RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,050)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Hadits

Dalil-Dalil Al-Ma’tsurat (10 Ayat Pilihan Surah Al-Baqarah) Bagian 2

  • 04-05-2026
  • No comments
Yy2

Oleh: Faridi, Lc., M.Ag. (Penulis Buku Syarah Al-Ma’tsurat)

Dzikir 3: Surah Al-Baqarah (10 Ayat Pilihan)

الٓمٓ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ. وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ. أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ.

“Alif laam miim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah : 1-5)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ. لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah : 255-257)

لِّلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَإِن تُبۡدُواْ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ أَوۡ تُخۡفُوهُ يُحَاسِبۡكُم بِهِ ٱللَّهُۖ فَيَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ. ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ. لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ.

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqarah : 284-286)

Dalil

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أَخْبَرَنا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّزَّازُ، حَدَّثَنَا سَعْدَانُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ السَّكَنِ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ نَصْرِ بْنِ طَرِيفٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ أَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَقْرَبْهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ قَرَأَهَا حِينَ يُمْسِي لَمْ يَقْرَبْهُ حَتَّى يُصْبِحَ، وَلَا يَرَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ، وَإِنْ قَرَأَهَا عَلَى مَجْنُونٍ أَفَاقَ: أَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وآيتَيْنِ بَعْدَهَا، وَثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا

“Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Bisyran, telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far ar-Razzaz, telah menceritakan kepada kami Sa’dan bin Nashr, telah menceritakan kepada kami Yahya bin as-Sakan, dari Abu Awanah Nashr bin Tharif, dari Ashim, dari asy-Sya’bi, dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata, “Siapa saja yang membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah di awal siang (pagi) maka setan tidak akan mendekatinya hingga sore, jika dia membacanya ketika sore maka setan tidak akan mendekatinya hingga pagi, dan dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak dia sukai ada pada keluarga dan hartanya. Jika dia membacakannya untuk orang gila maka orang gila tersebut akan sembuh, yaitu: empat ayat pertama dari Surah Al-Baqarah, ayat Kursi, dua ayat setelahnya, dan tiga ayat terakhir.” (Syu’ab al-Iman hadis no. 2188)[1].

Di dalam sanad hadis ini ada seorang perawi bernama Abu Awanah Nashr bin Tharif. Di sinilah yang agak membingungkan. Karena ada perawi yang dikenal dengan kuniah Abu Awanah, namun namanya adalah al-Wadhdhah bin Abdullah al-Yasykuri. Jika yang dimaksud adalah ini, maka dia meriwayatkan langsung dari Ashim bin Sulaiman al-Ahwal tanpa perantara. Ada juga perawi yang bernama Nashr bin Tharif tapi dikenal dengan kuniah Abu Juzai atau Abu Jaz’. Jika yang dimaksud adalah ini maka dia adalah perawi yang matruk[2]. Kesimpulan Dr. Abdul Ali Abdul Hamid Hamid adalah sanad hadis ini daif[3].

Meskipun hadis di atas daif, namun ada riwayat lain yang mirip dengannya, yaitu hadis berikut ini:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: مَنْ قَرَأَ أَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَآيَتَانِ بَعْدَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَثَلَاثًا مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَمْ يَقْرَبْهُ وَلَا أَهْلَهُ يَوْمَئِذٍ شَيْطَانٌ، وَلَا شَيْءٌ يَكْرَهُهُ، وَلَا يُقْرَأْنَ عَلَى مَجْنُونٍ إِلَّا أَفَاقَ.

“Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Ashim, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ashim, dari asy-Sya’bi, dari Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa saja yang membaca empat ayat pertama Surah Al-Baqarah, ayat Kursi, dua ayat setelahnya, dan tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah, niscaya setan dan sesuatu yang tidak menyenangkannya tidak akan mendekatinya dan keluarganya pada hari itu, dan tidaklah ayat-ayat tersebut dibacakan kepada orang gila kecuali dia akan sembuh.” (Musnad ad-Darimi hadis no. 3426)[4].

Sanad hadis di atas adalah Amr bin Ashim – Hammad – Ashim – asy-Sya’bi – Ibnu Mas’ud. Jika kita teliti satu per satu para perawinya maka kita akan menyimpulkan bahwa sanad hadis ini tersambung sampai ke asy-Sya’bi. Karena Amr bin Ashim adalah Amr bin Ashim bin Ubaidillah al-Wazi’. Kuniah-nya adalah Abu Utsman. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa beliau adalah perawi yang tsiqah, sementara an-Nasa’i mengatakan bahwa beliau perawi yang tidak bermasalah[5]. Beliau termasuk perawi hadis yang ada di dalam Shahih al-Bukhari, di antara hadis yang diriwayatkan olehnya adalah hadis no. 550[6], 3277[7], 4759[8] dll. Sedangkan Hammad adalah Hammad bin Salamah bin Dinar. Menurut Ibnu Ma’in, beliau tsiqah[9]. Beliau juga termasuk perawi hadis yang ada di dalam Shahih al-Bukhari, di antara hadis yang diriwayatkan olehnya adalah hadis no. 706[10], 2580[11] dll. Adapun Ashim yang dimaksud adalah Ashim bin Bahdalah atau Ashim bin Abin Najud. Beliau adalah salah seorang imam ahli qira’ah. Ahmad dan Abu Zur’ah mengatakan bahwa beliau tsiqah, sementara Ibnu Kharrasy mengatakan bahwa di dalam hadisnya ada kejanggalan. Kesimpulan Imam adz-Dzahabi adalah beliau merupakan perawi yang hasan hadisnya[12]. Asy-Sya’bi, namanya adalah Amir bin Syarahil. Beliau termasuk tabiin. Menurut Imam adz-Dzahabi, beliau meriwayatkan hadis dari banyak sahabat seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abu Musa al-Asy’ari, Usamah bin Zaid, Aisyah, Abu Hurairah dll[13]. Akan tetapi, menurut Imam ad-Daraquthni, beliau memang pernah melihat Ibnu Mas’ud, namun tidak pernah mendengar (hadis secara langsung) darinya[14]. Kesimpulannya adalah sanad hadis ini tersambung sampai ke asy-Sya’bi, namun diriwayatkan secara mursal oleh asy-Sya’bi dari Ibnu Mas’ud.

Pada riwayat yang kedua dari jalur yang sedikit berbeda dari asy-Sya’bi disebutkan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ، أَنْبَأَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: مَنْ ‌قَرَأَ ‌عَشْرَ ‌آيَاتٍ ‌مِنْ ‌سُورَةِ ‌الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ، لَمْ يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى يُصْبِحَ: أَرْبَعًا مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وَآيَتَينِ بَعْدَهَا، وَثَلَاثَ خَوَاتِيمِهَا، أَوَّلُهَا: {لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَّشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Aun, telah mengabarkan kepada kami Abul ‘Umais, dari asy-Sya’bi, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata, “Siapa saja yang membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah pada malam hari, maka setan tidak dapat memasuki rumah itu pada malam tersebut hingga pagi hari, yaitu: empat ayat pertama, ayat Kursi, dua ayat setelahnya, dan tiga ayat terakhir yang awalnya adalah

{لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَّشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}.

(Musnad ad-Darimi hadis no. 3425)[15].

Jika diteliti satu per satu maka sanad hadis ini juga tersambung sampai ke asy-Sya’bi. Karena Ja’far bin Aun adalah Ja’far bin Aun bin Ja’far bin Amr bin Huraits al-Makhzumi. Kuniah-nya adalah Abu Aun. Menurut Imam Ibnu Sa’d, beliau adalah perawi yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis[16]. Beliau termasuk perawi hadis di dalam Shahih al-Bukhari. Hadis-hadis yang melalui periwayatannya, di antaranya adalah hadis no. 45[17], 633[18], 1968[19] dll. Sedangkan Abul Umais adalah Utbah bin Abdullah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud al-Hudzali. Imam Ibnu Sa’d mengatakan tentangnya bahwa beliau adalah perawi yang tsiqah[20]. Hadis-hadis yang diriwayatkan olehnya di dalam Shahih al-Bukhari sama dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Aun. Sehingga sanad hadis ini juga bisa disimpulkan tersambung sampai ke asy-Sya’bi. Namun, asy-Sya’bi meriwayatkannya secara mursal dari Ibnu Mas’ud.

Jika ada pertanyaan, “Apakah hadis yang diriwayatkan secara mursal oleh asy-Sya’bi dari Ibnu Mas’ud semacam ini bisa dijadikan hujah atau bisa diamalkan?” Di sini para ulama berbeda pendapat. Imam an-Nawawi mengatakan:

(وَالْمُرْسَلُ فِي أَصْلِ قَوْلِنَا وَقَوْلِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْأَخْبَارِ لَيْسَ بِحُجَّةٍ) ‌هَذَا ‌الَّذِي ‌قَالَهُ ‌هُوَ ‌الْمَعْرُوفُ ‌مِنْ ‌مَذَاهِبِ ‌الْمُحَدِّثِينَ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ إِلَى جَوَازِ الِاحْتِجَاجِ بِالْمُرْسَلِ

“(Dan hadis mursal, menurut pendapat asal dalam madhab kami dan pendapat ahli ilmu dalam bidang hadis, bukan merupakan hujah), pernyataan ini adalah pendapat yang dikenal dalam madhab para ahli hadis. Ini juga merupakan pendapat asy-Syafi’i dan sekelompok ahli fikih. Sementara itu, Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, dan mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa hadis mursal boleh dijadikan hujah.”[21]

Menurut penulis, tidak ada masalah untuk mengamalkan hadis ini, karena alasan-alasan berikut:

  1. Hadis ini sanadnya shahih sampai ke Imam asy-Sya’bi sebagaimana sudah dijelaskan di atas.
  2. Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan Malik yang mengatakan bahwa hadis mursal bisa dijadikan hujah memberikan syarat, yaitu: perawi yang meriwayatkan hadis secara mursal adalah orang yang tsiqah, dan dia tidak akan meriwayatkan secara mursal kecuali dari perawi yang tsiqah juga[22]. Syarat ini ada pada Imam asy-Sya’bi. Beliau adalah orang yang tsiqah, masyhur, dan fakih[23]. Syekh Abdurrahman al-Mubarakfuri menempatkan beliau di level tabiin besar[24]. Sedangkan Syekh Abdullah al-Judai’ menggolongkannya ke level tabiin pertengahan yang hadis-hadis mursalnya baik, ditulis, dan dijadikan i’tibar (pendukung bagi hadis lain)[25]. Imam al-Ijli juga mengatakan:

مُرْسَلُ ‌الشَّعْبِيّ ‌صَحِيحٌ لَا يَكَادُ يُرْسِلُ إِلَّا صَحِيحًا

“Hadis mursal dari asy-Sya‘bi itu shahih, hampir tidak pernah dia meriwayatkan secara mursal kecuali riwayat yang shahih.”[26]

  1. Ada hadis mursal lain dari tabiin lain yang menguatkan tentang keutamaan sepuluh ayat pilihan dari Surah Al-Baqarah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani ketika mengomentari hadis di atas mengatakan:

وَقَدْ أَخْرَجَهُ الدَّارِمِيُّ أَيْضًا بِسَنَدٍ مَوْصُولٍ إِلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ سُبَيْعٍ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، فَذَكَرَ نَحْوَهُ. وَمِثْلُهُ لَا يُقَالُ مِنْ قِبَلِ الرَّأْيِ، فَلَهُ حُكْمُ الْمَرْفُوعِ.

“Ad-Darimi juga telah meriwayatkannya dengan sanad yang bersambung kepada al-Mughirah bin Subai’ -dan dia termasuk sahabat Abdullah bin Mas’ud- kemudian dia menyebutkan seperti itu (redaksi yang semakna). Dan perkataan seperti ini tidak mungkin diucapkan berdasarkan akal semata, maka status hukumnya sama dengan hadits marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi Saw.)“[27]

Hadis yang dimaksud oleh Imam Ibnu Hajar adalah hadis berikut:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ سُبَيْعٍ -وَكَانَ من أَصْحَابِ عَبْدِ اللَّهِ- قَالَ: مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْبَقَرَةِ عِنْدَ مَنَامِهِ، لَمْ يَنْسَ الْقُرْآنَ: أَرْبَعُ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةُ الْكُرْسِيِّ، وَآيَتَانِ بَعْدَهَا، وَثَلَاثٌ مِنْ آخِرِهَا

“Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa, dari Abul Ahwash, dari Abu Sinan, dari al-Mughirah bin Subai’ -dia termasuk murid Abdullah bin Mas’ud- berkata, “Siapa saja yang membaca sepuluh ayat dari Al-Baqarah ketika tidur maka dia tidak akan lupa dengan Al-Quran, yaitu: empat ayat pertama, ayat kursi, dua ayat setelahnya, dan tiga ayat terakhir.” (Musnad ad-Darimi hadis no. 3428)[28].

Jika ada jalur lain dari tabiin lain seperti ini, walaupun sama-sama mursal, maka Imam Syafi’i pun menerima hadis mursal tersebut[29].

  1. Menolak hadis mursal secara mutlak tanpa ada perincian adalah bidah menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari. Beliau mengatakan:

إِطْلَاقُ الْقَوْلِ بِأَنَّ الْمُرْسَلَ لَيْسَ بِحُجَّةٍ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ بِدْعَةٌ حَدَثَتْ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ

“Mengatakan bahwa hadis mursal bukanlah hujah secara mutlak tanpa dirinci adalah bidah yang terjadi setelah dua ratus tahun.”[30]

  1. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, sebetulnya tidak ada pertentangan antara manhaj ahli hadis dengan ahli fikih terkait hadis mursal. Beliau mengatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا تَنَافِيَ بَيْنَ كَلَامِ الْحُفَّاظِ وَكَلَامِ الْفُقَهَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، فَإِنَّ الْحُفَّاظَ إِنَّمَا يُرِيدُونَ صِحَّةَ الْحَدِيثِ الْمُعَيَّنِ إِذَا كَانَ مُرْسَلًا، وَهُوَ لَيْسَ بِصَحِيحٍ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ، لِانْقِطَاعِهِ وَعَدَمِ اتِّصَالِ إِسْنَادِهِ. وَأَمَّا الْفُقَهَاءُ فَمُرَادُهُمْ صِحَّةُ ذَلِكَ الْمَعْنَى الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ الْحَدِيثُ، فَإِذَا عَضَدَ ذَلِكَ الْمُرْسَلَ قَرَائِنُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ لَهُ أَصْلًا، قَوِيَ الظَّنُّ بِصِحَّةِ مَا دَلَّ عَلَيْهِ، فَاحْتَجَّ بِهِ مَعَ مَا احْتَفَّ بِهِ مِنَ الْقَرَائِن

“Ketahuilah bahwasanya tidak ada kontradiksi antara perkataan para ahli hadis dan perkataan ahli fikih dalam bab ini. Karena yang dimaksud oleh para ahli hadis adalah perihal kesahihan suatu hadis tertentu ketika statusnya mursal, dan itu adalah hadis yang tidak sahih menurut metodologi mereka karena terputus atau tidak tersambung sanadnya. Adapun yang dimaksud oleh para ahli fikih adalah perihal kesahihan makna yang ditunjukkan oleh hadis itu, dan apabila hadis mursal tersebut ditopang oleh indikator-indikator lain yang menunjukkan bahwasanya hadis tersebut memiliki asal usul yang kuat, sehingga kuatlah asumsi tentang kesahihan makna yang ditunjukkannya, maka hadis tersebut dapat dijadikan hujah apabila disertai dengan indikator-indikator tersebut.”[31]

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin memasukkan dzikir ini ke dalam kumpulan dzikir pagi dan petang pada dzikir no. 1, 2, dan 3 dengan sedikit perbedaan[32] dalam kitabnya adz-Dzikr ats-Tsamin[33].

Kemudian jika ada pertanyaan, “Mengapa 4 ayat pertama justru berhenti pada ayat (وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ), bukankah itu ayat ke-5?” Jawabannya adalah karena alif lam mim bukanlah ayat pertama menurut mayoritas ulama (selain ulama Kufah), sehingga (وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ) adalah ayat ke-4. Imam Abu Amr ad-Dani berkata:

{الــم}عَدَّهَا الكُوفِي وَلَمْ يَعُدَّهَا البَاقُونَ

“Alif Lam Mim dihitung oleh ulama Kufah sebagai satu ayat, dan tidak dihitung oleh ulama lainnya (ulama Bashrah, Syam, Makkah, dan Madinah).”[34]

Selain itu, karena maknanya akan sempurna jika berhenti di ayat (وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ). Sedangkan mushaf yang kita miliki rata-rata ditulis mengikuti riwayat Hafsh dari Ashim yang berasal dari Kufah, sehingga ayat tersebut adalah ayat ke-5.

[1] al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, 4/68.

[2] Menurut Prof. Sayyid Abdul Majid al-Ghauri maknanya adalah perawi tersebut buruk hafalannya, parah kesalahannya, kebanyakan hadisnya keliru, karena itulah para ahli hadis meninggalkannya (al-Mu’jam al-Wajiz li Alfazh al-Jarh wa at-Ta’dil, hlm. 92)

[3] al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, 4/68.

[4] Abu Muhammad ad-Darimi, Musnad Ad-Darimi, ed. Husain Salim Asad, cet.1. (Riyadh: Dar al-Mughni li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 2000), hlm. 2130.

[5] Syamsuddin adz-Dzahabi, Tarikh Al-Islam Wa Wafayat Al-Masyahir Wa Al-A’lam, ed. Basysyar Awwad Ma’ruf, cet.1. (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 2003), 5/412.

[6] al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hlm. 210.

[7] al-Bukhari, hlm. 1276.

[8] al-Bukhari, hlm. 1925.

[9] adz-Dzahabi, Tarikh Al-Islam Wa Wafayat Al-Masyahir Wa Al-A’lam, 4/342.

[10] al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hlm. 258.

[11] al-Bukhari, hlm. 973.

[12] adz-Dzahabi, Mizan Al-I’tidal Fi Naqd Al-Rijal, 2/357.

[13] Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala’, ed. Syu’aib al-Arnauth, cet.3. (Beirut: Mu’assasah rl-Risalah, 1985), 4/296.

[14] al-Muslimi dkk., Mausu’ah Aqwal Abi Al-Hasan Ad-Daraquthni Fi Rijal Al-Hadits Wa Ilalih, 2/342.

[15] ad-Darimi, Musnad Ad-Darimi, hlm. 2129.

[16] Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat Al-Kubra, ed. Muhammad Abdul Qadir Atha, cet.1. (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1990), 6/366.

[17] al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hlm. 25.

[18] al-Bukhari, hlm. 129.

[19] al-Bukhari, hlm. 694.

[20] Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat Al-Kubra, 6/366.

[21] Muslim, Shahih Muslim, 1/132.

[22] Mahmud ath-Thahhan, Taisir Musthalah Al-Hadits, cet.10. (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 2004), hlm. 89.

[23] Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisan Al-Mizan, ed. Abdul Fattah Abu Ghuddah, cet.1. (Beirut: Dar al-Basya’ir al-Islamiyyah, 2002), 7/509.

[24] Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, t.t.), 4/112.

[25] Abdullah al-Judai’, Tahrir ’Ulum Al-Hadits, cet.1. (Beirut: Mu’assasah ar-Rayyan li ath-Thiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi’, 2003), hlm. 930.

[26] Abul Hasan al-Ijli, Ma’rifah Ats-Tsiqat Min Rijal Ahl Al-’Ilm Wa Al-Hadits Wa Min Adh-Dhu’afa’ Wa Dzikr Madzahibihim Wa Akhbarihim, ed. Abdul Alim Abdul Azhim al-Bastawi, cet.1. (Madinah: Maktabah ad-Dar, 1985), 2/446.

[27] Ibnu Hajar al- Asqalani, Nata’ij Al-Afkar Fi Takhrij Ahadits Al-Adzkar, ed. Hamdi Abdul Majid as-Salafi, Cet.2. (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1996), 3/274.

[28] ad-Darimi, Musnad Ad-Darimi, hlm. 2131.

[29] Ibnu Katsir, Al-Ba’its Al-Hatsits Ila Ikhtishar ’Ulum Al-Hadits, ed. Ahmad Muhammad Syakir, cet.2. (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, t.t.), hlm. 49.

[30] Ibnu Rajab al-Hanbali, Syarh ’Ilal at-Tirmidzi, ed. Hammam Abdurrahim Sa’id, cet.1. (Zarqa: Maktabah al-Mannar, 1987), hlm 544.

[31] al-Hanbali, Syarh ’Ilal at-Tirmidzi, hlm. 188.

[32] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Adz-Dzikr Ats-Tsamin (al-Maktabah asy-Syamilah, t.t.), hlm. 5.

[33] Menurut Muhaqqiq kitab ini, beliau mendapatkannya dalam bentuk tulisan tangan dari muadzin Syekh Utsaimin di Masjid Jami’ Unaizah yang bernama Syekh Abdurrahman bin Muhammad ar-Rayyis (adz-Dzikr ats-Tsamin, hlm. 1).

[34] Abu Amr ad-Dani, Al-Bayan Fi ’Add Ay Al-Qur’an, ed. Ghanim Qaduri al-Hamd, cet.1. (Kuwait: Markaz al-Makhthuthat wa at-Turats, 1994), hal. 140.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • al-ma'tsurat
Anda Mungkin Juga Menyukai
Arton101388
View Post
  • Fiqih
  • Hadits

Islam dan Perdagangan

Yy2
View Post
  • Hadits

DALIL-DALIL AL-MA’TSURAT Bag. 4 (Surah At-Taubah Ayat 129)

Yy2
View Post
  • Hadits

DALIL-DALIL AL-MA’TSURAT Bag. 3 (Surah Ali Imran ayat 1-2 dan Surah Thaha ayat 111-112)

Yy2
View Post
  • Hadits

Dalil – Dalil Al-Ma’tsurat (Isti’adzah dan Al-Fatihah) (Bagian 1)

Unnamed
View Post
  • Hadits

Memuliakan Tetangga

Bc
View Post
  • Hadits

Hadis “Islam Dimulai dalam Keadaan Asing”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 3d5q5pf4prwg8cws04 800xauto 1
    • Al-Qur'an
    • Wasathiyah
    Nilai-Nilai Pendidikan yang Digali dari Kisah-Kisah Surat Al-Kahf dan Pengaruhnya dalam Mempersiapkan Pemimpin serta Kebangkitan Umat Islam (Bagian 1)
    • 19.05.26
  • Hands 2
    • Akhlak
    Tolong-Menolong, Saling Membela, dan Saling Mengasihi
    • 19.05.26
  • 5854684 3
    • Akhbar Dauliyah
    Al-Qassam Ungkap Identitas Pelaku Upaya Penangkapan Tentara Israel di Timur Khan Younis
    • 19.05.26
  • 12sdf21 1779091900 e1779091918502 4
    • Akhbar Dauliyah
    Pertarungan Narasi: Washington Hukum Armada Ketahanan dan Buru Ikhwanul Muslimin
    • 20.05.26
  • تركواز بوست المال 5
    • Akhlak
    Cinta Harta, Kedudukan, dan Jabatan
    • 20.05.26
  • 3e05e8f8 8637 4538 a083 2655c172f41a(4) 6
    • Tokoh Islam
    • Wasathiyah
    Mendengarkan Syekh Al-Banna
    • 20.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.