WASHINGTON, 23 Februari 2026 — Mike Huckabee, duta besar Amerika Serikat untuk Israel, kembali mengguncang publik dengan pernyataan kontroversial yang menegaskan visinya tentang “Tanah Perjanjian” yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Pernyataan yang disampaikan dalam wawancara panjang dengan pembawa acara konservatif Tucker Carlson ini memicu gelombang kritik dan mengungkap kedalaman pengaruh teologi Kristen Zionis dalam kebijakan luar negeri AS.
Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 160 menit itu, Huckabee dengan tegas menyatakan bahwa wilayah yang kini diduduki Israel adalah “tanah yang diberikan Tuhan melalui Ibrahim kepada umat pilihan-Nya.” Ketika Carlson mengutip teks Perjanjian Lama tentang batas tanah Israel dari Sungai Nil hingga Eufrat, Huckabee menjawab, “Akan sangat baik jika mereka mengambil semuanya.”
Dari Teologi ke Politik: Perjalanan Lima Dekade Huckabee
Perjalanan Huckabee bersama Israel dimulai saat ia berusia 17 tahun. Sejak itu, ia telah mengunjungi Israel lebih dari 100 kali, banyak di antaranya sebagai pemimpin rombongan ziarah evangelis melalui perusahaan perjalanannya, Blue Diamond Travel. Ratusan ribu orang Amerika telah dibawanya ke wilayah pendudukan dalam perjalanan yang memadukan ibadah dan advokasi politik.
Selama lima dekade, Huckabee telah memosisikan dirinya di sayap paling kanan, bahkan melebihi banyak politisi Israel sendiri, dalam menolak hak-hak Palestina. Ia secara terang-terangan menolak solusi dua negara dan bahkan mengusulkan alternatif yang lebih radikal: mendirikan negara Palestina di “negara-negara Muslim lainnya” — sebuah gagasan yang selaras dengan visi paling ekstrem dari gerakan Zionis. Puncaknya, ia pernah menyatakan secara gamblang bahwa “tidak ada yang namanya orang Palestina,” sebuah upaya untuk menghapus identitas nasional Palestina demi agenda teologisnya yang kaku.
Wawancara yang Mengguncang: Antara Genetika dan Arkeologi
Saat wawancara memanas, Carlson menjebak Huckabee dengan pertanyaan mendasar: jika ilmu pengetahuan membuktikan bahwa orang Palestina memiliki hubungan genetika dengan tanah itu yang lebih tua daripada para imigran Eropa, lalu bagaimana? Huckabee dengan tegas menolak argumen genetika. Baginya, referensi yang menentukan bukanlah analisis DNA, melainkan “arkeologi” dan ikatan agama dengan tanah. Ia mengulang ungkapan favoritnya: “Batu-batu itu berteriak,” merujuk pada temuan arkeologi yang dianggapnya sebagai “satu-satunya sertifikat kepemilikan” yang layak diakui.
Carlson kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih tajam: Apakah Huckabee bekerja terutama untuk kepentingan Amerika, atau untuk mewujudkan apa yang dianggapnya sebagai janji Tuhan kepada orang-orang Yahudi? Pertanyaan ini menggarisbawahi kekhawatiran yang meluas tentang konflik kepentingan antara diplomasi dan keyakinan pribadi yang sangat kuat.
Dari Holocaust hingga “Suara Ilahi” untuk Menyerang Iran
Pandangan Huckabee yang terdistorsi oleh teologi juga tercermin dalam sikapnya terhadap Iran. Pada 2015, saat mencalonkan diri sebagai presiden, ia mengecam kesepakatan nuklir dengan mengatakan bahwa itu akan “membawa Israel ke pintu oven” — sebuah referensi mengerikan ke Holocaust.
Setelah diangkat menjadi duta besar pada Mei 2025, saat Israel melancarkan perang genosida di Gaza, Huckabee tanpa syarat membela tindakan Israel, bahkan mengklaim bahwa apa yang dilakukan Israel “lebih mengerikan dan lebih disengaja daripada Holocaust.” Pada Juni 2025, ia mendesak Presiden Trump untuk mendengarkan “suara ilahi” dalam memutuskan untuk menyerang Iran, menyamakannya dengan keputusan Presiden Harry Truman menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Implikasi: Ketika Diplomasi Bertemu Eskatologi
Wawancara ini bukan sekadar pertengkaran politik. Ini adalah jendela menuju cara berpikir seorang tokoh yang memegang posisi diplomatik puncak. Huckabee tidak melihat dirinya sebagai diplomat biasa, melainkan sebagai “utusan Amerika ke Tanah Perjanjian,” yang misinya adalah menyelaraskan kebijakan luar negeri AS dengan apa yang ia yakini sebagai “sejarah alkitabiah selama 3.800 tahun.”
Pernyataan kontroversial ini menuai kecaman dari dunia Arab dan Islam. Pernyataannya tentang “tanah yang dijanjikan dari Nil hingga Eufrat” dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan Mesir, Irak, Suriah, Lebanon, Yordania, Arab Saudi, dan Turki — negara-negara yang wilayahnya tercakup dalam interpretasi literalnya terhadap teks kuno.
Sementara para kritikus mempertanyakan apakah pandangan pribadi yang sangat kuat seperti ini layak dipegang oleh seorang diplomat yang mewakili kebijakan luar negeri AS, Huckabee tetap teguh pada keyakinannya bahwa ia adalah bagian dari rencana ilahi yang lebih besar, di mana dukungan tanpa syarat untuk Israel adalah prasyarat untuk skenario akhir zaman yang diyakini banyak penginjil Amerika.
Sumber: Al Jazeera





