BEIRUT, TEHERAN, TEL AVIV – Untuk pertama kalinya sejak konflik regional ini meletus, dua front utama bergerak serempak. Pada Rabu (4/3/2026), Iran dan Hizbullah Lebanon melancarkan serangan gabungan yang terkoordinasi terhadap Israel, sebuah eskalasi dramatis yang menurut media Israel terjadi tiga kali dalam rentang waktu dua jam. Peristiwa ini menandai babak baru dalam perang, di mana “Poros Perlawanan” mulai menguji kemampuan Israel untuk bertempur di beberapa front sekaligus.
Di satu sisi, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik yang diarahkan ke wilayah Tel Aviv dan Yerusalem. Hampir bersamaan, dari selatan Lebanon, Hizbullah melepaskan rentetan roket berat dan drone yang menargetkan Tel Aviv, Haifa, dan berbagai lokasi di utara Israel. Sirine peringatan berbunyi tanpa henti di seluruh negeri, dari kota-kota besar hingga permukiman di perbatasan.
Target di Dalam Negeri Israel
Hizbullah, melalui serangkaian pernyataan, merinci target-target operasinya. Serangan hari itu tidak hanya terbatas pada roket-roket jarak pendek. Mereka mengklaim telah melancarkan serangan dengan sepasukan drone yang menghantam sejumlah sasaran strategis jauh di dalam wilayah Israel, termasuk:
Pangkalan Udara Ramat David, salah satu pangkalan utama Angkatan Udara Israel.
Pangkalan Angkatan Laut Haifa, pangkalan angkatan laut terbesar Israel di Laut Mediterania.
Pangkalan Tel Hashomer, yang menjadi markas besar komando militer Israel, terletak di tenggara Tel Aviv, sekitar 120 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Selain itu, mereka juga merilis video yang menunjukkan serangan terhadap Pangkalan Udara Mirion di utara dan Pangkalan Nafah di Dataran Tinggi Golan.
Klaim ini, jika akurat, menunjukkan kemampuan Hizbullah untuk menjangkau target-target presisi dengan drone, melampaui taktik roket tradisional mereka.
“Ruangan Operasi Bersatu” dan Maknanya
Apa yang terjadi pada hari Rabu ini bukanlah kebetulan. Para analis militer melihatnya sebagai bukti nyata dari konsep “Wihdat al-Sahat” (Kesatuan Medan Tempur) yang selama ini digembar-gemborkan oleh poros yang dipimpin Iran.
Konsep ini, yang mengemuka setelah 7 Oktober 2023, mengandaikan koordinasi penuh antara berbagai aktor pro-Iran — Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, milisi di Suriah dan Irak, serta Houthi di Yaman — untuk bertempur secara kolektif melawan Israel.
Analis keamanan dan strategis, Osama Khalid, dalam analisisnya kepada Al Jazeera, menegaskan bahwa serangan terkoordinasi ini “mencerminkan tingkat koordinasi operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia meyakini bahwa serangan ini dikendalikan dari sebuah “ruang operasi bersama di Lebanon” yang diawasi langsung oleh Garda Revolusi Iran bersama Hizbullah.
“Pengulangan serangan tiga kali dalam dua jam membawa pesan politik yang tajam,” kata Khalid. “Ini menunjukkan bahwa Iran dan Hizbullah mampu membuka front serius dari Lebanon dan memperluas pertempuran, meningkatkan biaya bagi Israel di wilayah-wilayah vital seperti Tel Aviv dan Pelabuhan Haifa.”
Taktik Baru: Memenuhi Sistem Pertahanan Udara
Dari sudut pandang militer murni, serangan simultan ini dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan utama sistem pertahanan udara Israel. Dengan menggabungkan rudal balistik jarak jauh dari Iran yang datang dari satu arah, dengan rentetan roket dan drone dari Hizbullah yang datang dari arah lain, para penyerang bertujuan untuk memenuhi dan menguras sistem pertahanan berlapis Israel (seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow). Hal ini membuat sistem kewalahan dan meningkatkan kemungkinan beberapa proyektil lolos dan mencapai target mereka.
Serangan terkoordinasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah Hizbullah mengumumkan bahwa mereka menyerang target di Haifa sebagai “balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei” dan agresi Israel yang berkelanjutan terhadap Lebanon. Ini adalah pelanggaran pertama yang signifikan terhadap perjanjian gencatan senjata yang rapuh yang telah berlaku antara Israel dan Lebanon sejak November 2024.
Dengan dua front kini berkobar secara simultan dan terkoordinasi, Israel menghadapi dilema keamanan terbesarnya sejak perang dimulai. Perang yang dimulai enam hari lalu di langit Iran, kini telah benar-benar menjadi perang regional multi-front yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak.
Sumber: Al Jazeera





