GAZA/TEPI BARAT, 25 Maret 2026 — Di tengah sorotan dunia yang tertuju pada perang di Iran, otoritas pendudukan Israel terus melakukan pelanggaran di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur. Empat warga Palestina tewas pada Rabu dini hari akibat pemboman Israel di Gaza tengah, sementara gelombang penggerebekan dan serangan pemukim melanda berbagai wilayah Tepi Barat.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Awda, Gaza tengah, melaporkan bahwa keempat korban tewas akibat serangan drone Israel yang menargetkan sekelompok warga di dekat Pemakaman Al-Sawarha, selatan Kamp Nuseirat. Artileri Israel juga mengebom daerah timur Lingkungan Al-Tuffah, timur laut Kota Gaza, sementara kapal perang Israel melepaskan tembakan senapan mesin ke arah pantai laut Gaza.
Korban dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Selasa merilis data terbaru, menunjukkan total korban jiwa akibat agresi Israel yang berkelanjutan sejak 7 Oktober 2023 kini mencapai 72.263 orang tewas dan 171.948 orang terluka. Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober lalu melalui serangan udara, pemboman artileri di berbagai wilayah Gaza, serta menghalangi masuknya bantuan dan material rekonstruksi.
Penggerebekan Luas di Tepi Barat
Di Tepi Barat yang diduduki, militer Israel pada Selasa malam melakukan penggerebekan luas di berbagai wilayah, termasuk penggeledahan toko-toko, penutupan pintu masuk desa, serta tembakan peluru tajam, granat kejut, dan gas air mata. Sebuah serangan pemukim juga terjadi berupa pembakaran fasilitas pertanian.
Di Kota Jenin, pasukan Israel menggerebek pusat kota, menggeledah sebuah toko dan menyita barang dagangannya, serta menghalangi lalu lintas kendaraan. Di Desa Tayasir, timur Tubas, militer menembakkan granat kejut dan peluru tajam secara intensif. Di Lingkungan Al-Jalazun, utara Ramallah, pasukan Israel melepaskan tembakan dan gas beracun.
Pemukim Bakar Fasilitas Pertanian, Pengusiran Paksa Berlanjut
Pemukim Israel membakar sebuah ruang pertanian dan menghancurkan isinya di daerah timur Desa Beit Furik, timur Nablus. Di Desa Al-Ram dan Kafr Aqab, utara Yerusalem, pasukan Israel menggerebek dengan kendaraan militer dan melepaskan tembakan gas air mata.
Di Kota Hebron, seorang warga Palestina dari Desa Al-Samu’ terpaksa membongkar rumahnya dan meninggalkan daerahnya secara paksa akibat meningkatnya serangan pemukim dan pencurian sebagian besar ternaknya, serta tekanan dari tentara Israel. Menurut laporan tahunan Badan Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, serangan pemukim sepanjang 2025 telah memaksa pengungsian 13 komunitas Badui Palestina, yang terdiri dari 197 keluarga (1.090 individu).
Sejak akhir Februari hingga Senin lalu, pemukim telah melakukan 511 serangan di Tepi Barat, menewaskan 7 warga Palestina.
Kecaman Qatar dan Panggilan untuk Bertindak
Qatar menyatakan kecaman dan penolakan keras terhadap eskalasi pelanggaran yang dilakukan pasukan dan pemukim Israel terhadap rakyat Palestina, termasuk pembunuhan, penyerangan, perampasan properti, pengusiran paksa, pembongkaran rumah, serta kebijakan permukiman dan rasial yang terus berlanjut.
Perwakilan Tetap Qatar untuk Kantor PBB di Jenewa, Hend Abdurrahman Al-Muftah, dalam pernyataan di sesi ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia, menegaskan bahwa dalam situasi berbahaya yang terjadi di kawasan, komunitas internasional tidak boleh mengabaikan isu Palestina. Ia menyerukan tindakan internasional yang serius dan efektif untuk memastikan pemulihan hak-hak sah rakyat Palestina, terutama hak menentukan nasib sendiri dan mendirikan negara merdeka di perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, juga menyerukan negara-negara untuk menahan diri dari memberikan “bantuan, dukungan, atau senjata apa pun kepada Israel,” menuntut penghentian segera dukungan untuk pendudukan ilegal dan pemutusan semua hubungan dengannya. Albanese, dalam pidatonya di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, menyatakan bahwa Israel “menyembelih anak-anak, membuat mereka kelaparan, dan membakar mereka hidup-hidup bersama keluarga mereka.”
Sumber: Al Jazeera





