Oleh: Faridi, Lc., M.Ag. (Penulis Syarah Al-Ma’tsurat)
Dzikir 4: Ali Imran ayat 1-2
الٓمٓ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُ
“Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali Imran : 1-2)
Dzikir 5: Thaha ayat 111-112
وَعَنَتِ ٱلۡوُجُوهُ لِلۡحَيِّ ٱلۡقَيُّومِۖ وَقَدۡ خَابَ مَنۡ حَمَلَ ظُلۡمٗا وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا وَلَا هَضۡمٗا
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (Thaha : 111-112)
Dalil dan Wajhud Dilalah
Sebagaimana dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa Wazhifah Kubra (yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan Al-Ma’tsurat) berisi beberapa ayat Al-Quran dan doa-doa. Mengawali doa dengan Al-Quran adalah perkara yang dibolehkan menurut syariat. Hal ini berdasarkan keumuman hadis berikut:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلْيَسْأَلِ اللهَ بِهِ
“Siapa saja yang telah membaca Al-Quran, maka mintalah kepada Allah dengannya.” (Musnad Ahmad hadis no. 19885), Syekh Syuaib al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan li ghairih[1].
Imam Muzhhiruddin az-Zaidani mengatakan tentang hadis ini:
وَصُورَتُهُ: أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ، فَإِذَا فَرَغَ، يَدْعُو، وَيَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ، وَيَسْأَلُ مَا يَشَاءُ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ مِنْهُ أَنْ يَقُولَ: يَا رَبِّ! بِحَقِّ الْقُرْآنِ أَنْ تُعْطِيَنِي كَذَا وَكَذَا
“Contohnya adalah: seseorang membaca Al-Quran, kemudian setelah dia selesai, lalu dia berdoa dan memohon kepada Allah surga, serta meminta apa saja yang dia kehendaki baik terkait perkara agama maupun dunia, dan bisa jadi yang dimaksud dengannya adalah dengan mengatakan: “Wahai Tuhanku! Dengan hak Al-Quran, berilah aku ini dan itu.”[2]
Hal ini juga ditegaskan oleh Komisi Fatwa Yordania pada fatwa no. 928, tanggal 22 September 2010 sebagai berikut:
التَّوَسُّلُ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ هُوَ تَوَسُّلٌ بِصِفَةٍ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، وَالتَّوَسُّلُ بِصِفَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَشْرُوعٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ
“Menjadikan Al-Quran al-Karim sebagai wasilah adalah tawasul dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah Taala, dan bertawasul dengan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla disyariatkan berdasarkan kesepakatan para ulama.”[3]
Selain itu juga, bertawasul dengan membaca Surah Ali Imran dan Surah Thaha adalah bertawasul dengan amal shalih, dan hal ini juga disyariatkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Adapun pemilihan Surah Ali Imran ayat 1 dan 2 serta Surah Thaha ayat 111 dan 112 secara khusus memiliki alasan yang diterima secara syariat, yaitu karena mengandung Ismullah al-A’zham (nama Allah yang paling agung) yang jika kita berdoa dengannya maka doa-doa kita akan dikabulkan, dan Al-Ma’tsurat sebagaimana yang kita tahu berisi doa-doa. Rasulullah Saw. bersabda:
اسْمُ اللهِ الْأَعْظَمُ الَّذِي إذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ فِي سُوَرٍ ثَلَاثٍ: الْبَقَرَةِ، وَآلِ عِمْرَانَ، وَطه
“Nama Allah yang paling agung adalah nama yang jika Dia diminta dengan nama tersebut, maka Dia akan mengabulkan, yaitu pada Surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.” (Syarh Musykil al-Atsar hadis no. 176)[4]. Menurut Syekh Muhammad Dhiyaurrahman al-A’zhami, hadis ini hasan[5]. Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini shahih dalam al-Jami’ ash-Shaghir hadis no. 1031[6]. Syekh al-Albani juga mensahihkan hadis ini pada Shahih al-Jami’ ash-Shaghir hadis no. 979[7].
Di dalam riwayat Imam al-Hakim disebutkan rincian dari ketiga surah di atas, yaitu:
فَالْتَمَسْتُهَا فَوَجَدْتُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}، وَفِي سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ: {الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}، وَفِي سُورَةِ طَهَ: {وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ}
“Maka aku (al-Qasim) mencarinya dan aku menemukannya pada Surah Al-Baqarah, yaitu pada ayat Kursi {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}, pada Surah Ali Imran {الم. اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}, dan pada Surah Thaha {وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ}.” (al-Mustadrak ‘ala ash-Sahihain hadis no. 1866)[8]. Menurut Syekh Muhammad Dhiyaurrahman al-A’zhami, hadis ini hasan[9].
[1] Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal, ed. Syuaib al-Arnauth dan Adil Mursyid, cet.1. (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2001), 33/115-116.
[2] Muzhhiruddin az-Zaidani, Al-Mafatih Fi Syarh Al-Mashabih, ed. Nuruddin Thalib, cet.1. (Kuwait: Dar an-Nawadir, 2012), 3/113.
[3] Sumber : https://www.aliftaa.jo/research-fatwas/928/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA%D8%AD%D8%A9-%D8%A8%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D9%82%D8%A8%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1
[4] Abu Ja’far ath-Thahawi, Syarh Musykil Al-Atsar, cet.3. (Damaskus: Dar ar-Risalah al-’Alamiyyah, 2010), 1/162.
[5] Muhammad Dhiyaurrahman al-A’zhami, Al-Jami’ Al-Kamil Fi Al-Hadits Ash-Shahih Asy-Syamil, cet.1. (Riyadh: Dar as-Salam li an-Nasyr wa at-tauzi’, 2016), 9/493.
[6] Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir Fi Ahadits Al-Basyir an-Nadzir, cet.2. (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2004), hal. 68.
[7] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (Beirut: al-Maktab al-Islami, t.t.), 1/228.
[8] al-Hakim, Al-Mustadrak ’ala Ash-Shahihain, 1/686.
[9] al-A’zhami, Al-Jami’ Al-Kamil Fi Al-Hadits Ash-Shahih Asy-Syamil, 9/493.


