Oleh: Ahmad Tammam
Ringkasan Artikel
Ibnu An-Nafis: Sang Penemu yang Akhirnya Ditemukan. Artikel ini mengupas sejarah penemuan ilmiah Ibnu An-Nafis tentang peredaran darah, disertai penjelasan tentang kehidupannya dan penemuan-penemuannya yang paling terkenal.
Ibnu An-Nafis: Sang Penemu yang (Dulu) Terlupakan, Lalu Ditemukan Kembali
Tabib Arab “Alauddin Ibnu An-Nafis” tidak mendapatkan ketenaran dan popularitas yang layak seperti yang diperoleh oleh para tabib muslim terkemuka lainnya—hingga akhirnya datang “Muhyiddin Ath-Thathawi”, seorang tabib asal Mesir yang sedang belajar di Jerman. Ia mengungkap kontribusi (jasa) Ibnu An-Nafis dalam sebuah disertasi ilmiah untuk meraih gelar doktor pada tahun (1343 H = 1924 M) yang berjudul: “Peredaran Darah Paru Menurut Al-Qurasyi”. Tabib cendekia ini telah membaca manuskrip-manuskrip Arab di Perpustakaan Berlin, lalu ia menemukan sebuah manuskrip karya Ibnu An-Nafis berjudul: “Syarh Tasyrih Al-Qanun” (Penjelasan Anatomi dari Al-Qanun [Kanon Kedokteran] karya Ibnu Sina). Maka ia pun menekuni manuskrip itu, juga menekuni (biografi) penulisnya, lalu menulis disertasinya dan menyerahkannya ke Universitas Freiburg di Jerman.
Namun, para profesor dan pembimbing disertasi itu terkejut luar biasa ketika membaca isinya. Mereka tidak percaya dengan apa yang ditulis oleh Ath-Thathawi dengan penuh keyakinan. Maka mereka mengirimkan salinan disertasi itu kepada Dr. Meyerhof—seorang tabib orientalis Jerman yang saat itu berada di Kairo—dan meminta pendapatnya tentang apa yang ditulis oleh peneliti cendekia ini. Ketika Meyerhof membaca disertasi itu, ia mendukung isinya. Ia lalu menyampaikan fakta tentang kontribusi Ibnu An-Nafis yang diungkap oleh Ath-Thathawi kepada sejarawan George Sarton. Sarton kemudian mempublikasikan fakta ini di bagian terakhir bukunya yang terkenal, “History of Science” (Sejarah Ilmu Pengetahuan). Setelah itu, Meyerhof segera mencari manuskrip-manuskrip lain karya Ibnu An-Nafis dan biografi-biografinya, lalu mempublikasikan hasil penelitiannya dalam beberapa artikel. Sejak saat itu, mulailah perhatian (dunia) terhadap ilmuwan besar ini dan “penemuan kembali” (rediscovery) dirinya.
Alauddin (Ibnu An-Nafis) dianggap sebagai salah satu tabib teragung yang pernah muncul sepanjang sejarah kedokteran Arab-Islam, seperti Abu Bakar Ar-Razi, Ibnu Sina, dan Az-Zahrawi. Ia adalah penulis kitab “Asy-Syamil fi Ash-Shina’ah Ath-Thibbiyyah” (Ensiklopedia Kedokteran), yang merupakan ensiklopedia kedokteran paling besar yang pernah ditulis oleh satu orang dalam sejarah umat manusia.
Kehidupan Ibnu An-Nafis
Di desa Qarsy, dekat Damaskus, lahirlah “Alauddin Ali bin Abi Al-Hazm Al-Qurasyi” pada tahun (607 H = 1210 M). Ia memulai pendidikannya seperti pelajar lainnya: menghafal Al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar membaca dan menulis. Ia juga membaca sedikit tentang nahwu (gramatika Arab), bahasa Arab, fikih, dan hadis, sebelum akhirnya beralih menekuni kedokteran—yang mulai ia tekuni pada tahun (629 H = 1231 M) di usianya yang ke-22, setelah sebuah krisis kesehatan menimpanya. Ia sendiri berkata tentang peristiwa itu:
“Kami menderita berbagai macam demam, dan usia kami saat itu mendekati dua puluh dua tahun. Sejak kami sembuh dari penyakit itu, kami berprasangka buruk terhadap para tabib (yang merawat kami), sehingga kami pun sibuk menekuni profesi kedokteran untuk memberi manfaat kepada manusia.”
Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa ia belajar sebelum tahun itu di bawah bimbingan “Al-Muhadzdzib Ad-Dakhwar”—salah seorang tabib terkemuka dalam sejarah Islam. Ia belajar kedokteran di bawah bimbingannya. Dakhwar adalah kepala para tabib pada zamannya, bekerja di Bimaristan An-Nuri (Rumah Sakit An-Nuri) di Damaskus, dan wafat pada tahun (628 H = 1230 M).
Damaskus pada periode itu berada di bawah pemerintahan Bani Ayyub, yang sangat memperhatikan ilmu pengetahuan secara umum, dan kedokteran secara khusus. Mereka menjadikan Damaskus sebagai ibu kota ilmu pengetahuan dan seni. Kota ini memiliki—di antara yang dimilikinya—sebuah perpustakaan besar yang berisi kitab-kitab langka, dan sebuah rumah sakit (bimaristan) agung yang didirikan oleh Nuruddin Mahmud. Rumah sakit ini menarik tabib-tabib paling terampil pada zamannya, yang berdatangan dari berbagai tempat. Di lembaga termasyhur inilah Ibnu An-Nafis belajar kedokteran di bawah bimbingan Ad-Dakhwar dan ‘Imran Al-Isra’ili (w. 637 H = 1239 M)—seorang tabib jenius yang digambarkan oleh Ibnu Abi Ushaybi’ah (yang seangkatan dengan Ibnu An-Nafis dalam belajar di bawah bimbingannya) sebagai berikut:
“Ia telah mengobati banyak penyakit kronis yang penderitanya telah bosan hidup dan para tabib putus asa untuk menyembuhkan mereka, lalu mereka sembuh di tangannya dengan obat-obatan aneh yang ia resepkan atau terapi-terapi brilian yang ia ketahui.”
Di Kairo
Pada tahun (633 H = 1236 M), Ibnu An-Nafis berhijrah ke Kairo. Ia bergabung dengan Bimaristan An-Nashiri (Rumah Sakit An-Nashiri), dan dengan kesungguhan serta kerja kerasnya, ia berhasil menjadi kepala rumah sakit tersebut, sekaligus dekan sekolah kedokteran yang bergabung dengannya. Kemudian, beberapa tahun kemudian, ia pindah ke Bimaristan Qalawun setelah rumah sakit ini selesai dibangun pada tahun (680 H = 1281 M).
Ia tinggal di Kairo dalam kehidupan yang makmur di sebuah rumah yang indah. Ia memiliki majelis yang dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, dan penuntut ilmu—mereka mengajukan masalah-masalah kedokteran, fikih, dan sastra. Orang-orang sezamannya menggambarkannya sebagai pribadi yang mulia (karimun nafs), baik budi pekertinya, jujur (sharih) pendapatnya, dan taat beragama dengan mazhab Syafi’i. Oleh karena itu, As-Subki mengkhususkan sebuah biografi (tarjamah) untuknya dalam kitabnya “Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra” (Lapisan-lapisan Ulama Syafi’i Besar), karena menganggapnya sebagai seorang fakih (ahli fikih) bermazhab Syafi’i. Sebelum wafat, ia mewakafkan seluruh harta dan propertinya untuk Bimaristan Al-Manshuri.
Ibnu An-Nafis dan Peredaran Darah
Nama Ibnu An-Nafis melekat dengan penemuannya tentang peredaran darah kecil (pulmonal) yang ia catat dalam bukunya “Syarh Tasyrih Al-Qanun” (Penjelasan Anatomi dari Al-Qanun). Namun, fakta ini tetap tersembunyi selama berabad-abad lamanya, dan secara keliru dinisbatkan kepada tabib Inggris Harvey (w. 1068 H = 1657 M)—yang meneliti tentang peredaran darah lebih dari tiga setengah abad setelah wafatnya Ibnu An-Nafis. Manusia terus-menerus mewarisi kekeliruan ini hingga Dr. Muhyiddin Ath-Thathawi menjelaskan fakta sebenarnya dalam disertasi ilmiahnya.
Tabib Italia “Albagh” (Alpago) telah menerjemahkan pada tahun (954 H = 1547 M) bagian-bagian dari kitab Ibnu An-Nafis “Syarh Tasyrih Al-Qanun” ke dalam bahasa Latin. Tabib ini tinggal di “Ar-Ruha” (Edessa) hampir tiga puluh tahun dan mahir berbahasa Arab untuk menerjemahkannya ke bahasa Latin. Bagian yang berhubungan dengan peredaran darah di paru-paru termasuk bagian yang diterjemahkan. Namun, terjemahan ini hilang. Kebetulan, seorang ilmuwan Spanyol—bukan dari kalangan tabib—bernama “Servetus” (Miguel Servet) yang sedang belajar di Universitas Paris, membaca terjemahan Albagh dari kitab Ibnu An-Nafis. Karena dituduh menyimpang dalam akidahnya, ia diusir dari universitas, lalu terlantar di antara kota-kota, dan akhirnya dihukum mati dibakar bersama sebagian besar kitab-kitabnya pada tahun (1065 H = 1553 M). Namun, telah ditakdirkan bahwa sebagian kitabnya selamat dari pembakaran, dan di antara yang selamat adalah apa yang ia kutip dari terjemahan Albagh (dari kitab Ibnu An-Nafis) tentang peredaran darah. Para peneliti pun mengira bahwa keutamaan penemuan ini adalah milik ilmuwan Spanyol ini, lalu setelahnya milik Harvey—hingga tahun (1343 H = 1924 M), ketika tabib Mesir itu meluruskan kekeliruan ini dan mengembalikan hak kepada pemiliknya (yang sebenarnya).
Apa yang ditulis oleh Ath-Thathawi membangkitkan minat para peneliti, terutama Meyerhof, orientalis Jerman, yang menulis dalam salah satu penelitiannya tentang Ibnu An-Nafis:
“Yang mencengangkan bagiku adalah kemiripan, bahkan kesamaan beberapa kalimat fundamental dalam perkataan Servetus dengan perkataan Ibnu An-Nafis yang diterjemahkan secara harfiah.”
Ketika “Ad-Dumaili” membaca kedua teks tersebut, ia berkata:
“Ibnu An-Nafis memiliki deskripsi tentang peredaran kecil (pulmonal) yang perkataannya sama persis dengan perkataan Servetus. Maka sesungguhnya hak yang tegas (haqq ash-sharih) adalah bahwa penemuan peredaran utama (besar dan kecil) dinisbatkan kepada Ibnu An-Nafis, bukan kepada Servetus atau Harvey.”
Namun, penemuan peredaran darah kecil (pulmonal) hanyalah satu dari sekian banyak kontribusinya. Karena pria ini—menurut penelitian-penelitian baru yang ditulis tentang dia—telah menemukan peredaran kecil dan peredaran besar dalam sistem peredaran darah, merumuskan teori brilian tentang penglihatan dan proses melihat (cahaya), mengungkap banyak fakta anatomi, menghimpun pengetahuan medis dan farmasi yang terpencar-pencar pada zamannya, dan menyumbangkan bagi ilmu pengetahuan kaidah-kaidah penelitian ilmiah serta konsep-konsep metode ilmiah eksperimental.
Karya-karya Ibnu An-Nafis
Ibnu An-Nafis memiliki banyak karya. Sebagian telah diterbitkan, dan sebagian lainnya masih terperangkap di rak-rak manuskrip, belum pernah dilihat cahaya. Di antara karya-karyanya:
Syarh Fushul Abqrat (Penjelasan Aforisme Hippocrates), diterbitkan di Beirut dengan tahqiq oleh Mahir Abdul Qadir dan Yusuf Zaidan pada tahun (1409 H = 1988 M).
Al-Muhadzdzab fi Al-Kuhl Al-Mujarrab (Rangkuman tentang Celak Mata yang Teruji), diterbitkan dengan tahqiq oleh Zhafir Al-Wafa’i dan Muhammad Rawas Qal’ah Ji di Rabat pada tahun (1407 H = 1986 M).
Al-Mujaz fi Ath-Thib (Ringkasan Kedokteran), diterbitkan beberapa kali, termasuk dengan tahqiq oleh Abdul Mun’im Muhammad Umar di Kairo pada tahun (1406 H = 1985 M), didahului oleh terbitan Max Meyerhof dan Yusuf Schacht dalam publikasi Oxford pada tahun (1388 H = 1968 M).
Al-Mukhtashar fi Ushul ‘Ilm Al-Hadits (Ringkasan tentang Pokok-pokok Ilmu Hadis), diterbitkan dengan tahqiq oleh Yusuf Zaidan di Kairo pada tahun (1412 H = 1991 M).
Syarh Tasyrih Al-Qanun (Penjelasan Anatomi Al-Qanun)—diterbitkan dengan tahqiq oleh Dr. Salman Qatabah di Kairo pada tahun (1408 H = 1988 M). Ini adalah salah satu kitab terpentingnya, dan nilainya tampak dalam deskripsinya tentang peredaran darah kecil, serta penemuannya bahwa otot-otot jantung mendapatkan nutrisi dari pembuluh-pembuluh yang tersebar di dalamnya—bukan dari darah yang ada di rongganya. Dalam kitab ini, tampak kepercayaan diri Ibnu An-Nafis terhadap ilmunya, karena ia membantah perkataan dua tabib teragung yang dikenal oleh bangsa Arab pada zamannya, yaitu Galenus (Jalinus) dan Ibnu Sina.
Namun, karya terbesarnya terletak pada ensiklopedianya yang monumental yang dikenal sebagai “Asy-Syamil fi Ash-Shina’ah Ath-Thibbiyyah” (Ensiklopedia Kedokteran). Dr. Yusuf Zaidan di Mesir telah mengerahkan upayanya untuk menyelesaikannya, dan berhasil mengumpulkan bagian-bagian manuskrip kitab ini. Kompleks Kebudayaan (Al-Mujamma’ Ats-Tsaqafi) di Abu Dhabi melihat pentingnya karya ini, lalu mengambil inisiatif untuk menerbitkannya dalam bentuk tahqiq (edisi kritis). Bagian pertama dari karya ini terbit pada tahun (1422 H = 2001 M), dan penerbitan sisanya secara bertahap masih dinantikan.
Ibnu An-Nafis telah menulis draf (masuwwadat) ensiklopedianya dalam tiga ratus jilid, lalu ia mengetik atau membuatkan salinan putih (bayyadh) sebanyak delapan puluh jilid. Karya ini merupakan formulasi ilmiah dari upaya-upaya ilmiah kaum muslimin dalam kedokteran dan farmasi selama lima abad kerja berkesinambungan. Ibnu An-Nafis menyusunnya untuk menjadi pelita (nibras) dan petunjuk bagi mereka yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu kedokteran.
Wafatnya
Ibnu An-Nafis, di samping kejeniusannya dalam kedokteran, juga seorang filsuf, ahli sejarah, fakih, dan ahli bahasa (linguist). Ia memiliki karya-karya dalam bahasa dan nahwu (gramatika), sehingga Ibnu An-Nahas—ahli bahasa terkenal—tidak meridai perkataan siapa pun di Kairo tentang nahwu selain perkataan Ibnu An-Nafis. Ibnu An-Nafis menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, menulis atau mengarang, atau mengajar murid-muridnya.
Di hari-hari terakhirnya, setelah mencapai usia delapan puluh tahun, ia menderita sakit parah selama enam hari. Para tabib berusaha mengobatinya dengan khamr (anggur), tetapi ia menolaknya dari mulutnya—meskipun sedang merasakan pedihnya sakit—sambil berkata:
“Aku tidak ingin bertemu Allah Ta’ala sementara dalam perutku masih ada sesuatu dari khamr!”
Dan penyakit itu tidak berkepanjangan. Ia wafat pada sahur hari Jumat, bertepatan dengan tanggal (21 Dzulqa’dah 687 H = 17 Desember 1288 M).
Sumber-Sumber Studi
Adz-Dzahabi: Siyar A’lam An-Nubala’, tahqiq: Syu’aib Al-Arna’uth dkk., Mu’assasah Ar-Risalah – Beirut, 1985 M.
Ibnu Fadhlillah Al-‘Umari: Masalik Al-Abshar fi Mamalik Al-Amshar (salinan manuskrip), diterbitkan oleh Institut Sejarah Ilmu Pengetahuan Arab dan Islam, Frankfurt – Jerman Barat (1408 H = 1988 M).
Bulus Ghaylunji: Ibnu An-Nafis, seri “A’lam Al-‘Arab” (Tokoh-tokoh Arab), Ad-Dar Al-Mishriyyah li At-Ta’lif wa At-Tarjamah – Kairo (1402 H = 1982 M).
Ahmad Isa: Mu’jam Al-Athibba’ (Ensiklopedia Tabib), Dar Ar-Ra’id Al-‘Arabi – Beirut, cetakan foto dari edisi Kairo (1402 H = 1982 M).
Kamal As-Samarra’i: Mukhtashar Tarikh Ath-Thib (Ringkasan Sejarah Kedokteran), Dar An-Nidal – Beirut (1410 H = 1990 M).
Sumber: Islam Story





