TEHERAN, 8 Maret 2026 — Seorang anak perempuan Iran selamat dari reruntuhan Sekolah Perempuan “Syajaratun Thayyibah” di Kota Minab, Iran selatan, setelah serangan udara gabungan Israel-Amerika Serikat pada Sabtu (7/3) mengubah gedung sekolah itu menjadi kuburan massal. Gubernur setempat mengonfirmasi bahwa 165 siswi tewas dan 96 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.
Kesaksian seorang siswi yang selamat menggambarkan mencekamnya saat-saat ketika bom menghantam sekolahnya. Dalam wawancara yang beredar luas di media sosial, gadis kecil itu menceritakan kisah tragis keluarganya.
“Ibuku adalah seorang guru di sekolah ini. Ketika kami mendengar suara itu (ledakan), saudara laki-lakiku yang selalu menjemputku berkata, ‘Aku harus pergi menyelamatkan Ibu’,” kenangnya dengan suara bergetar.
“Ia naik ke atas, lalu mereka menyerang lagi, dan ia gugur sebagai syahid. Suaranya seperti angin yang sangat kencang.”
Saat kekacauan melanda, para guru berteriak dan berlarian menyelamatkan diri. Gadis kecil itu berlari ke ruang kelas bersama gurunya, sebelum pingsan tertimpa batu besar.
“Ketika aku terbangun, seorang pria datang dan mencoba mengangkat batu itu tetapi tidak mampu. Kemudian sekelompok orang berhasil mengangkat sebagiannya, dan aku keluar dari bawah reruntuhan.”
Dalam kesaksian yang menyayat hati, gadis itu menambahkan, “Aku bahagia mereka syahid, dan aku ingin menyusul mereka. Amerika dan Israel, insya Allah, akan dimintai pertanggungjawaban.”
Kecaman dan Tuntutan Investigasi Internasional
Kesaksian ini memicu gelombang kemarahan di media sosial. Banyak pengguna mempertanyakan bagaimana sebuah fasilitas pendidikan yang dipenuhi siswi berusia antara 5 hingga 12 tahun bisa menjadi sasaran serangan militer.
Aktivis dan organisasi hak asasi manusia menyerukan penyelidikan mendesak untuk mengungkap insiden tersebut. Beberapa hari sebelumnya, foto-foto yang beredar di kalangan aktivis menunjukkan apa yang diklaim sebagai kuburan massal yang menampung 165 jenazah gadis muda—angka yang kini dikonfirmasi oleh pihak berwenang setempat.
Insiden di Sekolah Syajaratun Thayyibah menandai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk dalam perang terbuka antara Iran dan koalisi AS-Israel yang memasuki minggu kedua. Serangan terhadap fasilitas pendidikan sipil yang jelas-jelas tidak memiliki nilai militer ini berpotensi menjadi titik balik dalam opini publik internasional terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Sumber: Al Jazeera





