TEL AVIV, 7 Maret 2026 — Saluran 12 Israel, dalam laporannya pada hari Sabtu, mengidentifikasi tiga parameter utama yang diprediksi akan menentukan durasi perang yang sedang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketiga faktor tersebut adalah: harga minyak dunia, jumlah korban tewas di pihak militer AS, dan opini publik di Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, militer Israel dan AS mengklaim telah mengamati “retakan yang meningkat” dalam sistem pemerintahan Iran, yang ditandai dengan kurangnya koordinasi di antara para pejabat tinggi Teheran. Target utama AS, sebagaimana dilaporkan, adalah “menghancurkan infrastruktur militer dan otoritarian rezim Iran.”
Skenario “Jalan Keluar” Trump: Deklarasi Kemenangan Sepihak
Langkah selanjutnya, menurut Saluran 12, adalah upaya untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan dengan dukungan dari Badan Intelijen Pusat AS (CIA), serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya perpecahan internal di kalangan elite Iran.
Mengenai akhir dari konflik ini, laporan tersebut menyatakan bahwa Presiden Donald Trump “memiliki visi untuk keluar secara sepihak,” dan setelah itu kemungkinan besar akan mendeklarasikan kemenangan, terutama jika rezim Iran tidak berhasil digulingkan. Saluran 12 juga mencatat bahwa Trump “tidak secara terbuka menggunakan penggulingan rezim sebagai tujuan,” mengisyaratkan ketidakpastian tentang apakah target tersebut dapat dicapai.
Harga Minyak dan Opini Publik Jadi Penentu
Analisis ini muncul di tengah dampak ekonomi yang mulai terasa akibat konflik. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 10 persen pada hari Jumat (6/3), menembus angka 94 dolar AS per barel. Estimasi dari Bloomberg memperingatkan bahwa penutupan berkelanjutan di Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia—dapat mendorong harga hingga 108 dolar AS per barel.
Di dalam negeri AS, dukungan publik terhadap perang menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan. Hingga saat ini, konflik telah menewaskan 6 personel militer AS dan melukai 18 lainnya dengan luka parah. Menurut situs berita Axios, enam dari sepuluh warga Amerika menyatakan penentangan mereka terhadap kelanjutan perang ini.
Sejak 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat keamanan senior. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan apa yang disebutnya sebagai “kepentingan Amerika” di negara-negara Teluk, Irak, dan Yordania. Namun, beberapa serangan ini juga menewaskan dan melukai warga sipil serta merusak fasilitas sipil, yang telah menuai kecaman dari negara-negara Arab yang menjadi sasaran.
Dengan ketiga tekanan ini—ekonomi, militer, dan politik—yang terus meningkat, spekulasi tentang kapan dan bagaimana Trump akan mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik ini semakin menguat.
Sumber: Al Jazeera





