Kita ketahui bahwa asas dakwah di dalam Alquranul Karim itu tegak di atas tiga landasan, yaitu:
1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada para rasul, dan
3. Beriman kepada hari kebangkitan dari kubur dan pembalasan.
Para rasul telah berdakwah dan menyeru manusia untuk mengesakan Allah dan melarang mereka dari menyekutukan-Nya. Mereka telah menjelaskan hakikat tauhid itu dengan uslub yang beraneka ragam. Antara lain dengan mem-perhatikan ayat-ayat kauniyah, mengingatkan manusia akan nikmat Allah, menjelaskan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada-Nya, atau dengan argumen-argumen yang logis, dengan membuat permisalan-permisalan, atau dengan merenungi diri manusia itu sendiri dan cakrawala alam semesta.
Coba dengarkan bagaimana Al-Quran mengajak kita untuk berpikir dan merenung. Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat berikut.
قُلْ لَّوْ كَانَ مَعَهٗٓ اٰلِهَةٌ كَمَا يَقُوْلُوْنَ اِذًا لَّابْتَغَوْا اِلٰى ذِى الْعَرْشِ سَبِيْلًا ٤٢ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَقُوْلُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا ٤٣ تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤
“Katakanlah, “Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada tuhan yang mempunyai Arsy’. Benar-benar Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan. Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (Al-Isra’: 42-44)
Dalam ayat lain Allah berfirman lagi,
لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ٢٢
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”. (Al-Anbiya’: 22)
Allah Swt. itu bebas dari sahabat, anak dan sekutu, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa firman-Nya,
وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهٗ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍ ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَصِفُوْنَࣖ ١٠٠ بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنّٰى يَكُوْنُ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَمْ تَكُنْ لَّهٗ صَاحِبَةٌۗ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١٠١
“Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan), ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,” tanpa ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi (Dia) dari sifat-sifat yang mereka tetapkan. Dia Pencipta langit dan bumi. menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu” (Al-An’am: 100-101).
Mereka berkata,
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًاۗ ٨٨ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا اِدًّاۙ ٨٩ تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّاۙ ٩٠ اَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًاۚ ٩١ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لِلرَّحْمٰنِ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًاۗ ٩٢
“Tuhan yang Maha Pemurah itu mengambil anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Tidak pantas bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak”. (Maryam: 88-92)
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩ اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ٦٠ فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦٢ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُفْسِدِيْنَࣖ ٦٣
“Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah dia. (Apa yang telah kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu. Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istrimu, diri kami dan dirimu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Ali Imran: 59-63)
Alangkah besar pengingkaran terhadap suatu kaum yang tidak suka terhadap anak perempuan dan wajah-wajah mereka menjadi hitam apabila di antara mereka dikaruniai anak perempuan. Mereka pun menjadikan untuk Allah apa yang mereka sendiri tidak menyukainya, maka Al-Quran mengingkari mereka dalam masalah ini. Allah berfirman,
فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ ١٤٩ اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمْ شٰهِدُوْنَ ١٥٠ اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ ١٥١ وَلَدَ اللّٰهُۙ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ ١٥٢ اَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِيْنَۗ ١٥٣ مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ ١٥٤ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَۚ ١٥٥ اَمْ لَكُمْ سُلْطٰنٌ مُّبِيْنٌۙ ١٥٦ فَأْتُوْا بِكِتٰبِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٥٧ وَجَعَلُوْا بَيْنَهٗ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًاۗ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ اِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ ١٥٨ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَۙ ١٥٩
“Tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Makkab), “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki? Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya?” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka karena kebohongannya benar-benar berkata, “Allah beranak.” Sesungguhnya mereka benar-benar berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu memutuskan seperti itu? Apakah kamu tidak berfikir? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. Mereka mengadakan (hubungan) nasab antara Allah dengan jin. Sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan”. (Ash-Shafat: 149-159)
Dengan kata-kata yang bijaksana dan argumen yang benar itulah para rasul menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Tidak ada yang berbeda antara utusan yang satu dengan yang lainnya. Mereka meyakinkan risalah dan kerasulannya dengan menampakkan sikap jujur, karena setiap nabi dan rasul memang memiliki sifat itu. Setiap nabi mengatakan kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku yang diutus kepadamu adalah rasul yang terpercaya.”
Selain menampakkan sebagian mukjizat dari sisi Tuhan kepada kaumnya untuk menguatkan kebenaran risalahnya, rasul juga mendatangkan berbagai bukti dan argumen yang lain. Sesungguhnya apa yang dibawa berupa kebenaran itu diturunkan dari sisi Allah Swt. dengan uslub yang bijak, argumen yang mantap, dan bukti yang nyata, agar benar-benar bisa diterima dengan lapang dada oleh objek dakwah, bukan karena paksaan. Sesungguhnya inilah jalan yang benar. Jika mereka telah beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan dalil-dalil naqli dan aqli (wahyu dan logika), dan ketika keimanan itu telah meresap di hati mereka, maka para rasul kemudian mengajak mereka untuk beriman kepada hari dibangkitkannya manusia dari kubur. Karena hal itu termasuk masalah gaib yang tidak mungkin bisa dicapai oleh akal kecuali setelah beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Beriman pada rasul-rasul Allah a.s. mengandung konsekuensi beriman terhadap apa yang mereka bawa. Di antara yang terpenting dari yang mereka bawa adalah mengajak untuk beriman kepada “hari kebangkitan” dan hisab serta pembalasan. Oleh karena itu, mengingkari adanya hari kebangkitan sama dengan mengingkari apa yang dibawa oleh para rasul.
Coba dengarkan bagaimana metode Al-Quran dalam mengajak manusia untuk beriman kepada hari kebangkitan dengan mengambil dalil dari awal penciptaan manusia. Karena jika Allah yang memulai menciptakan, maka logikanya Dia pasti mampu untuk mengulanginya. Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat berikut:
اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ ٧٧ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ ٧٨ قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌۙ ٧٩
“Apakah manusia tidak memperhatikan, bahrwa Kami menciptakannya membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kejadiannya; ia berkata, dari setitik air (mani), lalu tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata, Dia lulub?” Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 77-79)
وَيَقُوْلُ الْاِنْسَانُ ءَاِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ اُخْرَجُ حَيًّا ٦٦ اَوَلَا يَذْكُرُ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْـًٔا ٦٧
“Dan berkata manusia, “Benarkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” Dan tidakkab manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia belum ada sama sekali.” (Maryam: 66-67)
اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٣٨ فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ ٣٩ اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِىَ الْمَوْتٰىࣖ ٤٠
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian itu berkuasa (pula) untuk menghidupkan orang mati?” (Al-Qiyamah: 37-40)
Dengarkanlah seruan yang membangunkan orang-orang yang tidur dan mengingatkan orang-orang yang lalai serta menambah keimanan orang-orang yang beriman.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ ۢ بَهِيْجٍ ٥ ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ٦ وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging. Ada yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur angsur) sampailah kamu pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan, dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering. Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah ra dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah kebenaran dan sesungguhnya Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur” (Al-Haj: 5-7).
Bila disimak, engkau mendapati cara berdakwah sebagai berikut:
1. Menjelaskan dengan argumen bukan dengan kekerasan, dengan bukti bukan dengan paksaan, dengan lisan yang baik bukan dengan gertakan.
2. Menghadapi berbagai tuduhan yang disebarkan dengan memfungsikan akal dan menegakkan dalil, dengan berbagai cara dalam bentuk yang beragam sesuai dengan tingkat pemikiran audiens, hingga tidak ada satu sisi pun yang diragukan.
3. Menggunakan metode targhib (membuat senang) dan tarhib (menakut. nakuti) di dalam dakwah dengan penyampaian yang mantap.
4. Menampakkan keteladanan yang baik dan menyampaikan contoh-contoh dari Al-Quran, agar akhlak seseorang sesuai dengan nilai-nilai yang tercantum di dalamnya.
Demikianlah Al-Quran mengajarkan kepada kita para dai tentang fiqih dakwah. Bahwasanya bukti itu merupakan sesuatu yang harus ada dalam genggaman seorang dai. Seorang objek dakwah berhak bertanya, dan wajib bagi seorang dai untuk menjawab dan memberi penjelasan, sekalipun di dalam pertanyaannya itu ada faktor yang memancing emosi, penghinaan, atau bahkan pelecehan.
Hal itu pernah dilakukan oleh Fir’aun kepada Musa. Fir’aun bertanya kepada Musa,
قَالَ فَمَنْ رَّبُّكُمَا يٰمُوْسٰى ٤٩ قَالَ رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى ٥٠ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ الْاُوْلٰى ٥١ قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَىۖ ٥٢ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا وَّسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۗ فَاَخْرَجْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْ نَّبَاتٍ شَتّٰى ٥٣ كُلُوْا وَارْعَوْا اَنْعَامَكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰىࣖ ٥٤
“Maka siapakah Tuhan kalian berdua, hai Musa? Musa menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” Fir’aun bertanya, “Lalu bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?” Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak pula lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan.” Lalu, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu bebagai jenis tetumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang orang yang berakal.” (Thaha: 49-54)
Sebagai contoh bacalah surat Hud, niscaya kamu akan dapatkan pelecehan kemarahan yang ditujukan pada setiap nabi dari kaumnya. Tetapi mereka tetap dan penghinaan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memancing menjawab dan menjelaskan, tanpa peduli dengan penghinaan dan pelecehan tersebut, karena tugas kerasulan menuntut mereka untuk menjelaskan.
Sumber : Fiqih Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz,




