Militer Israel dilaporkan melancarkan operasi militer skala besar ke wilayah Iran pada hari Sabtu ini, 28 Februari 2026. Serangan yang dinamai Israel sebagai operasi “Zair al-Asad” (Raungan Singa) ini menandai eskalasi dramatis dalam ketegangan yang telah berlangsung lama di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan yang bersumber dari media Israel dan The New York Times, operasi dimulai pada pukul 08.10 waktu setempat. Pentagon menyebut operasi ini dengan nama lain, yaitu “Al-Ghadab al-Qawi” atau “Al-Ghadab al-Malhami” (Kemarahan Epik), mengindikasikan keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan tersebut. Dua pejabat keamanan senior Israel menyebutkan bahwa operasi ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari dan menargetkan sejumlah tokoh penting Iran.
Target dan Jalannya Serangan
Serangan pada tahap awal difokuskan pada penghancuran kemampuan militer strategis Iran. Target yang dilaporkan terkena serangan meliputi:
Infrastruktur Militer: Lokasi pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), infrastruktur angkatan laut, gudang penyimpanan rudal, fasilitas produksi rudal, dan platform peluncuran rudal jarak jauh.
Lokasi Strategis: Kompleks kepresidenan di Teheran serta daerah-daerah di Kota Karaj (Provinsi Alborz), Isfahan, Qom, dan wilayah barat Iran.
Fasilitas Nuklir (Diduga): Meskipun fokus utama Israel adalah pada rudal, laporan menyebutkan pasukan AS dari kapal induk USS Abraham Lincoln kemungkinan fokus pada fasilitas program nuklir Iran.
Keterlibatan AS dalam operasi ini dikonfirmasi melalui partisipasi armada kapal induk dalam operasi laut dan udara, terutama setelah serangan darat Israel dimulai.
Alasan Pemilihan Waktu dan Taktik Kejutan
Pemilihan hari Sabtu dinilai strategis karena merupakan hari libur resmi di Israel. Hal ini memudahkan mobilisasi dan kontrol pergerakan militer serta memastikan para pejabat tinggi dapat berkumpul dan merespons dengan cepat.
Menurut analisis Brigjen Elias Hanna, seorang pakar militer dan strategis, meskipun kejutan strategis sulit dicapai karena besarnya kesiapan militer kedua negara, Israel berhasil menciptakan kejutan pada level operasional dan taktis, terutama dalam hal waktu serangan (pagi hari) dan pemilihan target.
Skenario Pengelabuan yang Matang
Sebelum serangan, Israel melakukan serangkaian taktik pengelabuan (deception) yang ekstensif, antara lain:
Pengendalian Informasi: Para menteri dan pejabat tinggi diminta tidak membuat pernyataan publik. Kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang dijadwalkan awal pekan juga diubah sebagai bagian dari skenario pengelabuan.
Manuver Pimpinan: Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Israel tetap berada di kediaman mereka saat serangan dimulai, untuk mengelabui intelijen Iran mengenai lokasi pusat komando.
Aktivitas Normal Palsu: Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, sengaja menghadiri acara makan malam biasa sehari sebelum serangan untuk menciptakan kesan normalitas.
Respons dan Situasi Internal Israel
Sebagai antisipasi atas serangan balasan Iran, Israel langsung menerapkan langkah-langkah keamanan internal yang ketat:
Status Darurat: Pemerintah mengumumkan status darurat dan meningkatkan kewaspadaan di semua lembaga keamanan dan sipil, meskipun belum secara resmi mendeklarasikan perang.
Penutupan Wilayah Udara: Seluruh penerbangan sipil ke dan dari Israel dihentikan sementara.
Pembatasan Aktivitas Publik: Seluruh kegiatan umum, termasuk pertandingan Liga Utama sepak bola, ditangguhkan untuk memastikan keamanan.
Di tengah situasi genting ini, pemimpin oposisi Yair Lapid menyerukan persatuan politik, menyatakan bahwa “Israel berdiri bersama pada saat-saat ini.” Sementara itu, Ketua Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, mengaitkan serangan ini dengan perayaan Purim, mengutip simbolisme historis tentang lolos dari ancaman.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Iran mengenai serangan ini atau potensi aksi balasan.
Dilansir dari: Al-Jazeera.net, Media Israel, The New York Times





