah, hanya saja dia menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Beliau bersabda, ‘Dia di neraka.’ Laki-laki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah diceritakan sebagai wanita yang sedikit puasanya, sedekah, dan shalatnya, dia memberikan sedekah berupa keju, dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Beliau bersabda, ‘Dia di surga.'” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 119, Ahmad No. 9675. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: isnaduhu hasan)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَازَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa Jibril mewasiatkanku terhadap tetangga, sampai-sampai aku kira bahwa tetangga juga akan mendapatkan warisan.” (HR. Ahmad No. 9746, Ibnu Majah No. 3674, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 101. Semuanya shahih, sebagaimana dikatakan Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Belanja di Warung Tetangga

Belanja di warung tetangga—apalagi yang muslim—adalah bagian dari upaya mewujudkan ajaran “memuliakan tetangga”, menjaga hubungan dengan mereka, menjaga peredaran uang umat Islam, serta pemberdayaan ekonomi umat. Begitu banyak manfaat dari belanja di warung tetangga.

Kadang harga warung tetangga bisa sedikit lebih mahal dibanding kios-kios besar yang ujung-ujungnya dimiliki oleh nonmuslim. Itu sering dijadikan alasan untuk tidak berbelanja di warung mereka. Padahal perbedaan harga tidak jauh. Jika ini berlangsung lama, bukan tidak mungkin warung-warung kecil tetangga kita akan mati, karena ditinggalkan oleh tetangganya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: kios-kios besar bisa memiliki harga sedikit lebih murah karena fondasi modal mereka juga kuat, sehingga murahnya harga dan sedikitnya keuntungan per barang bukanlah masalah bagi mereka. Mereka sanggup memberikan diskon, harga promo, karena ada subsidi silang dengan keuntungan dari barang lain. Ini tentu tidak mampu dilakukan oleh warung-warung kecil tetangga.

Maka, biarlah warung tetangga sedikit lebih mahal, apalagi jika keuntungan itu digunakan untuk zakat, infak, dan sedekah, sehingga kembali kepada kemaslahatan umat. Hal ini belum tentu dilakukan oleh kios-kios besar itu.

Wallahu A’lam.

Sumber: Al-Fahmu, Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Hadist
  • memuliakan tetangga
Anda Mungkin Juga Menyukai
Arton101388
View Post
  • Fiqih
  • Hadits

Islam dan Perdagangan

Yy2
View Post
  • Hadits

DALIL-DALIL AL-MA’TSURAT Bag. 4 (Surah At-Taubah Ayat 129)

Yy2
View Post
  • Hadits

DALIL-DALIL AL-MA’TSURAT Bag. 3 (Surah Ali Imran ayat 1-2 dan Surah Thaha ayat 111-112)

Yy2
View Post
  • Hadits

Dalil-Dalil Al-Ma’tsurat (10 Ayat Pilihan Surah Al-Baqarah) Bagian 2

Yy2
View Post
  • Hadits

Dalil – Dalil Al-Ma’tsurat (Isti’adzah dan Al-Fatihah) (Bagian 1)

Bc
View Post
  • Hadits

Hadis “Islam Dimulai dalam Keadaan Asing”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.