MINAB, TEHERAN – Di tengah gemuruh perang yang menggunakan rudal canggih dan pesawat tempur, sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan melanda Kota Minab di Provinsi Hormozgan, Iran. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa 165 siswi tewas dalam serangan yang menghantam Sekolah Dasar Putri “Syajaratun Thayyibah” pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Insiden ini menambah deretan panjang kisah pilu warga sipil yang menjadi korban konflik bersenjata.
Gubernur Minab, dalam pernyataan yang dilaporkan media Iran, mengungkapkan skala sebenarnya dari tragedi itu. Dari total 264 siswi yang berada di sekolah tersebut, sebanyak 165 anak meninggal dunia dan 96 lainnya luka-luka. Seluruh korban luka segera dilarikan ke rumah sakit oleh tim penyelamat. Kementerian Pendidikan Iran merinci lebih lanjut, mengatakan bahwa sekolah tersebut menjadi sasaran dalam tiga serangan terpisah yang dilakukan pada hari Sabtu.
Duka dan Kemarahan di Tengah Perang
Kabinet perang Israel, melalui Juru Bicara Militer Nadav Shoshani, dengan tegas membantah bertanggung jawab atas insiden mematikan ini. “Kami tidak memiliki informasi tentang serangan Israel atau Amerika di sana pada waktu itu,” katanya. Shoshani juga mengklaim bahwa militer Israel berada dalam posisi yang memungkinkan mereka untuk menargetkan 40 orang secara presisi pada jarak lebih dari seribu mil, tanpa memberikan kaitan langsung dengan serangan di Minab.
Pernyataan Israel ini muncul di tengah kecaman dan keprihatinan internasional. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan “keprihatinan mendalam” atas gelombang serangan yang melanda Iran, yang tidak hanya menelan korban jiwa dari kalangan militer, tetapi juga warga sipil, terutama anak-anak.
Korban di Tingkat Puncak
Serangan di Minab hanyalah satu wajah dari eskalasi dahsyat yang terjadi. Pada hari yang sama, Iran secara resmi mengonfirmasi gugurnya sejumlah tokoh kunci negara. Selain Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serangan juga merenggut nyawa empat jenderal tinggi, termasuk Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, Menteri Pertahanan, Panglima Garda Revolusi (IRGC), serta seorang penasihat pemimpin tertinggi.
Tragedi di Minab dengan cepat menjadi simbol penderitaan warga sipil yang tak terhindarkan dalam pusaran konflik. Klaim dan bantahan saling bersilangan, namun yang pasti, 165 kursi kosong kini menjadi saksi bisu di sebuah ruang kelas di Minab, menjadi pengingat getir bahwa dalam perang, selalu ada cerita yang tidak terhitung di luar medan tempur.
Sumber: Al Jazeera, Kementerian Pendidikan Iran, Kantor Berita Iran





