LONDON/GAZA, 11 Maret 2026 — Perempuan Palestina di Jalur Gaza menanggung beban terberat dari genosida yang terus dilakukan Israel selama 29 bulan terakhir, demikian pernyataan terbaru Amnesty International. Organisasi hak asasi manusia internasional itu merilis laporan yang mendokumentasikan penderitaan sistematis yang dialami perempuan di tengah pengungsian paksa massal, runtuhnya sistem perawatan kesehatan, dan memburuknya kondisi kehidupan.
Dalam laporannya, Amnesty menyoroti bahwa perempuan Gaza menghadapi konsekuensi berlapis yang mencakup ketiadaan kondisi aman untuk kehamilan dan persalinan, kemunduran layanan kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu serta bayi baru lahir, serta sulitnya akses terhadap makanan, obat-obatan, air bersih, dan bahan penampungan. Semua ini diperparah oleh trauma fisik dan psikologis yang semakin memburuk di bawah tekanan pengungsian berulang dan pemboman yang terus berlangsung.
Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard, menegaskan bahwa perempuan di Gaza “dirampas dari kondisi yang diperlukan untuk hidup dan melahirkan dengan aman.” Ia menekankan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar dampak sampingan perang, melainkan “hasil langsung dari kebijakan terencana yang meruntuhkan hak-hak mereka atas kesehatan, keamanan, martabat, dan masa depan.”
Kesaksian Langsung dari 41 Perempuan Pengungsi
Laporan ini didasarkan pada wawancara yang dilakukan antara 5 hingga 24 Februari lalu dengan 41 perempuan pengungsi paksa, termasuk pasien kanker, ibu hamil, dan ibu-ibu yang melahirkan setelah apa yang disebut Amnesty sebagai “gencatan senjata palsu.” Selain itu, tim peneliti juga mewawancarai 26 tenaga kesehatan dan 4 staf organisasi internasional yang bekerja di lapangan.
Para perempuan ini dipaksa melahirkan dalam kondisi kekurangan akut layanan medis, makanan, obat-obatan, dan suplemen gizi. Mereka harus menjalani masa kehamilan dan pemulihan pascapersalinan di tempat-tempat pengungsian yang padat dan tidak sehat, di tengah kelaparan, penyakit, dan trauma psikologis, dengan hampir tidak ada privasi atau layanan dasar.
Runtuhnya Layanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Amnesty melaporkan bahwa hampir 60 persen fasilitas layanan kesehatan telah berhenti beroperasi, meningkatkan tekanan luar biasa pada fasilitas yang tersisa, terutama yang menyediakan layanan persalinan darurat. Kekurangan obat-obatan esensial terus berlanjut meskipun ada sedikit perbaikan dalam aliran bantuan. Obat-obatan yang langka termasuk pemicu kontraksi, penanganan pendarahan pascapersalinan, anestesi, pereda nyeri, dan antibiotik.
Menurut perkiraan terbaru yang dikutip dalam laporan, 37.000 ibu hamil dan menyusui akan mengalami kekurangan gizi akut yang memerlukan perawatan sebelum pertengahan Oktober tahun ini.
Tenaga kesehatan yang diwawancarai melaporkan lonjakan signifikan dalam komplikasi kehamilan dan persalinan, termasuk kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kekurangan gizi, anemia, depresi pascapersalinan, serta penyakit pernapasan pada ibu dan bayi baru lahir akibat cuaca dingin, polusi, dan kondisi penampungan yang buruk.
Pasien Kanker dan Blokade Evakuasi Medis
Amnesty menyoroti bahwa pasien kanker termasuk kelompok yang paling parah terkena dampak terhentinya evakuasi medis dan kurangnya pengobatan. Lebih dari 18.500 warga Palestina di Gaza membutuhkan perawatan segera yang tidak tersedia di dalam wilayah kantong tersebut. Pembatasan dan penundaan yang diberlakukan otoritas Israel terhadap evakuasi medis telah menyebabkan kematian yang seharusnya dapat dicegah dan penderitaan yang luar biasa.
Pembukaan sebagian perlintasan Rafah pada awal Februari tidak mengakhiri krisis, karena operasi evakuasi tetap terbatas dan kemudian berhenti total ketika perlintasan ditutup kembali pada akhir bulan yang sama, bertepatan dengan berlanjutnya operasi militer, pemboman, dan pembongkaran.
Seruan untuk Bertindak
Amnesty International mendesak otoritas Israel untuk mencabut pembatasan “ilegal dan sewenang-wenang” terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan peralatan medis, menghentikan penghalangan evakuasi medis, dan menjamin jalur yang efektif dan dapat diandalkan untuk memindahkan pasien keluar dari wilayah pendudukan Palestina.
Organisasi ini juga menyerukan negara-negara lain untuk memberikan tekanan diplomatik dan ekonomi pada Israel untuk menghentikan serangannya, mencabut blokade, dan memastikan akses perempuan dan anak perempuan terhadap layanan kesehatan dan kebutuhan dasar, serta mendukung organisasi kemanusiaan dan feminis yang bekerja di wilayah kantong tersebut.
Sumber: Al Jazeera





