GAZA – Saat dunia masih terfokus pada saling serang rudal antara Israel dan Iran, serta dampaknya di Irak dan Yaman, front lama di Jalur Gaza kembali memanas dengan cepat. Pada hari Senin (2/3/2026), militer Israel melancarkan serangan udara dan bombardir artileri berat ke sejumlah wilayah di Jalur Gaza, dalam apa yang disebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025.
Laporan dari koresponden Al Jazeera di lapangan menggambarkan situasi mencekam. Serangan udara dilaporkan menghantam area di timur Kota Khan Younis di selatan Gaza dan timur Kota Deir al-Balah di bagian tengah. Serangan dari udara ini berlangsung bersamaan dengan tembakan artileri berat yang dilancarkan dari posisi kendaraan lapis baja Israel yang berkumpul di belakang apa yang dikenal sebagai “Garis Kuning.”
“Garis Kuning” adalah garis demarkasi semu yang disepakati dalam gencatan senjata. Garis ini memisahkan zona pendudukan militer Israel yang meliputi sekitar 53 persen wilayah Gaza di bagian timur, dari area di barat yang secara teori diizinkan untuk diakses oleh warga Palestina. Tembakan artileri kali ini bahkan menjangkau lebih jauh ke utara, menghantam lingkungan timur Kota Gaza seperti Al-Zaytoun, Syuja’iyya, dan Al-Tuffah, serta area timur dan utara Kota Beit Lahia.
Pelanggaran Gencatan Senjata yang Sistematis
Serangan pada hari Senin ini bukanlah insiden terisolasi. Sumber-sumber medis dan saksi mata yang dikutip oleh kantor berita Anadolu melaporkan bahwa pada hari Minggu (1/3), dua warga Palestina, Omar Sufyan Manoun dan Mustafa Ahmed Zaghloul, tewas dalam bombardir Israel di wilayah Jabalia al-Balad, utara Gaza. Keduanya disebut berada di area yang, berdasarkan perjanjian, seharusnya berada di luar zona kendali tembak Israel.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, catatan medis Gaza menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: sedikitnya 629 warga Palestina telah tewas dan 1.693 lainnya terluka akibat tembakan dan serangan Israel. Angka ini menjadi bukti pahit bahwa gencatan senjata yang rapuh itu terus terkikis oleh kekerasan yang berulang.
Bayang-Bayang Perang yang Tak Kunjung Usai
Bagi penduduk Gaza, kembalinya serangan ini membuka kembali luka yang belum sembuh. Perjanjian gencatan senjata Oktober lalu dicapai setelah dua tahun perang brutal yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Konflik yang didukung penuh oleh Amerika Serikat itu telah menelan korban jiwa yang luar biasa: lebih dari 72.000 warga Palestina syahid dan 171.000 lainnya luka-luka. Lebih dari itu, sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza hancur atau rusak parah, menciptakan krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.
Kini, di tengah eskalasi perang regional yang melibatkan Iran dan sekutunya, kekhawatiran baru muncul. Apakah front Gaza akan kembali menjadi ajang pembalasan atau tekanan tambahan? Yang jelas, bagi warga di kamp-kamp pengungsian dan rumah-rumah yang tersisa, suara pesawat tempur dan ledakan artileri adalah mimpi buruk yang kembali menjadi nyata.
Sumber: Al Jazeera





