TEL AVIV, 31 Mei 2026 — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, meningkatkan retorika ekstremnya terhadap Lebanon. Ia menyerukan kelanjutan operasi militer, menolak pengaturan gencatan senjata apa pun, dan menuntut perluasan serangan Israel di pinggiran selatan Beirut.
Selama kunjungan ke daerah Shlomi di perbatasan utara Israel, Ben-Gvir mengatakan bahwa Israel harus melanjutkan kebijakan yang lebih keras terhadap Hizbullah. Ia menganggap bahwa operasi militer yang sedang berlangsung masih belum cukup untuk mencapai tujuan yang dianggapnya perlu.
Menteri ekstremis Israel itu menambahkan bahwa ia sebelumnya telah menentang perjanjian gencatan senjata, menegaskan penolakannya terhadap setiap de-eskalasi baru, dan menyerukan peningkatan serangan militer terhadap basis-basis Hizbullah di Lebanon.
Ia juga memuji kinerja tentara Israel selama operasi terakhir, merujuk pada apa yang dikatakannya sebagai kerugian yang diderita Hizbullah dalam beberapa pekan terakhir, tetapi menganggap bahwa hal itu belum mencapai, dari sudut pandangnya, tingkat respons militer yang diperlukan.
Ben-Gvir menyampaikan pesan langsung kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menuntutnya untuk mengambil langkah-langkah yang lebih keras dalam mengelola konfrontasi dengan Hizbullah. Ia menekankan perlunya melanjutkan tekanan militer dan tidak menerima penghentian operasi.
Pernyataan Ben-Gvir ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di front Lebanon dan kelanjutan operasi militer timbal balik antara tentara Israel dan Hizbullah. Ini terjadi bersamaan dengan perluasan serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon selatan dan sekitar Nabatiyah, di tengah kekhawatiran yang meningkat bahwa konfrontasi akan tergelincir ke fase yang lebih luas.
Pernyataan menteri Israel ini mencerminkan posisi garis keras sayap kanan di dalam pemerintahan Israel, yang menyerukan perluasan operasi militer terhadap Hizbullah dan menolak jalur apa pun yang mengarah pada gencatan senjata sebelum tujuan keamanan dan militer yang lebih luas tercapai. Hal ini terjadi pada saat upaya diplomatik internasional terus berlanjut untuk menahan eskalasi dan mencegah meluasnya perang di perbatasan Lebanon-Israel.
Sumber: Al Jazeera





