YERUSALEM – Sementara dunia terpaku pada rentetan rudal dan gempuran udara yang mengguncang Timur Tengah sejak akhir pekan lalu, di tanah Palestina yang diduduki, sebuah proses sistematis dan senyap terus berjalan tanpa henti. Kantor Gubernur Yerusalem, dalam laporan bulanan yang dirilis Senin (2/3/2026), mengungkapkan bahwa sepanjang bulan Februari lalu, otoritas pendudukan Israel telah memajukan 20 rencana pemukiman baru di kota suci tersebut.
Laporan setebal beberapa halaman itu merinci bagaimana kebijakan kolonial Israel terus memperkuat cengkeramannya atas Yerusalem yang diduduki. Rencana-rencana ini, yang mencakup pembangunan unit perumahan baru, perampasan tanah, dan perluasan permukiman, berjalan di bawah radar perhatian internasional yang saat ini sedang teralihkan oleh konflik besar yang melibatkan Iran dan sekutunya.
Rencana, Persetujuan, dan Tender
Dari 20 rencana yang didokumentasikan, Gubernur Yerusalem merincinya sebagai berikut:
Tujuh rencana telah memasuki tahap “penyimpanan” (deposit), yang merupakan fase kedua terakhir sebelum persetujuan akhir. Jika direalisasikan, tujuh rencana ini akan membangun 613 unit permukiman baru di atas lahan seluas sekitar 960 dunam (setara 960.000 meter persegi).
Lima rencana lainnya telah mendapatkan persetujuan resmi, yang memungkinkan pembangunan 51 unit permukiman di atas area seluas 40 dunam.
Satu rencana tambahan bahkan telah memasuki tahap tender, mengundang kontraktor untuk membangun 231 unit permukiman.
Angka-angka ini, yang hanya mencakup satu bulan, menunjukkan percepatan aktivitas permukiman yang konsisten dengan kebijakan pemerintah sayap kanan Israel, yang bertujuan untuk mengubah demografi dan realitas di lapangan, serta pada akhirnya menggagalkan solusi dua negara.
Kekerasan Pemukim yang Meningkat
Laporan tersebut tidak hanya menyoroti pembangunan fisik, tetapi juga eskalasi kekerasan yang dilakukan oleh pemukim, yang sering kali beroperasi dengan perlindungan penuh dari pasukan pendudukan Israel. Sepanjang Februari, tercatat 47 serangan oleh pemukim di wilayah Yerusalem.
Dari jumlah tersebut, sembilan serangan berupa kekerasan fisik. Yang paling tragis adalah serangan yang berujung pada terbunuhnya seorang pemuda Palestina, Nasrallah Abu Syam, di Desa Mikhmas, utara Yerusalem. Insiden ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh bagaimana kekerasan pemukim, yang seringkali luput dari sorotan media internasional, terus merenggut nyawa warga sipil Palestina.
Bentuk serangan lainnya sangat beragam, mulai dari penembakan, pembakaran properti, penutupan jalan, pengejaran terhadap penggembala, hingga pembobolan dan perusakan rumah-rumah pribadi. Bahkan, tempat-tempat ibadah pun tidak luput, dengan laporan adanya serangan terhadap gereja-gereja.
Gubernur Yerusalem mengecam keras peran pasukan pendudukan yang secara aktif melindungi para pelaku kekerasan ini. Hal ini, menurut laporan tersebut, mencerminkan “integrasi peran antara kelompok-kelompok kolonial dan pemerintah ekstremis sayap kanan untuk memaksakan fakta baru di lapangan dan meruntuhkan status quo.”
Gambaran Besar dalam Setahun
Laporan terbaru ini melengkapi data yang dirilis sebelumnya oleh Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina untuk tahun 2025. Sepanjang tahun lalu saja, komite perencanaan Israel telah mengkaji 107 rencana struktural di Yerusalem. Dari jumlah tersebut, 41 rencana berada di luar batas kota yang ditetapkan munisipalitas Israel, sementara 66 lainnya berada di dalam permukiman yang dibangun di atas tanah yang diduduki.
Di saat perhatian dunia terpusat pada pertempuran besar antara negara-negara dan perhitungan strategis para jenderal, angka-angka dari Yerusalem ini menjadi pengingat yang dingin dan nyata bahwa bagi rakyat Palestina, realitas pendudukan dan perluasan permukiman terus berlanjut setiap hari. Seperti gergaji yang diam-diam memotong, rencana demi rencana, unit demi unit, dan tanah demi tanah, terus dirampas, mengubah masa depan secara permanen, jauh dari sorotan kamera dan gemuruh perang.
Sumber: Al Jazeera





