BEIRUT, 9 Maret 2026 — Pesawat-pesawat tempur Israel kembali menghujani Dahieh al-Janubiyah (pinggiran selatan Beirut) dengan serangan udara pada hari Senin, setelah mengeluarkan peringatan evakuasi kepada penduduk setempat. Militer Israel mengklaim serangan ini menargetkan infrastruktur yang terkait dengan Hizbullah.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, melalui platform X menyerukan warga di daerah tersebut untuk mengungsi, menyatakan bahwa pasukan Israel akan “bertindak keras terhadap infrastruktur milik Asosiasi Al-Qard Al-Hassan,” yang digambarkannya sebagai komponen sentral dalam pembiayaan aktivitas Hizbullah. Asap tebal terlihat membumbung tinggi dari lokasi serangan disertai suara ledakan keras.
Hizbullah Balas dengan Serangan Roket dan Hadang Pasukan Lintas Udara
Sebagai balasan, Hizbullah mengumumkan telah menembaki pasukan Israel yang memasuki dua desa perbatasan di Lebanon selatan, Al-Adisa dan Aitarun, dengan peluru artileri. Kelompok tersebut juga mengklaim telah meluncurkan roket ke Kota Kiryat Shmona di Israel utara. Media Israel melaporkan satu orang tewas akibat kecelakaan sepeda motor saat sirine peringatan berbunyi.
Dalam perkembangan dramatis, Hizbullah mengumumkan bahwa mereka terlibat dalam baku tembak dengan pasukan Israel yang melakukan pendaratan udara di Lebanon timur menggunakan helikopter yang melintasi perbatasan Suriah. Kelompok itu mengatakan sekitar 15 helikopter Israel berusaha mendarat, dan pasukan mereka terus melakukan perlawanan.
Media pemerintah Lebanon melaporkan “pertempuran sengit” di Daerah Al-Shaara, dekat perbatasan Suriah-Lebanon, ketika pasukan Israel mencoba maju setelah pendaratan helikopter.
Perang Meluas ke Lebanon, Ratusan Tewas
Serangan terhadap Beirut selatan ini merupakan bagian dari eskalasi dramatis yang dimulai pada 2 Maret, ketika konflik regional meluas hingga mencakup Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sejak saat itu, agresi Israel telah menewaskan 394 orang dan melukai 1.130 lainnya, termasuk ratusan anak-anak dan perempuan.
Eskalasi di Lebanon terjadi bersamaan dengan perang terbuka antara Israel-AS melawan Iran, yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan besar-besaran di Teheran yang menewaskan sedikitnya 1.332 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Dahieh al-Janubiyah, terutama Daerah Haret Hreik, dikenal sebagai benteng politik Hizbullah, menampung kantor keamanan dan politiknya, pusat komando, serta pemukiman padat penduduk. Serangan berulang di daerah padat penduduk ini menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya korban sipil di tengah meluasnya konflik.
Sumber: Al Jazeera





