Pertanyaan:
Di antara hadis yang populer di lisan dan tulisan adalah hadis: “Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Seberapa sahihkah hadis ini? Apa maknanya? Apakah kata “ghariban” berasal dari akar kata “al-ghurbah” atau “al-gharabah”? Saya mendengar beberapa pembicara di radio menegaskan bahwa itu berasal dari “al-gharabah dan keheranan” dan menolak bahwa itu berasal dari “al-ghurbah”. Jika itu berasal dari “al-ghurbah” seperti yang masyhur dan dipahami, apakah ini berarti kelemahan Islam dan surutnya bintangnya? Apakah ada bukti-bukti tentang kemenangan Islam kembali sebagaimana kemenangannya pada abad-abad pertama Hijriah?
Jawaban Yang Mulia Syaikh Al-Qaradhawi:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah. Wa ba’du.
Hadis ini sahih sanadnya tanpa perselisihan di kalangan para ahli hadis. Hadis ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat r.a.
Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah; Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud; Ibnu Majah dari Anas; Ath-Thabrani dari Salman, Sahl bin Sa’ad, dan Ibnu Abbas—semoga Allah meridhai mereka semua—sebagaimana dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir. Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar tanpa kalimat “maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
Dengan ini kita mengetahui bahwa kesahihan hadis tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang perlu dibahas adalah maknanya. Sangat disayangkan bahwa banyak hadis tentang “akhir zaman” atau yang disebut “hadis-hadis fitnah” dan “tanda-tanda hari Kiamat” dipahami oleh sebagian orang dengan pemahaman yang mengarah pada keputusasaan dari setiap upaya perbaikan dan perubahan.
Tidak terbayang bahwa Rasulullah ﷺ menyeru umatnya kepada keputusasaan dan putus asa, serta membiarkan kerusakan merajalela di tengah masyarakat dan kemungkaran menggerogoti tulang punggung umat, tanpa manusia melakukan sesuatu untuk meluruskan yang bengkok atau memperbaiki yang rusak! Bagaimana mungkin dibayangkan hal itu, sementara beliau ﷺ memerintahkan untuk bekerja membangun bumi hingga bumi menghembuskan nafas terakhirnya? Sebagaimana jelas dalam hadis:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika hari Kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian terdapat sebuah bibit, maka jika ia mampu untuk tidak berdiri hingga ia menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar; Al-Haitsami berkata: para perawinya terpercaya lagi kokoh)
Maknanya, ia tidak akan memakan buah dari tanamannya ini, begitu pula orang setelahnya, karena Kiamat telah tiba atau hampir tiba. Jika ini yang diminta dalam urusan dunia, maka urusan agama lebih agung dan besar, dan wajib bekerja untuknya hingga akhir hayat.
Adapun makna kata “ghariban” yang lebih tepat adalah berasal dari “al-ghurbah”, bukan dari “al-gharabah”. Buktinya adalah akhir hadis “maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ghuraba’ di sini adalah bentuk jamak dari gharib, yang dimaksud adalah orang yang memiliki sifat keterasingan, bukan keanehan.
Keterasingan mereka adalah karena keterasingan Islam yang mereka imani dan serukan. Inilah makna yang dipahami dari kata “gharib” dalam lebih dari satu hadis, seperti:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing.” (HR. Al-Bukhari)
Demikian pula sejumlah hadis dan riwayat yang memiliki tambahan dalam hadis ini, yang menggambarkan sifat “orang-orang asing”, semakin menegaskan bahwa yang dimaksud adalah keterasingan, bukan keanehan.
Selain itu, realitas saat ini dan di masa lalu menunjukkan keterasingan Islam di negerinya sendiri dan di antara penduduknya sendiri. Bahkan orang yang menyeru kepada Islam yang benar menderita penganiayaan, penyiksaan, hukuman gantung, atau pembunuhan.
Namun, apakah keterasingan ini bersifat umum, menyeluruh, dan permanen, ataukah keterasingan parsial dan sementara? Bisa jadi terjadi di negeri tertentu, tidak di negeri lain; pada zaman tertentu, tidak pada zaman lain; dan di antara kaum tertentu, tidak pada kaum lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh ahli tahqiq, Ibnu Al-Qayyim r.a.
Pendapat saya, hadis ini berbicara tentang “siklus” atau “gelombang” yang datang dan pergi. Islam mengalami apa yang dialami oleh semua seruan dan risalah, berupa kekuatan dan kelemahan, perluasan dan penyusutan, kejayaan dan kelayuan, sesuai dengan sunnah Allah yang tidak berubah. Islam, seperti lainnya, tunduk pada sunnah-sunnah ilahi ini, yang tidak memperlakukan manusia dengan dua muka dan tidak menakar untuk mereka dengan dua takaran. Apa yang berlaku pada agama-agama dan mazhab-mazhab berlaku pula pada Islam. Apa yang berlaku pada umat-umat lain berlaku pula pada umat Islam.
Hadis ini mengabarkan tentang kelemahan Islam pada suatu periode dan siklus tertentu. Namun, ia akan segera bangkit dari keterpurukannya, berdiri dari jatuhnya, dan keluar dari keterasingannya, sebagaimana yang dilakukannya pada awal mulanya.
Islam dimulai dalam keadaan asing, tetapi tidak terus-menerus asing. Ia lemah lalu menjadi kuat, bersembunyi lalu tampak, terbatas lalu menyebar, teraniaya lalu menang. Ia akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya: lemah lalu akan kuat, dikejar-kejar lalu akan tampak, terbatas lalu akan menyebar, dianiaya lalu akan menang. Tidak ada dalam hadis ini indikasi untuk berputus asa dari masa depan, jika kita memahaminya dengan baik.
Di antara bukti bahwa hadis ini tidak berarti pasrah atau putus asa, dan tidak mengajak kepada keduanya sama sekali, adalah apa yang disebutkan dalam beberapa riwayat tentang sifat “orang-orang asing” ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari Sunnah, dan menghidupkan apa yang telah dimatikan manusia darinya. Mereka adalah kaum yang positif, konstruktif, dan reformis. Mereka bukan termasuk kaum yang negatif, isolasionis, atau pasif yang membiarkan takdir berjalan begitu saja, tidak menggerakkan sesuatu yang diam, dan tidak membangunkan orang yang lalai.
Sangat bermanfaat jika saya kutip di sini apa yang ditulis oleh Imam Ibnu Al-Qayyim tentang hadis ini, ketika menjelaskan perkataan gurunya, Al-Harawi, dalam bab “Al-Ghurbah” dari kitab Manazil As-Sa’irin menuju maqam Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ia berkata rahimahullah dalam Madarij As-Salikin:
Gurunya, Syaikhul Islam, berkata: “Bab Al-Ghurbah.” Allah berfirman:
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ ٱلْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُو۟لُوا۟ بَقِيَّةٍۢ يَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْفَسَادِ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ
“Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi, kecuali sedikit di antara orang-orang yang Kami selamatkan di antara mereka?” (QS. Hud: 116)
Ibnu Al-Qayyim berkomentar dan menjelaskan: “Penggunaan ayat ini sebagai dalil dalam bab ini menunjukkan kedalamannya dalam ilmu dan pengetahuan, serta pemahamannya terhadap Al-Qur’an. Karena orang-orang yang asing di dunia adalah mereka yang memiliki sifat yang disebutkan dalam ayat ini. Merekalah yang ditunjuk oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya: ‘Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.’ Beliau ditanya, ‘Siapakah orang-orang asing itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Orang-orang yang memperbaiki ketika manusia telah rusak.'” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Ausath dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi dengan redaksi yang mirip; Al-Haitsami berkata: para perawinya adalah perawi sahih, selain Bakr bin Sulaim, dan ia adalah perawi yang terpercaya).
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Zuhair, dari ‘Amr bin Abi ‘Amr—mantan budak Al-Muththalib bin Hinthab—dari Al-Muththalib bin Hinthab, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Beruntunglah orang-orang yang asing.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang asing itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang bertambah ketika manusia berkurang.”
(Saya mencari hadis ini dalam Musnad Ahmad, tidak menemukannya. Demikian juga dalam Majma’ Az-Zawa’id karya Al-Haitsami, dan tidak disebutkan dalam Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Kutub At-Tis’ah. Bahkan saya tidak menemukan Al-Muththalib bin Hinthab termasuk sahabat yang meriwayatkan hadis dalam Musnad, menurut indeks Syaikh Al-Albani. Mungkin hadis ini gugur dari cetakan—sebagaimana saya ketahui terjadi pada ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani, yang memiliki tiga hadis dalam Musnad, namun yang tercetak hanya satu—atau mungkin Ahmad meriwayatkannya di luar Musnad. Wallahu a’lam).
Jika hadis dengan lafal ini terpelihara, maka maknanya: orang-orang yang bertambah kebaikan, iman, dan takwa ketika manusia berkurang darinya. Wallahu a’lam.
Dalam hadis Al-A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
Beliau ditanya, “Siapakah orang-orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ “Orang-orang yang keluar dari suku-suku.” (HR. Ad-Darimi no. 2757, Ibnu Majah no. 3988, Tirmidzi no. 2631 tanpa pertanyaan, dan ia berkata: hasan gharib shahih, Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd no. 208, Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah, dan ia menshahihkannya 1/118 hadis no. 64, terbitan Al-Maktab Al-Islami)
Dalam hadis Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda suatu hari ketika kami bersamanya:
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Beruntunglah orang-orang yang asing.”
Beliau ditanya, “Siapakah orang-orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَلِيلٌ فِي نَاسٍ كَثِيرٍ، الَّذِينَ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “Orang-orang saleh yang sedikit di tengah manusia yang banyak; orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka.” (HR. Ahmad, dan Syaikh Syakir menshahihkannya. Al-Haitsami meriwayatkannya 7/278, dan berkata: diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath, dan di dalamnya terdapat Ibnu Lahi’ah, yang lemah. Disebutkan juga di tempat lain sebagai bagian dari hadis, dan dinisbatkan kepada Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, dan ia berkata: hadis ini memiliki beberapa sanad, dan perawi salah satu sanadnya adalah perawi sahih 10/256)
Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Jabil, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abdullah, dari Sulaiman bin Harmaz, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ الْغُرَبَاءُ
“Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang asing.”
Beliau ditanya, “Siapakah orang-orang asing itu?” Beliau menjawab: الَّذِينَ يَفِرُّونَ بِدِينِهِمْ “Orang-orang yang lari karena agama mereka.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd, hlm. 77, tidak ada dalam Al-Musnad. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd no. 206)
Dalam hadis lain:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
Beliau ditanya, “Siapakah orang-orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا النَّاسَ “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.” (HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd dari hadits Katsir bin Abdullah bin ‘Auf, dari ayahnya, dari kakeknya, dan ia sangat lemah, no. 207. Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2632, dan ia berkata: hasan, dan dalam sebagian naskah: hasan shahih! Lafalnya: “Maka beruntunglah orang-orang yang asing, yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia setelahku dari sunnahku.” Ini adalah salah satu kritik yang dilontarkan para kritikus terhadap Tirmidzi, barangkali beliau menghasankan atau menshahihkannya karena banyaknya penguat)
Nafi’ berkata dari Malik: “Umar bin Al-Khaththab masuk masjid, lalu mendapati Mu’adz bin Jabal duduk di dekat rumah Nabi ﷺ sambil menangis. Umar berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Abdurrahman? Apakah saudaramu meninggal?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Akan tetapi aku teringat sebuah hadis yang disampaikan kepadaku oleh kekasihku ﷺ, ketika aku di masjid.’ Umar bertanya, ‘Apa itu?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tersembunyi, yang bertakwa, yang bersih, yang jika mereka tidak ada, tidak dirindukan, dan jika mereka hadir, tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera petunjuk. Mereka keluar dari setiap fitnah yang gelap gulita.'” (Hadis dengan lafal seperti ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3986, dan dinilai lemah dalam Az-Zawa’id karena ada Ibnu Lahi’ah. Al-Hakim meriwayatkannya dengan sanad lain, dan berkata: shahih dan tidak ada cacatnya, dari Zaid bin Aslam 1/4. Lihat kitab kami: Al-Muntaqa min At-Targhib wa At-Tarhib, hadis no. 19. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd dengan sanad lain, no. 197, dari Ibnu Umar)
Merekalah orang-orang asing yang terpuji dan mendapat keberuntungan. Karena jumlah mereka sangat sedikit di tengah manusia, mereka disebut “orang asing.” Mayoritas manusia tidak memiliki sifat-sifat ini. Maka Ahlul Islam di tengah manusia adalah orang asing. Orang-orang mukmin di tengah Ahlul Islam adalah orang asing. Para ulama di tengah orang-orang mukmin adalah orang asing. Dan Ahlus Sunnah—yang membedakan Sunnah dari hawa nafsu dan bid’ah—adalah orang asing di tengah mereka. Dan para penyeru kepada Sunnah, yang bersabar menghadapi gangguan orang-orang yang menentang, adalah yang paling asing di antara mereka. Namun, mereka adalah Ahlullah sejati, maka tidak ada keterasingan bagi mereka. Keterasingan mereka hanyalah di tengah mayoritas, yang Allah berfirman tentang mereka:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)
Mereka itulah orang-orang asing dari Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya. Keterasingan mereka adalah keterasingan yang mengerikan, meskipun mereka adalah orang-orang yang dikenal dan ditunjuk. Seperti yang dikatakan seorang penyair:
Bukanlah orang asing yang jauh negerinya, tetapi orang yang jauh darinya itulah yang asing.
Ketika Musa as keluar sebagai pelarian dari kaum Fir’aun, ia sampai di Madyan dalam keadaan yang disebutkan Allah: sendirian, asing, takut, lapar. Ia berkata, “Ya Rabbi, sendirian, sakit, asing.” Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Musa, orang yang sendirian adalah yang tidak memiliki-Ku sebagai teman. Orang yang sakit adalah yang tidak memiliki-Ku sebagai tabib. Dan orang yang asing adalah yang tidak ada hubungan muamalah antara-Ku dan dia.”
Maka keterasingan terbagi menjadi tiga jenis:
(1) Keterasingan Ahlullah dan Ahlus Sunnah Rasul-Nya di tengah makhluk. Inilah keterasingan yang dipuji oleh Rasulullah, yang beliau kabarkan bahwa agama yang dibawanya “dimulai dalam keadaan asing” dan “akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya,” dan bahwa “pemeluknya akan menjadi orang-orang asing.”
(2) Keterasingan ini mungkin terjadi di suatu tempat, tidak di tempat lain; pada suatu waktu, tidak pada waktu lain; dan di suatu kaum, tidak di kaum lain. Namun, Ahlul Ghurbah ini adalah Ahlullah sejati. Mereka tidak berlindung kepada selain Allah, tidak menisbatkan diri kepada selain Rasul-Nya, dan tidak menyeru kepada selain apa yang dibawanya. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan manusia ketika paling membutuhkan mereka. Ketika manusia pada hari Kiamat pergi bersama tuhan-tuhan mereka, mereka tetap di tempat mereka. Lalu dikatakan kepada mereka, “Tidakkah kalian pergi ke mana manusia pergi?” Mereka menjawab, “Kami telah meninggalkan manusia, padahal kami lebih membutuhkan mereka daripada hari ini. Sesungguhnya kami menanti Tuhan kami yang dahulu kami sembah.”
Maka keterasingan ini tidak menyebabkan rasa kesepian bagi pemiliknya. Bahkan ia paling akrab ketika manusia merasa asing, dan paling merasa asing ketika mereka merasa akrab. Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman adalah walinya, meskipun kebanyakan manusia memusuhi dan menjauhinya.
Dalam hadis Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda tentang Allah:
إِنَّ أَغْبَطَ أَوْلِيَائِي عِنْدِي لَمُؤْمِنٌ خَفِيفُ الْحَاذِ، ذُو حَظٍّ مِنَ الصَّلَاةِ، أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ، وَكَانَ كَافِفًا فِي نَفْسِهِ، غَامِضًا فِي النَّاسِ، لَا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا، وَصَبَرَ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ، عُجِّلَتْ مَنِيَّتُهُ، قَلَّ تُرَاثُهُ، قَلَّتْ بَوَاكِيهِ
“Sesungguhnya orang yang paling membuat iri di antara kekasih-Ku di sisi-Ku adalah seorang mukmin yang ringan beban hidupnya, yang memiliki bagian dari shalatnya, yang baik ibadahnya kepada Tuhannya, yang rezekinya pas-pasan, dan di samping itu ia tersembunyi di tengah manusia, tidak ditunjuk dengan jari, dan ia bersabar atas hal itu hingga bertemu Allah. Kemudian ajalnya datang segera, sedikit warisannya, sedikit yang menangisinya.” (HR. Tirmidzi dalam Az-Zuhd no. 2348, dari jalur Abdullah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim, sanadnya lemah, meskipun Tirmidzi menghasankannya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan redaksi mirip dengan sanad lain no. 4117, dan di dalamnya terdapat dua perawi lemah, seperti dalam Az-Zawa’id)
Termasuk orang-orang asing ini adalah yang disebutkan Anas dalam hadisnya dari Nabi ﷺ:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، ذِي طِمْرَيْنِ، لَا يُؤْبَهُ لَهُ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, berdebu, memakai dua kain lusuh, tidak dihiraukan, sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (Al-Haitsami meriwayatkannya dengan redaksi mirip dalam Al-Majma’ 10/264, dan berkata: diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath, dan di dalamnya terdapat Abdullah bin Musa At-Tamimi, yang telah ditsiqahkan, dan sisa perawinya adalah perawi sahih, kecuali Jabir bin Harm, yang telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban meskipun ada kelemahannya. Al-Haitsami juga meriwayatkan dengan redaksi mirip dari hadis Ibnu Mas’ud, dan sanadnya lebih baik. Dalam Sahih Muslim dari hadis Abu Hurairah: “Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, terhalang dari pintu-pintu, sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya,” hadis no. 2622)
Dalam hadis Abu Idris Al-Khaulani, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ مُلُوكِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، ذِي طِمْرَيْنِ، لَا يُؤْبَهُ لَهُ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang raja-raja penduduk surga?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Setiap orang yang lemah, kusut rambutnya, memakai dua kain lusuh, tidak dihiraukan, sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4115, dan di dalamnya terdapat Suwaid bin Abdul Aziz, mereka mendhaifkannya, namun sebagian ulama menghasankannya karena adanya penguat. Lihat: Faidh Al-Qadir, hadis no. 2852)
Al-Hasan berkata: “Orang mukmin di dunia seperti orang asing; ia tidak gelisah karena kehinaan dunia, dan tidak bersaing dalam kemuliaannya. Manusia memiliki suatu keadaan, dan ia memiliki keadaan lain. Manusia merasa aman darinya, sementara ia sendiri merasa lelah dari dirinya.”
Di antara sifat orang-orang asing ini, yang membuat mereka diberi kabar gembira oleh Nabi ﷺ, adalah: berpegang teguh pada Sunnah ketika manusia berpaling darinya; meninggalkan hal-hal yang mereka ada-adakan, meskipun itu dikenal di kalangan mereka; memurnikan tauhid, meskipun kebanyakan manusia mengingkarinya; dan tidak menisbatkan diri kepada siapa pun selain Allah dan Rasul-Nya; tidak kepada seorang syekh, tidak kepada suatu tarekat, tidak kepada suatu mazhab, tidak kepada suatu kelompok. Merekalah orang-orang yang benar-benar memegang bara api. Kebanyakan manusia—bahkan semua orang—mencela mereka. Karena keterasingan mereka di tengah manusia, mereka dianggap sebagai Ahlusy-Syudzudz dan Ahlul Bid’ah, serta orang-orang yang menyimpang dari as-sawād al-a’zham!
Makna sabda Nabi ﷺ: “Mereka adalah an-nuzzā’ min al-qabā’il” adalah bahwa Allah mengutus rasul-Nya, sementara penduduk bumi berada di atas berbagai agama yang berbeda. Di antara mereka ada penyembah berhala dan api, penyembah patung dan salib, Yahudi, Shabi’ah, dan filsuf. Islam pada awal kemunculannya asing. Dan siapa pun yang masuk Islam dan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya di antara mereka, ia menjadi asing di lingkungan, sukunya, keluarganya, dan kaum kerabatnya. Maka orang-orang yang memenuhi seruan dakwah Islam adalah an-nuzzā’ min al-qabā’il, bahkan mereka adalah individu-individu di antara mereka. Mereka menjadi asing dari suku dan kaum mereka, lalu masuk Islam. Merekalah orang-orang asing sejati hingga Islam tampak, dakwahnya menyebar, dan manusia masuk ke dalamnya secara berbondong-bondong. Maka lenyaplah keterasingan itu dari mereka. Kemudian ia mulai mengalami pengasingan dan perantauan, hingga ia kembali menjadi asing sebagaimana mulanya. Bahkan Islam yang hakiki—yang dahulu dijalankan Rasulullah dan para sahabatnya—saat ini lebih asing daripada saat awal kemunculannya, meskipun simbol-simbol dan tanda-tanda lahiriahnya masyhur dan dikenal. Islam yang hakiki sangat asing, dan pemeluknya adalah orang-orang asing yang paling asing di tengah manusia.
Bagaimana mungkin satu kelompok yang sangat sedikit dan asing di antara 73 kelompok, yang memiliki pengikut, kepemimpinan, jabatan, dan kekuasaan, tidak dapat berkembang kecuali dengan menyalahi apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ? Karena apa yang beliau bawa itu sendiri bertentangan dengan hawa nafsu dan kenikmatan mereka, serta bertentangan dengan keraguan dan bid’ah yang menjadi puncak keutamaan dan ilmu mereka, dan juga bertentangan dengan syahwat yang menjadi tujuan akhir keinginan dan cita-cita mereka.
Maka bagaimana mungkin seorang mukmin yang berjalan menuju Allah di jalan ittiba’ tidak menjadi asing di tengah-tengah mereka yang mengikuti hawa nafsu mereka, menaati syekh mereka, dan masing-masing terpesona dengan pendapatnya sendiri? Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتُمْ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ، وَدَعِ الْعَوَامَّ
“Perintahkanlah yang makruf dan cegahlah yang mungkar. Hingga apabila kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan setiap pemilik pendapat merasa kagum dengan pendapatnya sendiri; maka uruslah dirimu sendiri, dan jauhkanlah dirimu dari orang awam mereka. Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari yang penuh ujian, di mana orang yang bersabar pada masa itu seperti orang yang memegang bara api.”
Karena itu, bagi seorang muslim yang jujur di zaman ini—jika ia berpegang teguh pada agamanya—diberikan pahala seperti pahala lima puluh orang sahabat. (Ini memperkuat pendapat Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr bahwa keutamaan generasi sahabat adalah keutamaan untuk keseluruhan, bukan untuk setiap individu, kecuali para pendahulu yang pertama dari kaum Muhajirin dan Anshar, Ahlul Badr, Ahlul Uhud, Ahlul Bai’ah Ar-Ridhwan, dan siapa pun yang memiliki keutamaan khusus di antara para sahabat. Ini membuka pintu harapan bagi generasi berikutnya. Hal ini didukung oleh hadis Tirmidzi: “Perumpamaan umatku seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya lebih baik atau akhirnya.”)
Dalam Sunan Abu Dawud dan Tirmidzi, dari hadis Abu Tsa’labah Al-Khusyani, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidak akan membahayakanmu orang yang sesat jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)
Beliau bersabda:
بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ، وَدَعِ الْعَوَامَّ، فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ
“Bahkan lakukanlah amar makruf dan nahi mungkar, hingga apabila kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan setiap pemilik pendapat merasa kagum dengan pendapatnya sendiri; maka uruslah dirimu sendiri, dan tinggalkanlah orang awam mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran; bersabar pada masa itu seperti memegang bara api. Orang yang beramal pada masa itu mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh dari mereka?” Beliau menjawab: أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Pahala lima puluh dari kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Al-Malahim no. 4341, Tirmidzi dalam At-Tafsir no. 3060, dan ia berkata: hasan gharib, Ibnu Majah dalam Al-Fitan no. 4014)
Pahala yang besar ini hanyalah karena keterasingannya di tengah manusia dan karena berpegang teguh pada Sunnah di tengah kegelapan hawa nafsu dan pendapat-pendapat mereka.
Maka jika seorang mukmin, yang telah dikaruniai Allah bashirah dalam agamanya, fikih tentang sunnah Rasul-Nya, dan pemahaman tentang kitab-Nya, dan Allah perlihatkan kepadanya apa yang sedang dialami manusia berupa hawa nafsu, bid’ah, kesesatan, dan penyimpangan mereka dari shirāth al-mustaqīm yang dahulu dijalani Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Jika ia ingin menempuh jalan ini, maka hendaklah ia membiasakan dirinya terhadap cercaan orang-orang bodoh dan Ahlul Bid’ah, hinaan mereka, celaan mereka, pengusiran mereka terhadapnya, dan peringatan mereka kepada manusia untuk menjauhinya. (Di zaman kita, ada unsur yang semakin menambah keterasingan orang-orang mukmin yang menyeru kepada Allah, kitab-Nya, dan sunnah Nabi-Nya, yaitu penindasan penguasa terhadap mereka, pengejaran mereka, penggunaan segala kekuatan yang dimiliki untuk menyakiti mereka, mempersempit ruang gerak mereka, dan menyiksa mereka, hingga pembunuhan secara terang-terangan oleh peluru polisi di jalan-jalan atau di rumah-rumah, atau secara rahasia di bawah alat penyiksaan dan tanpa hukum, kemudian tipu daya kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam, yang sangat banyak jumlahnya dan sangat kuat perlengkapannya). Sebagaimana yang dilakukan nenek moyang mereka dari kalangan orang kafir terhadap pemimpin dan imam mereka. Adapun jika mereka diajak kepada kebenaran itu, dan pendapat mereka dicela, maka saat itulah kiamat bagi mereka, mereka membuat tipu daya, memasang jaring-jaring, dan mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki mereka.
Maka ia asing dalam agamanya karena rusaknya agama mereka; asing dalam berpegang teguh pada Sunnah karena mereka berpegang pada bid’ah; asing dalam keyakinannya karena rusaknya akidah mereka; asing dalam shalatnya karena buruknya shalat mereka; asing dalam jalannya karena sesat dan rusaknya jalan mereka; asing dalam penisbatannya karena berbeda dengan penisbatan mereka; asing dalam pergaulannya dengan mereka karena ia bergaul dengan mereka dengan cara yang tidak disukai oleh hawa nafsu mereka.
Singkatnya, ia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Ia tidak menemukan penolong dan pembantu dari kalangan awam. Ia adalah seorang alim di tengah orang-orang bodoh; pemilik Sunnah di tengah Ahlul Bid’ah; penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah para penyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah; penyuruh kepada yang makruf, pencegah dari yang mungkar, di tengah kaum yang makruf di sisi mereka adalah mungkar, dan yang mungkar adalah makruf. (Madārij as-Sālikīn Syarḥ Manāzil as-Sā’irīn li Ibn al-Qayyim, 1/194-200, terbitan As-Sunnah Al-Muhammadiyyah)
Sumber: Al-Qaradawi.net


