LONDON, 7 Maret 2026 — Di tengah gemuruh perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, Al Jazeera menerbitkan analisis mendalam yang mengupas akar ideologis di balik konflik tersebut. Artikel tersebut berargumen bahwa kebijakan luar negeri AS saat ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kuat lobi pro-Israel dan transformasi ideologis yang telah mengubah cara Washington memandang dunia—sebuah pergeseran dari realisme politik menuju “perang peradaban” yang mempertemukan “Barat” melawan “yang Lain”, khususnya dunia Islam.
Analisis ini dimulai dengan pidato Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Konferensi Keamanan Munich pada Februari lalu. Rubio menyerukan Eropa untuk bersatu dengan AS atas dasar warisan budaya dan agama bersama—sebuah konsep yang ia sebut sebagai “peradaban Barat.” Seruan ini, menurut analisis, mereduksi realitas kompleks menjadi dikotomi sederhana: “Barat versus seluruh dunia.”
Dari Perebutan Sumber Daya ke Perebutan Peradaban
Untuk memahami transformasi ini, analisis Al Jazeera menelusuri sejarah teori hubungan internasional. Ada dua aliran utama yang mencoba menjelaskan akar konflik global:
Teori Ekonomi (Imperialisme): Aliran ini, yang populer di kalangan pemikir kiri, berpendapat bahwa konflik internasional didorong oleh kebutuhan kapitalisme monopolistik akan pasar, sumber daya, dan tenaga kerja murah. Perang Boer di Afrika Selatan pada akhir abad ke-19 menjadi contoh klasik: Inggris berperang sengit melawan pemukim Boer—yang berkulit putih, Eropa, dan Kristen—semata-mata karena ambisi ekonomi atas kendali tambang. Dalam pandangan ini, retorika budaya hanyalah kedok untuk kepentingan material.
Teori Geopolitik (Perebutan Ruang): Aliran ini, yang dipelopori oleh pemikir seperti Halford Mackinder dan Alfred Mahan, melihat konflik sebagai persaingan abadi antara kekuatan darat dan kekuatan laut. Karl Haushofer kemudian menambahkan dimensi spasial, sementara Carl Schmitt membumbuinya dengan dimensi kultural, melihat konflik antara Eropa kontinental yang tradisionalis dengan kekuatan Atlantik (Inggris-AS) yang liberal.
Menariknya, hingga awal abad ke-20, gagasan “konflik peradaban” ini sebagian besar adalah urusan internal “Barat” sendiri—perebutan hegemoni antara Jerman dan Inggris, antara nilai-nilai kontinental dan nilai-nilai Atlantik. Istilah “Barat” sendiri, seperti yang dicatat oleh filsuf Jerman Oswald Spengler dalam bukunya “The Decline of the West” (1922), digunakan dalam konteks dekadensi dan kritik diri, bukan sebagai seruan perang melawan dunia luar.
“Penemuan” Barat Pasca-Perang dan Masuknya Zionisme
Konsep “Barat” sebagai entitas budaya yang bersatu baru benar-benar ditemukan setelah Perang Dunia II, terutama melalui gagasan tentang “tradisi Yahudi-Kristen” (Judeo-Christian tradition). Sebelum perang, orang Yahudi di Eropa sering dipandang sebagai “yang lain” internal, tidak jauh berbeda dengan cara memandang muslim sebagai ancaman eksternal. Pogrom terhadap Yahudi Rhine dalam Perang Salib Pertama dan pengusiran bersama muslim dan Yahudi dari Andalusia adalah bukti sejarah dari pemisahan ini.
Namun, setelah Holocaust dan migrasi besar-besaran intelektual Yahudi ke AS, terjadi pergeseran. Banyak intelektual Yahudi yang sebelumnya cenderung ke kiri, beralih ke liberalisme budaya dan mencari identitas inklusif yang dapat melindungi minoritas dari nasionalisme eksklusif. Sosiolog dan teolog Yahudi Will Herberg adalah tokoh kunci yang mempopulerkan gagasan bahwa Amerika adalah negara dengan tiga agama besar: Protestan, Katolik, dan Yahudi—semuanya di bawah payung “tradisi Yahudi-Kristen.”
Implikasi: Dari Perang Melawan Teror ke Perang Melawan Iran
Analisis Al Jazeera menyimpulkan bahwa transformasi ideologis ini memiliki konsekuensi langsung pada kebijakan luar negeri AS. Dengan mendefinisikan “Barat” sebagai entitas budaya yang bersatu dan terancam oleh “yang lain” (khususnya Islam), AS kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kepentingan nasionalnya sendiri dan kepentingan sekutu ideologisnya—dalam hal ini, Israel.
Retorika “perang peradaban” yang diusung oleh neokonservatif dan diadopsi oleh pemerintahan Trump telah mengubah konflik yang seharusnya dapat dikelola menjadi “perang eksistensial antara kebaikan liberal dan kejahatan identitas.” Dalam kerangka berpikir ini, tidak ada ruang untuk kompromi. Yang ada hanyalah kemenangan total atau kekalahan total.
Pidato Rubio di Munich, dengan seruannya untuk persatuan “Barat” melawan tantangan eksternal, adalah pernyataan perang budaya yang pada akhirnya menguntungkan agenda jangka panjang Israel di kawasan, sambil mengorbankan fleksibilitas diplomatik dan kepentingan strategis AS yang lebih luas.
Dilansir dari: Al Jazeera





