Heidi Levin, seorang wartawan foto untuk The Washington Post yang menjadi korban penganiayaan pemukim Israel di Tepi Barat pekan lalu, mengaku insiden mengerikan itu membuatnya kian memahami penderitaan yang dialami kaum perempuan dan anak-anak Palestina.
Saat diwawancarai CNN, ia mengungkapkan rasa pedih yang mendalam karena kini bisa merasakan langsung pengalaman pahit rakyat Palestina.
Ia menyadari statusnya sebagai warga negara Amerika Serikat dan wartawan media ternama membuat kisah pengeroyokannya langsung disorot dunia. Namun, ia tidak bisa membayangkan nasib para korban lain yang mengalami kejadian serupa tanpa perhatian media, padahal mereka harus menghadapi ancaman kekerasan itu setiap hari. Peristiwa ini makin menguatkan tekadnya untuk terus bekerja dan menyuarakan kebenaran.
Serangan Mengerikan
Levin, jurnalis foto veteran yang berpengalaman meliput wilayah Timur Tengah, diserang saat mengabadikan momen panen zaitun bersama warga lokal dan beberapa wartawan lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, aksi kekerasan di Tepi Barat memang terus melonjak seiring maraknya pembukaan pemukiman baru yang didukung aparat. Petani Palestina yang menggantungkan hidup dari hasil zaitun pun kerap menjadi sasaran empuk.
Awalnya kegiatan panen berjalan lancar. Namun, Levin melihat kerumunan massa mulai berkumpul di area bukit dekat lokasi. Kelompok yang didominasi anak muda ini datang mengenakan topeng hitam dan atribut keagamaan khas pemukim Israel.
Jumlah mereka membengkak hingga puluhan orang. Tak lama kemudian, mereka membakar pohon zaitun dan merangsek mendekat hingga situasi berubah menjadi kacau balur. Suara tembakan dan letupan gas air mata membumbung di udara, bahkan seorang warga Palestina tertembak di bagian kaki.
Levin roboh ke tanah lalu dipukuli dan ditendang berulang kali menggunakan kayu. Saking lamanya penganiayaan itu berlangsung, ia sempat terpikir untuk berpura-pura mati agar para pelaku berhenti.
Massa lantas merampas seluruh perlengkapannya, mulai dari tas kamera, lensa, hingga tas kecil berisi dokumen penting dan paspor. Setelah itu, tubuhnya ditarik paksa untuk berdiri. Rekaman video saat ia ditarik berdiri inilah yang kemudian viral dan memicu perdebatan sengit.
Melawan Narasi Palsu
Levin menepis klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut video tersebut memperlihatkan seseorang yang beritikad baik membantunya berdiri setelah terjatuh.
Ia menegaskan narasi itu bohong. Para pelaku menarik tubuhnya hanya karena kesulitan merampas barang-barang miliknya saat ia terkapar di tanah, termasuk kalung emas kenangan dari putrinya.
Aksi brutal itu baru terhenti setelah jurnalis Jasper Nathaniel dan beberapa warga setempat memberanikan diri menerobos massa untuk menolongnya. Meski begitu, ancaman belum usai. Para pelaku terus mengejar dan menghujani mereka dengan lemparan batu saat berusaha melarikan diri.
Levin menggambarkan momen tersebut bak pertarungan era purba, di mana para pria Palestina pasang badan pasrah mempertaruhkan nyawa demi melindungi dirinya dan sang penolong dari amukan massa. Tanpa keberanian warga lokal tersebut, Levin meyakini nasib mereka akan berakhir jauh lebih tragis.
Meski sempat mengenakan helm dan rompi pelindung, Levin mengalami cedera parah, termasuk patah tulang rusuk, retak tulang belakang, hingga cedera serius pada jari tangan yang membuatnya harus menjalani operasi.
Gelombang Kecaman
Aksi penyerangan ini memicu gelombang kecaman internasional dari asosiasi pers asing, Gedung Putih, hingga Presiden Israel Isaac Herzog. Di sisi lain, Netanyahu justru terkesan meragukan kronologi kejadian tersebut.
Sehari pasca insiden Levin, para pemukim kembali berulah dengan menyerang rombongan diplomat Eropa di kota Taybeh. Kepolisian Israel belakangan mengamankan setidaknya 10 orang yang diduga terlibat dalam dua aksi kekerasan tersebut.
Budaya Impunitas
Laporan CNN menyebutkan sebagian besar warga Palestina yang menjadi korban kekerasan jarang mendapat keadilan. Lembaga HAM Yesh Din mencatat ada lebih dari 530 kasus kekerasan yang melibatkan pemukim dan tentara sejak musim panen dimulai akhir September. Bentuk kejahatan ini melingkupi penganiayaan fisik, perampasan hasil panen dan ternak, hingga pengrusakan ladang zaitun. Seperempat dari total kejadian tersebut bahkan berlangsung di depan mata tentara yang terkesan membiarkannya.
Perluasan pos-pos pemukiman liar tumbuh pesat sejak pemerintahan Netanyahu dilantik pada akhir 2022. Seiring dengan ekspansi tersebut, titik-titik kekerasan kini meluas ke area yang dulunya relatif aman.
Empat dekade meliput kawasan tersebut, Levin mengaku belum pernah melihat eskalasi konflik di Tepi Barat separah saat ini, dan ia khawatir situasinya akan terus memburuk karena otoritas setempat seperti kehilangan kendali.
Sumber: CNN, Al Jazeera





