A. Dr. Raghib As-Sirjani
Ringkasan Artikel:
Sifat terpenting Rasulullah ﷺ adalah bahwa beliau adalah utusan dari sisi Allah. Karena itulah, Allah menggunakan gaya bahasa penegasan (hasr) ketika memperkenalkannya dengan firman-Nya:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (Q.S. Ali ‘Imran: 144)
Sifat Allah kepada Rasul-Nya sebagai Pembawa Kabar Gembira dan Pemberi Peringatan
Pertama: Beliau disifati sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
Di antara sifat Nabi Muhammad ﷺ yang paling ditekankan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya adalah sifat memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Allah Ta’ala berfirman, misalnya:
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ
“Sesungguhnya Kami mengutusmu dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” (Q.S. Al-Baqarah: 119)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” (Q.S. Al-Ahzab: 45)
Hal yang sama diulang dalam Surat Al-Fath:
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” (Q.S. Al-Fath: 8)
Tugas pokok Rasulullah ﷺ adalah menjelaskan jalan petunjuk kepada manusia. Ini berarti bahwa ada jalan lain, yaitu jalan kesesatan dan kebinasaan, yang harus diwaspadai manusia agar tidak memasukinya. Inilah makna firman Tuhan kita:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.S. Al-Balad: 10)
Maksudnya, dua jalan: jalan kebaikan dan jalan kejahatan, atau jalan petunjuk dan jalan kesesatan.
Maka tugas Rasulullah ﷺ adalah menjelaskan ciri-ciri kedua jalan tersebut kepada manusia. Memberi kabar gembira bahwa siapa yang menempuh jalan petunjuk akan sampai pada rida Allah, sehingga bahagia di dunia dan akhirat. Memberi peringatan bahwa siapa yang menempuh jalan kesesatan akan sampai pada murka Allah, sehingga sengsara di dunia dan akhirat. Demikianlah inti tugas beliau: kabar gembira dan peringatan.
Hasil Penelitian Statistik Penulis tentang Ayat-ayat Basyir dan Nadzir
Khusus mengenai kabar gembira dan peringatan, penulis telah melakukan beberapa penghitungan statistik dalam Kitabullah dan berhasil menemukan beberapa hasil yang bermakna. Hasil ini dapat memberi kita gambaran yang lebih dalam tentang metode dan sarana dakwah.
Pertama: Penyifatan Rasulullah ﷺ sebagai “Pemberi Peringatan” Saja
Rasulullah ﷺ disifati sebagai “an-nadzir” (pemberi peringatan) saja dalam 39 ayat di dalam Al-Qur’anul Karim. Contohnya:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Katakanlah: ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang jelas kepadamu.'” (Q.S. Al-Hajj: 49)
بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ
“Bahkan Al-Qur’an itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi pemberi peringatan sebelum engkau.” (Q.S. As-Sajdah: 3)
إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ
“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan.” (Q.S. Ar-Ra’d: 7)
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Q.S. Al-Furqan: 1)
Fakta Menarik:
Seluruh 39 ayat yang menyifati Rasulullah ﷺ sebagai “pemberi peringatan saja” (tanpa digandengkan dengan “pembawa kabar gembira”) hanya ditemukan dalam surat-surat Makkiyah. Tidak ada satu pun dalam surat Madaniyah!
Hal ini menunjukkan bahwa dialog dengan orang-orang musyrik—atau secara umum para pengingkar Allah, atau mereka yang melampaui batas terhadap diri sendiri dalam kemaksiatan dan menjauh dari Allah—mereka semua lebih membutuhkan peringatan daripada kabar gembira. Mereka lebih tercegah dengan ancaman daripada dengan kemudahan, dan lebih dengan intimidasi daripada dengan motivasi.
Kedua: Penyifatan Rasulullah ﷺ sebagai “Pembawa Kabar Gembira” Saja
Di sisi lain, penyifatan Rasulullah ﷺ sebagai “pembawa kabar gembira saja” (al-basyir) terjadi dalam 8 ayat. Semuanya bersifat umum dan dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja. Contoh:
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللهِ فَضْلًا كَبِيرًا
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 47)
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)
وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang khusyuk.” (Q.S. Al-Hajj: 34)
Fakta Menarik:
Enam dari delapan ayat ini (75%) turun di Madinah, dan hanya dua ayat (25%) yang turun di Makkah. Ini mengarah pada kesimpulan yang sama dengan data sebelumnya, bahwa dalam berdakwah kepada ahli syirik, peringatan lebih dominan, sedangkan dalam berdialog dengan ahli iman, pembicaraan tentang kabar gembira lebih utama.
Ketiga: Ayat-ayat yang Menyifati Rasulullah dengan Kedua Sifat Sekaligus
Sebagai pelengkap, ada data ketiga yang menarik, yaitu tentang ayat-ayat yang menyifati Rasulullah ﷺ dengan kabar gembira dan peringatan secara bersamaan. Penulis menemukan 15 ayat.
Dalam ayat-ayat ini, Allah mendahulukan kabar gembira daripada peringatan dalam 11 kali (73,3%), seperti firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Q.S. Saba’: 28)
فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا
“Maka sesungguhnya Kami telah memudahkan (Al-Qur’an) dengan bahasamu, agar engkau memberi kabar gembira dengannya kepada orang-orang yang bertakwa, dan memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membantah.” (Q.S. Maryam: 97)
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Wahai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan (syariat) kepada kalian di masa terputusnya (pengutusan) rasul-rasul, agar kalian tidak mengatakan: ‘Tidak pernah datang kepada kami pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.’ Sungguh, telah datang kepada kalian pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ma’idah: 19)
Sedangkan peringatan didahulukan atas kabar gembira hanya dalam 4 ayat (26,7%), seperti firman-Nya:
إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ
“Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira.” (Q.S. Al-A’raf: 188)
أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ
“Apakah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: ‘Berilah peringatan kepada manusia dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa bagi mereka kedudukan yang mulia di sisi Tuhan mereka.'” (Q.S. Yunus: 2)
Fakta Menarik:
Seluruh 4 ayat yang didahulukan peringatan di atas adalah Makkiyah! Ini sangat sesuai dengan data-data sebelumnya. Adapun ayat-ayat yang didahulukan kabar gembira (11 ayat), 6 di antaranya Makkiyah (54,5%) dan 5 Madaniyah (45,5%). Ini berarti semua ayat Madaniyah selalu diawali dengan kabar gembira—sesuai dengan kondisi iman di Madinah. Sedangkan ayat-ayat Makkiyah, terkadang berbicara tentang kabar gembira terlebih dahulu, namun secara umum peringatan tetap dominan.
Penutup
Sesungguhnya Al-Qur’an tidak saling bertentangan satu bagian dengan bagian lainnya. Maha Benar Allah ketika berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa’: 82)
Catatan Penting:
Perlu diketahui bahwa ada ayat-ayat lain yang terkait dengan kabar gembira dan peringatan, tetapi tidak dikhususkan untuk Rasulullah ﷺ, melainkan untuk rasul-rasul lain atau untuk petunjuk Al-Qur’an secara umum. Karena itulah, penulis tidak memasukkannya dalam data statistik ini[1].
Footnote:
[1] Lihat: Dr. Raghib As-Sirjani, Man Huwa Muhammad, Dar At-Taqwa untuk Percetakan dan Penerbitan, Kairo, cetakan pertama, 1442 H = 2021 M, hlm. 47-49.
Sumber: Islam Story





