TEHERAN, 15 Maret 2026 — Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, badan tertinggi komando operasi angkatan bersenjata Iran, melontarkan tuduhan serius bahwa militer Amerika Serikat telah merekayasa serangan di negara-negara tetangga menggunakan drone hasil kloningan buatan mereka sendiri. Tujuannya, menurut Iran, adalah untuk “menabur perselisihan dan secara palsu menuding Teheran sebagai dalang di balik serangan-serangan tersebut.”
Dalam pernyataan resminya, juru bicara tersebut menegaskan bahwa AS, setelah mengalami kegagalan militer dan politik, beralih menggunakan tipu daya. Mereka mengklaim bahwa Pentagon telah mengkloning drone Iran, Shahed-136, dan menamainya “Lucas” untuk kemudian digunakan menyerang target di dalam wilayah negara-negara kawasan.
Kronologi Kloning dan Penggunaan Tempur
Langkah AS ini bukanlah hal baru. Sekitar sembilan bulan lalu, militer AS telah mengumumkan keberhasilan merekayasa ulang drone Shahed Iran, yang sebelumnya banyak digunakan Rusia dalam perangnya melawan Ukraina. Drone tiruan ini dikembangkan sebagai senjata serang satu arah (loitering munition) dan diberi nama “Lucas”.
Kurang dari delapan bulan setelah diluncurkan pada Juli 2025, AS menggunakan drone ini untuk pertama kalinya dalam operasi tempur pada 3 Maret lalu. Penggunaan itu merupakan bagian dari Operasi “Epic Fury,” yang dikoordinasikan dengan Israel dalam serangan besar-besaran terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Serangan “Misterius” dan Penolakan Tanggung Jawab Iran
Iran dengan tegas membantah bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di negara-negara “sahabat dan tetangga” dalam beberapa hari terakhir. Mereka menyebutnya sebagai “upaya gagal untuk secara palsu mengaitkannya dengan angkatan bersenjata Iran.” Teheran menegaskan bahwa mereka secara terbuka mengumumkan setiap serangan yang mereka lakukan melalui pernyataan resmi yang jelas.
Sebagai contoh, Jumat lalu, juru bicara yang sama membantah adanya serangan Iran terhadap Turki, setelah NATO mengumumkan telah mencegat rudal balistik Iran yang dianggap mengarah ke wilayah Turki. Kementerian Pertahanan Turki juga mengonfirmasi intersepsi tersebut. Iran bersikeras tidak menembakkan rudal ke negara “sahabat dan tetangga” itu.
Demikian pula, Iran membantah terlibat dalam serangan terhadap Pelabuhan Salalah di Oman pekan lalu, menyebut insiden itu “sangat mencurigakan” dan mengatakan sedang melakukan penyelidikan.
Dampak Serangan terhadap Negara-negara Teluk
Sejak 28 Februari, negara-negara Teluk telah menjadi sasaran serangan rudal dan drone. Iran mengklaim serangan ini sebagai respons militer terhadap agresi AS-Israel dan hanya menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan, bukan negara-negara tertentu. Namun, serangan-serangan ini telah menyebabkan kerusakan pada fasilitas sipil di negara-negara Teluk, termasuk bandara, pelabuhan, dan berbagai bangunan, beberapa di antaranya adalah pemukiman.
Negara-negara Teluk yang menjadi sasaran telah menyatakan kecaman mereka atas serangan yang melanda wilayah mereka dan menegaskan hak mereka untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk merespons serangan tersebut.
Dengan tuduhan rekayasa dan operasi bendera palsu ini, konflik informasi kini berjalan beriringan dengan perang rudal dan drone di kawasan, semakin mengaburkan batas antara agresi dan pembelaan, serta memperumit upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Sumber: Al Jazeera





