Dengan langkah hati-hati di antara reruntuhan, Syekh Yusuf al-Athar (69 tahun) berjalan menuju sebuah musala darurat. Dibangun dari lembaran besi dan plastik rumah kaca, tempat ibadah ini berdiri di atas tanah yang dibersihkan dari puing-puing dengan tangan kosong oleh warga. Hanya mampu menampung sekitar 50 orang, musala ini adalah pengganti tiga masjid di lingkungan itu yang rata dengan tanah akibat perang.
“Kami biasa beribadah di masjid-masjid yang indah. Sekarang kami beribadah di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding yang layak,” ujar Syekh Yusuf, suaranya bergetar bukan karena usia, tetapi karena beratnya beban yang ditanggung.
Sujud di Antara Tembakan
Suasana khusyuk tak pernah benar-benar tercipta. Setiap gerakan salat diiringi rasa waswas akan datangnya tembakan dari arah garis kuning. Al-Athar mengenang sebuah malam ketika jemaah harus berlari meninggalkan salat Magrib setelah tentara Israel sengaja menembak ke arah mereka. Ia sendiri harus menyelesaikan salat sendirian, bersembunyi di balik gundukan puing sampai rentetan peluru berhenti.
Abdullah Yusuf (37 tahun), muazin musala, harus memanjat tumpukan puing setiap kali azan berkumandang. Tanpa pengeras suara, ia mengerahkan suaranya sekuat tenaga agar terdengar oleh warga yang tersebar di lingkungan yang hancur. “Kami bahkan tidak memiliki Al-Qur’an. Israel melarang masuknya mushaf ke Gaza sejak perang dimulai,” katanya.
Cahaya Ponsel di Tengah Kegelapan
Saat waktu Isya dan Tarawih tiba, para jemaah berkumpul. Tidak ada lampu listrik. Satu-satunya penerangan berasal dari layar ponsel mereka yang digenggam atau diletakkan di depan sajadah. Dalam cahaya redup itu, mereka berbaris rapi di belakang imam.
Di tengah salat, suara tembakan kembali terdengar. Imam mempercepat bacaannya. Para jemaah memahami kode itu: “Selesaikan secepatnya, selamatkan diri.” Anas (22 tahun), salah seorang jemaah, mengaku sudah terbiasa. “Tembakan itu sudah seperti rutinitas malam. Tujuannya jelas: mengusir kami, membuat kami takut untuk beribadah.”
Namun, Anas dan yang lain tetap datang. “Kembali ke lingkungan kami, salat di sini meski berbahaya, itu adalah cara kami mengatakan bahwa kehidupan harus kembali. Bahwa kami tidak akan pergi,” katanya.
1.160 Masjid Hancur, tetapi Iman Tak Padam
Perjalanan kembali ke Kota Gaza setelah salat sama berbahayanya. Tiga kilometer harus ditempuh dengan berjalan kaki dalam kegelapan total, melewati area yang sewaktu-waktu bisa menjadi sasaran tembak. Pada hari yang sama saat Al Jazeera mengunjungi Al-Atatra, dua warga Palestina tewas di dekat garis kuning di daerah yang sama.
Kementerian Wakaf Gaza mencatat bahwa dari 1.244 masjid di Gaza, sebanyak 1.160 rusak akibat perang. Sebanyak 909 masjid hancur total, rata dengan tanah, dan 251 lainnya rusak parah sehingga tidak dapat digunakan. Angka-angka itu adalah bukti kehancuran fisik. Namun, di malam-malam Ramadan ini, di musala darurat dekat garis kuning, warga Gaza membuktikan bahwa meskipun masjid-masjid mereka dibumihanguskan, sujud mereka tidak akan pernah bisa dihentikan oleh peluru mana pun.
Sumber: Al Jazeera





