PARIS, 24 Maret 2026 — Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa tidak ada bentuk pendudukan atau permukiman yang dapat menjamin keamanan, merujuk pada operasi militer Israel di Lebanon dan wilayah Palestina. Pernyataan ini disampaikan pada Senin saat membuka pameran yang didedikasikan untuk kota arkeologi Lebanon, Jbeil (Byblos), di Institut Dunia Arab, Paris.
Macron dengan tegas menyatakan, “Pendudukan, dan bentuk permukiman apa pun—baik di Lebanon, di Tepi Barat, maupun di tempat lain—tidak akan pernah dapat menjamin keamanan siapa pun.”
Ia melanjutkan, “Di masa perpecahan agama, ketika beberapa pihak berusaha mendorong kita menuju perang yang meningkat, dan ketika yang lain berusaha meyakinkan kita bahwa keamanan hanya dapat dicapai dengan menyerang tetangga yang kita takuti, Lebanon mengingatkan kita pada satu hal: kekuatan universalitas, kekuatan hukum internasional.”
Perang Regional Meluas ke Lebanon
Pernyataan Macron muncul di tengah meningkatnya perang AS-Israel melawan Iran, yang dampaknya telah meluas ke Lebanon sejak awal Maret. Serangan udara dan invasi darat Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 1.039 orang, menurut data resmi.
Bantuan untuk Gaza dan Pengakuan Negara Palestina
Pernyataan presiden Prancis tidak hanya terbatas pada Lebanon. Ia kembali menekankan perlunya melanjutkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza secara penuh, di tengah memburuknya situasi kemanusiaan di sana.
Macron juga memperbarui seruannya untuk melanjutkan jalur politik menuju pengakuan negara Palestina—sebuah pendekatan yang telah diadopsi Prancis. Ia menyatakan harapannya bahwa masyarakat internasional akan mengikuti langkah tersebut.
Pameran yang Mengisahkan Perlawanan Lebanon
Pernyataan-pernyataan ini disampaikan Macron dalam kunjungannya ke pameran yang menyoroti sejarah Kota Jbeil di Lebanon, salah satu kota tertua yang terus dihuni di dunia, yang menampilkan sekitar 400 artefak.
Macron mengatakan pameran itu menceritakan “banyak tentang nasib Lebanon” dan “perlawanannya terhadap kekaisaran,” serta merupakan ekspresi “menentang perang” yang telah mempersulit pengangkutan banyak karya yang dipamerkan di Paris.
Direktur Jenderal Barang Antik di Kementerian Kebudayaan Lebanon, Sarkis al-Khoury, yang mengawasi pengiriman dua muatan karya seni dari Beirut ke Paris pada bulan Februari, mengatakan bahwa “persiapannya penuh tantangan” karena situasi perang yang mempersulit pengangkutan artefak ke ibu kota Prancis.
Sumber: Al Jazeera





