Di antara reruntuhan Jalur Gaza yang terkepung dan lorong-lorong serta lembah Darfur yang terlupakan, dua laporan dari The New York Times dan The Washington Post melukiskan gambaran suram tentang nasib manusia dalam menghadapi mesin perang yang tak kenal ampun.
Sementara dunia merayakan kisah-kisah langka tentang keselamatan, kebenaran pahitnya adalah bahwa warga sipil—terutama anak-anak dan perempuan—adalah bahan bakar sebenarnya dari konflik yang melampaui segala batas moral dan hukum. Rumah sakit berubah menjadi “zona kematian” di Palestina, dan tubuh perempuan menjadi “medan perang” di Sudan, di tengah ketidakmampuan internasional untuk menghentikan pendarahan martabat manusia.
Gaza: Sekelompok Anak yang Kembali ke Reruntuhan
Di Jalur Gaza, laporan Adam Rasgon, Bilal Shbeir, dan Iyad Abu Huwaila dalam The New York Times menyoroti perjalanan kembali 11 anak Palestina yang lahir prematur di puncak pemboman tahun 2023. Kini mereka kembali ke tanah air yang telah berubah menjadi puing-puing.
Kisah balita Bisan, yang kembali ke pelukan ibunya, Sanaa al-Kurd, setelah dua tahun berpisah paksa di Mesir, menjadi simbol harapan yang bercampur rasa sakit. Sang ibu mengatakan putrinya langsung memeluknya secara naluriah, meskipun ia hanya memiliki ingatan yang terputus-putus tentang wajah ibunya akibat blokade.
Anak-anak ini, yang dievakuasi dari Rumah Sakit Al-Shifa di bawah tembakan intens mesin perang Israel, adalah kesaksian hidup atas apa yang digambarkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai “operasi evakuasi di bawah risiko keamanan ekstrem.”
The New York Times mencatat bahwa rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat aman, menurut laporan PBB, telah berubah menjadi medan konfrontasi yang menyebabkan kematian banyak bayi karena pemadaman listrik dan kurangnya perawatan—sebuah ujian bagi komitmen komunitas internasional untuk melindungi fasilitas medis.
Sudan: Kekerasan Seksual sebagai Senjata Perang
Di sisi lain tragedi, laporan Raelle Ombur dalam The Washington Post membawa kita ke neraka perang di Sudan. Penderitaan tidak terbatas pada pembunuhan dan pengungsian, tetapi meluas hingga penggunaan kekerasan seksual sebagai alat sistematis untuk penghinaan dan intimidasi.
Doctors Without Borders mengungkapkan kengerian yang dilakukan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) terhadap perempuan dan anak perempuan di Darfur, menggambarkan praktik ini sebagai “taktik yang disengaja.”
Surat kabar itu mengutip kesaksian mengerikan seorang perempuan berusia 26 tahun dari Daerah Tawila, Darfur Utara, yang menegaskan bahwa para penyintas tidak hanya membutuhkan perawatan medis tetapi juga “dukungan psikologis dan perlindungan hak asasi manusia” setelah apa yang mereka saksikan.
Gloria Endrio, seorang bidan di Doctors Without Borders, mengatakan kepada The Washington Post bahwa ribuan serangan yang terdokumentasi pada tahun 2024 dan 2025 hanyalah puncak gunung es dari realitas yang lebih dalam. Pembatasan keamanan dan stigma sosial mencegah banyak perempuan mengakses pusat kesehatan. Ia mengungkapkan keterkejutannya menerima korban yang masih berusia lima tahun.
Penghubung antara Gaza dan Sudan
Hubungan antara Gaza dan Sudan dalam dua laporan ini melampaui geografi. Keduanya terletak pada runtuhnya sistem perlindungan dasar. Dr. Ahmed al-Farra dari Gaza memberi tahu The New York Times bagaimana rumah sakit di Gaza berusaha mengidentifikasi orang tua dari seorang anak yang kembali dari Mesir setelah keluarganya hilang dalam kobaran perang.
The Washington Post melaporkan bagaimana perempuan di Darfur dipaksa menghadapi kehamilan tidak diinginkan akibat pemerkosaan massal. RSF, yang menguasai wilayah luas, mengikuti pola yang oleh para penyidik PBB digambarkan memiliki “ciri-ciri genosida,” terutama setelah pembantaian El-Fasher yang menewaskan ribuan orang.
Pada saat yang sama, The New York Times mengingatkan bahwa kembalinya anak-anak ke Gaza bukanlah akhir dari penderitaan, tetapi awal dari kehidupan di tenda-tenda pengungsi di tengah kehancuran yang melanda 80 persen infrastruktur wilayah tersebut. Para ayah dan ibu, seperti Fatima al-Daqqa, bertanya-tanya tentang masa depan anak-anak mereka yang tidak lagi mengerti arti kata “mama” karena bertahun-tahun berpisah dan perang.
Keterlibatan Internasional dan Luka yang Tak Terlihat
The Washington Post mengakhiri laporannya dengan merujuk pada keterlibatan internasional dan konflik geopolitik yang memicu perang Sudan, dari perdagangan emas hingga pasokan senjata.
Sementara itu, The New York Times menegaskan bahwa setiap anak yang kembali ke Gaza membawa luka yang tak terlihat, baik pada penglihatan maupun ingatan yang terdistorsi.
Kedua laporan tersebut menyimpulkan bahwa perang-perang ini, meskipun berbeda nama dan pelakunya, memiliki kesamaan: perang-perang ini adalah “perang yang terlupakan” atau “terabaikan” dalam hal ketiadaan intervensi nyata untuk melindungi manusia.
Di antara tangisan para ibu di Gaza dan jeritan para korban di Darfur, dunia terus menonton dari kejauhan, puas hanya dengan menghitung mayat dan mendokumentasikan kesaksian. Sementara itu, siklus kekerasan terus menggiling seluruh generasi anak-anak dan perempuan yang tidak pernah memilih untuk menjadi bagian dari konflik ini, namun mendapati diri mereka membayar harganya dengan tubuh, jiwa, dan masa depan tanah air mereka yang hilang di antara reruntuhan dan darah.
Sumber: Al Jazeera + The New York Times + The Washington Post





