DIYALA, BAGHDAD – Perang yang semula terpusat di langit Iran dan Israel kini dengan cepat merambat ke wilayah Irak. Pada hari Minggu (1/3/2026), sebuah serangan udara menghantam sebuah gudang milik pasukan Al-Hashd Al-Sha’bi (Pasukan Mobilisasi Rakyat) di daerah Al-Miqdadiyah, Provinsi Diyala, Irak tengah. Serangan itu, yang menurut sumber keamanan dan sumber dari Al-Hashd Al-Sha’bi sendiri dikaitkan dengan jet tempur Amerika Serikat dan Israel, menewaskan empat orang personel kelompok tersebut.
Gerakan Asā’ib Ahl al-Ḥaq, salah satu faksi utama dalam Al-Hashd Al-Sha’bi, secara resmi mengumumkan “kesyahidan” empat anggotanya dalam sebuah pernyataan pers. Insiden ini menjadi eskalasi signifikan karena untuk pertama kalinya dalam konflik terbuka kali ini, serangan langsung menewaskan personel militer sekutu Iran di negara ketiga.
Kemarahan di Jantung Baghdad
Berita serangan di Diyala dan konfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari sebelumnya telah memicu ledakan emosi di jalanan Irak, terutama di kalangan komunitas Syiah.
Di Baghdad, ratusan pengunjuk rasa mencoba menerobos masuk ke Zona Hijau (Green Zone), kawasan pusat pemerintahan dan diplomatik yang sangat dijaga ketat, tempat kedutaan besar Amerika Serikat berada. Demonstrasi yang berlangsung pada hari Minggu itu berubah menjadi bentrok. Pasukan keamanan Irak berusaha memukul mundur massa dengan menggunakan gas air mata, meriam air, dan pentungan. Ratusan pengunjuk rasa terlihat berusaha mendekati perimeter kedutaan, meneriakkan kemarahan mereka atas apa yang mereka anggap sebagai agresi AS-Israel terhadap sekutu regional mereka.
Reaksi Para Pemimpin dan Kelanjutan Perang
Di tengah ketegangan yang memuncak, suara-suara otoritatif dari kepemimpinan Syiah Irak mulai angkat bicara. Ayatollah Ali al-Sistani, marja’ tertinggi Syiah Irak, secara resmi menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Khamenei. Dalam pernyataannya, ia juga mengimbau rakyat Iran untuk menjaga persatuan mereka. Hal serupa dilakukan oleh pemimpin nasionalis Syiah, Muqtada al-Sadr, yang juga menyampaikan duka cita kepada bangsa Iran.
Serangan di Irak ini tidak terjadi di ruang hampa. Sehari sebelumnya, sebagai respons atas serangan besar-besaran ke Iran, Teheran telah meluncurkan gelombang rudal dan drone ke arah apa yang mereka sebut sebagai pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah negara kawasan, termasuk di Kurdi Irak. Otoritas di Kurdistan bahkan mengonfirmasi bahwa pasukan koalisi pimpinan AS berhasil menghadapi sejumlah rudal dan drone yang diarahkan ke ibu kota regional, Erbil.
Dengan terbunuhnya personel Al-Hashd Al-Sha’bi di Diyala dan meledaknya kemarahan di Baghdad, Irak kini berada di garis depan baru konflik regional yang semakin meluas. Negara yang masih berjuang untuk stabilisasi ini kini terancam terseret kembali ke dalam pusaran kekerasan sektarian dan perang proksi yang lebih besar.
Sumber: Al Jazeera, Kantor Berita Irak





