PARIS, 23 Maret 2026 — Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa ekonomi global saat ini menghadapi risiko besar akibat krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai “lebih berbahaya daripada dua krisis minyak di tahun 1970-an yang digabungkan.”
Dalam pernyataannya, Birol menekankan bahwa solusi optimal untuk masalah saat ini adalah membuka kembali Selat Hormuz untuk memastikan stabilitas pasokan minyak. Ia menyatakan bahwa situasi di kawasan ini semakin berbahaya seiring dengan memburuknya kekurangan bahan bakar di Asia.
Direktur IEA tersebut mengungkapkan bahwa pemerintah Australia sedang melakukan upaya besar untuk meningkatkan tingkat cadangan bahan bakar. Ia menegaskan bahwa tingkat harga minyak saat ini belum memerlukan penarikan cadangan minyak lebih lanjut. Namun, ia menekankan bahwa badan tersebut saat ini sedang melakukan konsultasi dengan pemerintah di seluruh dunia. Jika diperlukan, cadangan tambahan akan ditarik untuk menjamin pasokan.
Birol mengakhiri pernyataannya dengan harapan agar solusi untuk situasi ini dapat ditemukan secepat mungkin.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur utama pengangkutan minyak dan gas global. Ketegangan ini telah berdampak pada stabilitas pasar energi global sejak dimulainya perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran pada 28 Februari lalu.
Sumber: Al Jazeera





