Oleh: Faridi, Lc., M.Ag. (Penulis Buku Syarah Al-Ma’tsurat)
Dzikir 1: Isti’adzah
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ اْلعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Aku berlindung kepada Allah yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari setan yang terkutuk
Dalil dan Wajhud Dilalah
Karena Wazhifah[1] Kubra ini diawali dengan ayat-ayat Al-Quran, maka kita disunahkan untuk membaca isti’adzah sebelum membacanya. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala berikut:
فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ
“Maka apabila engkau hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl : 98).
Para ulama berbeda pendapat terkait bentuk lafaz isti’adzah yang paling utama. Imam Alauddin al-Khazin mengatakan:
الْمُخْتَارُ مِنْ لَفْظِ الِاسْتِعَاذَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لِمُوَافَقَةِ قَوْلِهِ تَعَالَى: فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَلِحَدِيثِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ. وَقَالَ أَحْمَدُ: الْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، جَمْعًا بَيْنَ هَذِهِ الْآيَةِ وَبَيْنَ قَوْلِهِ تَعَالَى: فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَلِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ. وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ: الْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
“Pendapat yang terpilih mengenai lafazh isti‘adzah menurut asy-Syafi‘i adalah “A‘udzu billahi minasy syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah karena sesuai dengan firman Allah Taala: “Maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (An-Nahl: 98), serta sesuai dengan hadits Jubair bin Muth‘im. Sedangkan Ahmad mengatakan: Yang lebih utama adalah mengucapkan: ” A‘udzu billahis sami’il ‘alimi minasy syaithanir rajim ” (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk), dengan menggabungkan antara ayat tersebut dengan firman Allah: “Maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Fushshilat: 36), dan juga berdasarkan hadits Abu Sa‘id. Adapun ats-Tsauri dan al-Auza‘i mengatakan, “Yang lebih utama adalah mengucapkan “A‘udzu billahi minasy syaithanir rajim, innallaha huwas sami’ul ‘alim” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).”[2]
Dzikir 2: Surah Al-Fatihah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ. ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ. إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ. ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ. صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah : 1-7)
Dalil dan Wajhud Dilalah
Wazhifah Kubra ini selain berisi ayat-ayat Al-Quran, ia juga berisi doa-doa yang datang dari Rasulullah Saw. Mengawali doa dengan Al-Fatihah adalah perkara yang masyru’ (dibenarkan oleh syariat). Darul Ifta Mesir pada fatwa no. 6415 tanggal 08 Januari 2018 menyebutkan kebolehan membaca Al-Fatihah sebagai pembuka doa. Berikut isi fatwanya:
قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ فِي اسْتِفْتَاحِ الدُّعَاءِ أَوِ اخْتِتَامِهِ أَمْرٌ مَشْرُوعٌ بِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَكَاثِرَةِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى خُصُوصِيَّةِ الْفَاتِحَةِ فِي إِنْجَاحِ الْمَقَاصِدِ وَتَيْسِيرِ الْأُمُورِ
“Membaca Al-Fatihah untuk membuka doa atau menutupnya adalah perkara yang disyariatkan sesuai dengan keumuman dalil-dalil syar’i yang banyak yang menunjukkan kekhususan Al-Fatihah untuk mencapai berbagai tujuan dan mempermudah segala urusan.”[3]
Pemilihan Surah Al-Fatihah secara khusus dikuatkan dengan beberapa hadis, di antaranya adalah hadis berikut ini:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ؛ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: ﴿الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿مَــــلِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي -وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي-، فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.
“Allah Taala berfirman, “Aku telah membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa saja yang dia minta.” Maka ketika seorang hamba mengucapkan {الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}, Allah Taala berfirman, “hamba-Ku telah memuji-Ku.” Ketika dia mengucapkan {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}, Allah Taala berfirman, “hamba-Ku menyanjung-Ku.” Ketika dia mengucapkan {مَـلِكِ يَوْمِ الدِّينِ}, Allah berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku -di dalam riwayat yang lain: dia telah menyerahkan urusannya kepada-Ku-” Ketika dia mengucapkan {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}, Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa saja yang dia minta.” Ketika dia mengucapkan {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}, Allah berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa saja yang dia minta.” (Shahih Muslim hadis no. 395)[4].
Ketika mengomentari hadis ini, Imam Ibnul Mabrid al-Hanbali mengatakan:
احْتَجَّ بَعْضُهُمْ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى أَنَّهُ مَا قَرَأَ أَحَدٌ الْفَاتِحَةَ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ، وَسَأَلَ حَاجَتَهُ، إِلَّا قُضِيَتْ
“Sebagian ulama berhujah dengan hadis ini bahwa tidaklah seseorang membaca Al-Fatihah agar terpenuhi hajatnya, lalu dia meminta hajatnya tersebut, melainkan pasti hajatnya akan terpenuhi.”[5]
Selain hadis di atas, ada juga hadis lain, yaitu:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ. فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ. فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi Saw., dia mendengar suara keras dari langit. Kemudian dia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini, di mana sebelumnya tidak pernah terbuka kecuali hari ini.” Lalu turunlah malaikat dari langit. Kemudian Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi di mana dia belum pernah turun ke bumi sebelumnya kecuali hari ini.” Lalu malaikat tersebut mengucapkan salam kemudian berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, kedua cahaya itu belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu: Surah Al-Fatihah dan penutup Surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari Surah Al-Fatihah dan penutup Surah Al-Baqarah melainkan (apa yang engkau minta) akan dikabulkan.” (Shahih Muslim hadis no. 806)[6].
Syekh Ibnu Allan asy-Syafi’i mengatakan tentang hadis ini:
يَجُوزُ كَوْنُهَا لِلِاسْتِعَانَةِ: أَيْ لَنْ تَقْرَأَ مُسْتَعِينًا بِحَرْفٍ: أَيْ جُمْلَةٍ (مِنْهُمَا) عَلَى قَضَاءِ غَرَضٍ لَكَ (إِلَّا أُعْطِيتَهُ) كَيْفَ لَا؟ وَالْفَاتِحَةُ هِيَ الْكَافِيَةُ
“Boleh menjadikan Al-Fatihah untuk meminta pertolongan, maksudnya tidaklah engkau meminta tolong (kepada Allah) dengan satu huruf, yaitu dengan satu kalimat dari Surah Al-Fatihah dan penutup Surah Al-Baqarah agar keinginanmu tercapai, melainkan itu akan dikabulkan. Bagaimana mungkin tidak dikabulkan? Al-Fatihah itu sesuatu yang mencukupi.”[7]
Selain alasan-alasan di atas, kita juga perlu tahu bahwa di antara adab-adab dalam berdoa adalah memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Taala. Rasulullah Saw. bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ….
“Apabila seseorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Tuhannya dan menyanjung-Nya …” (Musnad Ahmad hadis no. 23937)[8]
Imam an-Nawawi mengatakan:
أَجْمَعَ اْلعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ ابْتِدَاءِ الدُّعَاءِ بِالْحَمْدِ للهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ….
“Para ulama bersepakat tentang kesunahan memulai doa dengan pujian kepada Allah Taala dan sanjungan terhadap-Nya …”[9]
Jika kita perhatikan dengan baik maka kita akan mengetahui bahwa di dalam Al-Fatihah ini terdapat pujian kepada Allah Taala, sanjungan, dan pengagungan terhadap-Nya. Karena itulah, jika doa-doa di dalam Al-Ma’tsurat diawali dengan Al-Fatihah, maka hal itu juga tidak masalah. Sebab ini sesuai dengan keumuman hadis di atas, yaitu memulai pujian dan sanjungan kepada Allah Taala sebelum memulai doa.
Karena itulah, di zaman salaf, mengawali doa dengan Al-Fatihah juga telah dikenal. Seorang tabiin bernama Atha’, berkata:
إِذَا أَرَدْتَ حَاجَةً، فَاقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ حَتَّى تَخْتِمَهَا، تُقْضَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Apabila engkau menghendaki suatu hajat, maka bacalah Al-Fatihah hingga engkau menyelesaikannya, niscaya hajatmu akan terpenuhi insyaAllah.”[10]
Pembacaan Al-Fatihah di pagi dan petang memang tidak ada dalil yang secara khusus dan tegas menyebutkannya. Namun karena ia menyertai doa-doa yang secara tegas disebutkan dalam hadis untuk dibaca pada pagi dan petang, maka Al-Fatihah ini mengikutinya. Karena Al-Fatihah itu sebagai pembuka doa, sekaligus untuk mempermudah segala urusan dan hajat.
Lalu apakah takhshish terhadap dzikir-dzikir muthlaq (termasuk di antaranya adalah Al-Fatihah) semacam ini diperbolehkan? Imam Ibnu Taimiyah menetapkan bolehnya takhshish terhadap ibadah muthlaqah. Beliau mengatakan:
وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنَ الصَّلَاةِ أَوِ الْقِرَاءَةِ أَوِ الذِّكْرِ أَوِ الدُّعَاءِ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا
“Adapun seseorang yang merutinkan wirid pribadinya, berupa shalat, membaca (Al-Quran), dzikir atau doa di waktu pagi dan sore, awal malam, serta di waktu-waktu lainnya, maka ini adalah sunah Rasulullah Saw. dan juga sunah orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah, baik dahulu maupun sekarang.”[11]
Praktek takhshish yang dilakukan oleh Imam Ibnu Taimiyyah terhadap ibadah muthlaqah, di antaranya adalah seperti yang dikisahkan oleh muridnya, yaitu Imam Abu Hafsh al-Bazzar. Beliau mengatakan:
وَكُنْتُ أَسْمَعُ مَا يَتْلُو وَمَا يَذْكُرُ حِينَئِذٍ، فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَقْطَعُ ذَلِكَ الْوَقْتَ كُلَّهُ، أَعْنِي مِنَ الْفَجْرِ إِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ فِي تَكْرِيرِ تِلَاوَتِهَا
“Dahulu aku mendengar apa yang sedang beliau baca dan ucapkan dalam dzikir pada waktu itu, lalu aku melihatnya membaca Surah Al-Fatihah dan mengulang-ulangnya, dan beliau menghabiskan seluruh waktu tersebut -yaitu dari waktu Shubuh hingga terbit matahari- dengan mengulang-ulang membaca surah Al-Fatihah.”[12]
Pertanyaannya adalah dari manakah dalil mengkhusukan membaca Surah Al-Fatihah di antara Subuh dan matahari terbit dan dibaca berkali-kali? Memang tidak ada satu pun ulama yang mengingkari keutamaan Surah Al-Fatihah yang sangat banyak. Tapi pengkhususan waktu tersebut dan dibaca berulang-ulang datang dari mana? Inilah yang dimaksud dengan takhshish terhadap ibadah muthlaqah. Karena hadis-hadis tentang keutamaan Surah Al-Fatihah disebutkan secara muthlaq tanpa dibatasi dengan waktu dan bilangan, maka sah-sah saja untuk membacanya kapan pun dan di mana pun selama bukan di tempat najis. Wallahu a’lam.
[1] Wazhifah ini adalah nama lain untuk dzikir pagi dan petang atau ‘amal al-yaum wa al-lailah.
[2] Alauddin al-Khazin, Lubab At-Ta’wil Fi Ma’ani at-Tanzil, ed. Abdussalam Muhammad Ali Syahin, cet.1. (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2004), 1/13.
[3] Sumber: https://www.dar-alifta.org/ar/fatawa/17049/قراءة-الفاتحة-في-بداية-مجالس-الصلح-ومجالس-العلم-والفتوى#:~:text=قراءة%20سورة%20الفاتحة%20في%20بداية%20مجالس%20الصلح،%20أو%20مجالس%20العلم,يقرؤونها%20لقضاء%20الحاجات%20وحصول%20المهمات.
[4] Muslim, Shahih Muslim, ed. Muhammad Fuad Abdul Baqi (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-’Arabi, 1955), hlm. 296.
[5] Ibnul Mabrid, Al-Isti’anah Bi Al-Fatihah ’ala Najah Al-Umur, ed. Muhammad Ziyad Umar Tiklah, cet.1. (Riyadh: Maktabah al-’Ubaikan, 2001), hlm. 372.
[6] Muslim, Shahih Muslim, 1/554.
[7] Ibnu Allan ash-Shiddiqi, Dalil Al-Falihin Li Thuruq Riyadh Ash-Shalihin, ed. Khalil Ma’mun Syaiha, cet.4. (Beirut: Dar al-Ma’rifah li ath-thiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi’, 2004), 6/507.
[8] Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal, ed. Syuaib al-Arnauth dan Adil Mursyid, cet.1. (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2001), 39/363. Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.
[9] Muhyiddin an-Nawawi, Al-Adzkar, ed. Abdul Qadir al-Arnauth, cet.1. (Beirut: Dar al-Fikr li ath-Thiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1994), hlm. 117.
[10] Jalaluddin as- Suyuthi, Ad-Durr Al-Mantsur Fi at-Tafsir Bi Al-Ma’tsur (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), 1/17.
[11] Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Al-Fatawa (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd, 2004), 22/521.
[12] Abu Hafsh al-Bazzar, Al-A’lam Al-’Aliyyah Fi Manaqib Ibn Taimiyyah, ed. Ali bin Muhammad al-Imran, cet.3. (Riyadh: Dar ’Atha’at al-’Ilm, 2019), hlm. 760.


