HEBRON, 6 Juni 2026 — Usia bayi Wisam Abu Hikal tidak cukup baginya untuk mengingat wajah dunia, atau untuk memahami makna hidup dan mati. Hanya tujuh bulan yang memisahkan antara tangisan pertamanya di dunia ini dan saat terakhir suaranya menghilang di bawah tanah Hebron, setelah ia gugur sebagai syahid akibat tembakan pasukan pendudukan Israel dalam sebuah insiden yang mengguncang Tepi Barat.
Di kota yang telah lelah dengan ketegangan dan penggerebekan berulang, kendaraan keluarga Wisam melaju seperti biasa, sebelum jalan itu berubah dalam sekejap menjadi panggung tragedi. Tembakan dilepaskan ke arah mobil, mengenai bayi yang berada di pangkuan ibunya, memulai babak baru dari kehilangan Palestina yang tidak membedakan antara anak-anak dan orang dewasa.
Koresponden Al Jazeera dari Hebron, Laith Sha’ar, mewawancarai ibu yang terluka di tempat tidur rumah sakit. Dengan rasa sakit yang tak tertahankan, ia menceritakan saat-saat terakhir, mengatakan bahwa ia sedang mendekap putranya ketika tembakan terdengar. Peluru itu menembus tangan suaminya sebelum bersarang di tubuh bayinya yang kecil. Kata-katanya bergetar, seperti hatinya yang hancur karena kehilangan bagian terberharganya dalam sekejap.
Sang ayah, yang hanya ditemani oleh rasa syok, mengatakan bahwa kendaraan itu berhenti dan ia mengangkat tangannya, tetapi itu tidak menghentikan peluru mencapai anaknya. Suaranya berat karena keterkejutan saat ia mengulangi bahwa apa yang terjadi tidak dapat dibenarkan, dan bahwa “kesalahan” yang diduga tidak akan mengembalikan nyawa seorang anak yang tidak mengenal dunia selain dari kehangatan pelukan ibunya.
Perpisahan di Rumah Sakit
Di rumah sakit, sang ibu mengucapkan selamat tinggal kepada putranya untuk terakhir kalinya sebelum ia dimakamkan, sementara ia masih berada di tempat tidur perawatan. Ia menatapnya seolah mencoba memahami bahwa tubuh mungil yang digendongnya beberapa jam sebelumnya tidak akan pernah bergerak lagi. Pemandangan itu nyaris merupakan kehancuran manusia total, di mana luka fisik bersinggungan dengan luka yang lebih besar di hati yang tak kunjung sembuh.
Jenazah Wisam dimakamkan di Hebron di tengah suasana duka dan kemarahan, sementara pemandangan itu mencerminkan besarnya kehilangan yang berulang di Tepi Barat. Seorang anak yang belum genap setahun, menjadi nama baru dalam daftar panjang korban, termasuk ratusan anak-anak yang tewas dalam eskalasi yang sedang berlangsung.
Kisah Wisam bukanlah peristiwa yang terisolasi, melainkan kelanjutan dari lanskap pelanggaran yang lebih luas yang menimpa warga sipil di Tepi Barat, di mana jalan-jalan berubah menjadi titik konfrontasi, kendaraan menjadi sasaran, dan rumah-rumah menjadi tempat perpisahan dini.
Wisam pergi sebelum dia dapat mengucapkan sepatah kata pun, dan sebelum dia dapat melangkahkan kaki pertamanya, meninggalkan seorang ibu yang masih memeluk ingatan akan anaknya, dan seorang ayah yang dihadapkan pada satu pertanyaan yang tidak terjawab: bagaimana bisa tujuh bulan saja merangkum seluruh kehidupan dan berakhir dengan sebuah peluru?
Sumber: Al Jazeera





