TEHERAN – Pada hari kelima perang, konflik mencapai titik kritis baru yang tidak hanya melibatkan rudal dan pesawat nirawak, tetapi juga jalur pelayaran paling vital di dunia. Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu (4/3/2026) mengumumkan bahwa mereka telah sepenuhnya mengambil alih kendali atas Selat Hormuz dan mulai menyerang kapal-kapal tanker minyak yang melintas, sebuah eskalasi yang dapat memicu krisis energi global.
“Wilayah Selat Hormuz kini sepenuhnya berada di bawah pengawasan angkatan laut Iran,” kata seorang asisten politik di angkatan laut IRGC. Ia juga mengklaim bahwa pihaknya telah menyerang lebih dari 10 kapal tanker minyak di selat tersebut setelah mereka mengabaikan peringatan. Sejak IRGC mengumumkan penutupan selat, tegasnya, tidak ada satu pun kapal minyak atau komersial yang diizinkan melintas.
Klaim ini, jika benar, merupakan serangan langsung terhadap urat nadi ekonomi global. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya.
Klaim Korban dan Ancaman “Pintu Neraka”
Di medan pertempuran lainnya, juru bicara IRGC, Jenderal Ali Mohammad Naeini, mengeluarkan pernyataan yang penuh ancaman. “Musuh harus menunggu serangan hukuman yang berkelanjutan. Pintu-pintu neraka akan terbuka semakin lebar, saat demi saat, terhadap Amerika Serikat dan Israel,” ujarnya kepada kantor berita mahasiswa Iran, ISNA.
Naeini juga merinci klaim terbaru tentang kerusakan yang ditimbulkan pada pasukan musuh. Menurutnya, korban di pihak Amerika telah melampaui 680 orang tewas dan terluka. Ia juga mengklaim keberhasilan serangan terhadap sasaran-sasaran strategis, termasuk:
Menyerang markas besar militer Israel (Kirya) dan Kementerian Perang di Tel Aviv.
Menyerang target militer di Petah Tikva.
Menyerang pusat militer di Galilea Barat dan infrastruktur di Bnei Brak.
Selain itu, IRGC melalui “Markas Besar Khatam al-Anbiya” juga mengklaim telah menyerang pasukan infanteri Amerika di Dubai, menewaskan 100 personel, serta menyerang pangkalan udara AS di Sheikh Isa, Bahrain, dengan rudal dan drone. Klaim-klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.
Retorika Perang dari Gedung Putih
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan pembenaran atas eskalasi yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa perang melawan Iran adalah sesuatu yang tak terhindarkan. “Perang ini seharusnya terjadi kapan saja selama 47 tahun terakhir,” katanya kepada wartawan.
Trump mengklaim bahwa tindakan pre-emptive diperlukan karena ia yakin Iran akan segera menyerang Amerika Serikat. “Saya pikir mereka akan menyerang lebih dulu, dan saya tidak menginginkan itu terjadi,” ujarnya.
Meskipun memprediksi bahwa Iran akan terus meluncurkan roket untuk beberapa waktu, Trump menegaskan bahwa kemampuan militer Teheran “terus menurun” karena kehabisan amunisi dan peluncur rudal. Ia juga mengisyaratkan bahwa perang dapat berlangsung selama empat atau lima minggu, atau berakhir dalam beberapa hari ke depan, tergantung pada situasi.
Dengan IRGC yang kini mengklaim kontrol atas Selat Hormuz dan menyerang kapal tanker, serta ancaman “pintu neraka” yang terus digaungkan, dunia kini menahan napas. Perang yang dimulai enam hari lalu tidak hanya mengubah peta geopolitik kawasan, tetapi kini secara langsung mengancam stabilitas ekonomi global.
Sumber: Al Jazeera





