BEIRUT/TEHERAN, 27 Maret 2026 — Langit di utara Israel berubah menjadi lautan api pada Kamis kemarin. Dalam kurun waktu 24 jam, Hizbullah Lebanon melancarkan serangan terbesar mereka sejak perang regional meletus awal Maret. Tidak kurang dari 93 operasi dilancarkan, bertepatan dengan gelombang ke-83 rudal Iran yang menghujani wilayah pendudukan.
Serangan gabungan ini menewaskan tiga warga Israel, melukai puluhan lainnya, dan mengguncang pangkalan-pangkalan militer hingga kantor pusat pertahanan di jantung negeri itu.
Serangan Tak Bertepi dari Selatan
Di Lebanon selatan, para pejuang Hizbullah bergerak seperti bayangan. Sejak pagi hingga larut malam, mereka meluncurkan roket, rudal anti-tank, dan drone yang menukik tajam ke sasaran-sasaran Israel.
Dalam pernyataan beruntun yang dirilis sepanjang hari, Hizbullah mengklaim telah menghantam 16 permukiman, 17 pos militer, 27 titik konsentrasi tentara Israel, dan 28 tank Merkava. Mereka juga menyerbu gedung Kementerian Pertahanan Israel dan markas Komando Front Utara—simbol kekuatan militer Israel di wilayah utara.
Di perbatasan, pertempuran jarak dekat pecah lima kali. Di Kota Al-Khiyam, Desa Deir Siryan, Al-Qantarah, dan Naqoura, pasukan Hizbullah terlibat baku tembak dengan infanteri Israel menggunakan senjata ringan dan menengah.
Saluran Israel 24 melaporkan bahwa dalam sehari, Hizbullah melepaskan sekitar 600 rudal dan drone, sebagian besar menyasar posisi tentara Israel di Lebanon selatan.
Iran Menambah Tekanan dari Timur
Ketika malam mulai turun, giliran Iran yang berbicara. Korps Pengawal Revolusi (IRGC) mengumumkan dimulainya gelombang ke-83 operasi “Janji Sejati 4.” Rudal-rudal jarak menengah dan jauh, berbahan bakar padat dan cair, diluncurkan dari pangkalan-pangkalan rahasia di pegunungan Iran. Beberapa di antaranya membawa hulu ledak ganda, dirancang untuk membagi sasaran dan mempersulit sistem pertahanan udara.
Serangan ini menambah tekanan yang sudah luar biasa pada sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow Israel.
Korban di Kedua Sisi
Di Israel, tiga nyawa melayang. Dua tentara tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Satu warga sipil tewas akibat serangan rudal. Puluhan lainnya luka-luka, termasuk beberapa perwira tinggi yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.
Di pihak Lebanon, jumlah korban terus bertambah. Sejak perang dimulai pada 2 Maret, lebih dari 1.000 warga Lebanon tewas, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. Lebih dari satu juta orang mengungsi dari rumah mereka, meninggalkan desa-desa di selatan yang kini berubah menjadi zona perang.
Iran juga membayar harga mahal. Dalam serangan balasan Israel dan AS yang dimulai 28 Februari lalu, sedikitnya 1.500 warga Iran tewas, termasuk ratusan anak-anak dan perempuan. Korban luka mencapai lebih dari 15.000 orang.
Namun, Israel sendiri merahasiakan angka pasti korban di pihak mereka. Media Israel hanya mengonfirmasi 18 tewas dan lebih dari 5.000 luka sejak perang dimulai. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.
Pertempuran yang Tak Kunjung Usai
Di balik angka-angka ini, ada kisah yang lebih besar. Hizbullah tidak lagi hanya menembakkan roket serampangan. Mereka kini menggunakan drone kamikaze yang bisa mengubah arah di detik-detik terakhir. Rudal-rudal Iran semakin presisi, mampu menghindari radar dan menembus pertahanan udara yang selama ini dianggap tangguh.
Israel membalas dengan gempuran udara yang menghancurkan infrastruktur sipil di Lebanon selatan. Jembatan-jembatan hancur. Rumah-rumah rata dengan tanah. Warga sipil terjebak di antara dua kekuatan yang sama-sama enggan mundur.
Di utara Israel, sirene berbunyi hampir setiap jam. Warga di permukiman-permukiman dekat perbatasan sudah lama mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang kini menjadi target empuk rudal Hizbullah. Di Lebanon selatan, pemandangan serupa terjadi: desa-desa kosong, jalan-jalan penuh puing, dan langit yang terus-menerus dihiasi jejak asap rudal.
Apa Selanjutnya?
Perang ini telah memasuki babak baru. Hizbullah membuktikan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan skala besar meskipun terus digempur selama berminggu-minggu. Iran, di sisi lain, menunjukkan bahwa kampanye rudal mereka tidak akan berhenti hanya karena ancaman atau negosiasi di belakang layar.
Israel menghadapi dilema: maju lebih dalam ke Lebanon berarti risiko korban yang lebih besar; bertahan di posisi sekarang berarti menerima kenyataan bahwa wilayah utara mereka tidak akan pernah benar-benar aman selama Hizbullah masih memiliki ribuan rudal.
Sementara itu, warga sipil di kedua sisi terus membayar harga yang tak terhingga. Rumah-rumah hancur, anak-anak kehilangan orang tua, dan kehidupan normal menjadi kenangan yang semakin jauh.
Di tengah hiruk-pikuk senjata, tak ada yang tahu kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir. Yang pasti, Kamis kemarin bukanlah hari terakhir. Masih banyak hari-hari kelam yang harus dilalui sebelum salah satu pihak memutuskan untuk berhenti.
Sumber: Al Jazeera





