Demikianlah, kata beralih dalam dakwah ini dari medan perasaan, semangat, khotbah, ceramah, dan makalah, menuju medan perencanaan, penataan, pengembalian pada orisinalitas, serta pengkodifikasian aturan perundangan. Bukanlah sesuatu yang aneh jika kebutuhan-kebutuhan ini sekarang terasa mendesak, karena dakwah telah semakin berkembang dan meluas, serta banyak pengalaman-pengalaman dan metode baru yang ditemukan. Perkembangan ini tidak akan terkontrol kecuali dengan mengungkap pokok-pokok dan kaidah-kaidahnya.
Permasalahan dakwah bukanlah sesuatu yang baru di antara sekian banyak permasalahan dalam khazanah Islam. Kaum muslimin telah mempelajari hadits Rasulullah Saw., baik secara riwayah maupun dirayah, hingga mereka merasa memerlukan ilmu ushul al-hadits dan musthalah-nya. Demikian juga terjadi pada ilmu-ilmu lain, seperti nahwu, sharaf, akidah, tafsir, tarikh, dan fikih. Sesungguhnya pokok dan kaidah ilmu itu datang pada fase yang terakhir.
Di saat ilmu-ilmu itu berkembang menjadi disiplin ilmu, ilmu dakwah masih berupa makalah-makalah yang dipindah-pindah dan cuplikan-cuplikan yang berserakan. Ia belum menjadi sebuah disiplin ilmu yang tersendiri, karena munculnya suatu disiplin ilmu memang diawali oleh kebutuhan terhadap ilmu tersebut. Masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang tertinggal atau terasing, akan tetapi mereka adalah subjek atau pelaku yang aktif. Kebanyakan mereka telah melaksanakan aktivitas dakwah, sebagaimana mereka hidup, makan, dan minum.
Dari Zaid bin Tsabit r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, ‘Apakah kamu pandai bahasa Suryani? Ada surat-surat yang datang kepadaku dari sana.’ Aku berkata, ‘Tidak.’ Nabi bersabda, ‘Belajarlah kamu bahasa Suryani.’ Maka aku mempelajarinya selama tujuh belas hari.” (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi).
Bukankah ini merupakan bukti yang paling jelas atas perhatian Rasulullah Saw. agar umat Islam memahami berbagai ilmu pengetahuan, peradaban, dan bahasa yang ada di sekelilingnya? Ia mengambil manfaat dan memberikan manfaat di bidang keahlian manusia, ilmu, dan agar para dai dapat melaksanakan risalahnya dengan mudah.
Demikianlah, sesungguhnya dai selain membutuhkan fikih, ilmu, dan perencanaan, juga membutuhkan dua sayap, yaitu sayap ketakwaan agar ia benar-benar total dalam beramal kepada Allah Swt., dan sayap kepekaan agar ia dapat terhindar dari tipu daya, rencana jahat, dan makar musuh. Betapa banyak orang yang bertakwa, tetapi ia tidak memiliki kepekaan, sehingga jatuh dalam perangkap musuh. Dan betapa banyak dai yang tidak memiliki ketakwaan, yang akhirnya tenggelam dalam kenikmatan dunia dan mengikuti hawa nafsunya.
Agar kamu mengetahui kebutuhan seorang dai terhadap kesadaran dan kepekaan, dengarkanlah apa yang pernah dikatakan oleh Jaladiston di majelis umum Inggris, ketika ia memegang kitab Allah di tangannya sambil meneriakkan kata-kata, “Sesungguhnya kalian tidak akan mengalahkan kaum muslimin selama kalian belum merobek-robek kitab (Al-Qur’an) ini.” Tiba-tiba ada salah seorang anggota majelis yang merebut kitab itu dan merobek-robeknya. Maka Jaladiston tidak berbuat apa-apa kecuali berkata kepada orang itu, “Alangkah bodohnya kamu. Yang saya maksud bukan merobek kertasnya, akan tetapi merobek-robek ajarannya dari dalam jiwa kaum muslimin.”
Sesungguhnya mereka ingin merobek ajaran Al-Qur’an, bukan merobek kertasnya. Mereka ingin membengkokkan jiwa, merobek hati, dan menghitamkannya, hingga hati enggan untuk menerima petunjuk Al-Qur’an yang Allah jadikan sebagai cahaya yang menerangi manusia.
Jaladiston terkutuk ini telah mengingatkan saya pada gurunya, yaitu Iblis yang menggoda Isa bin Maryam. Iblis berkata kepadanya, “Bukankah kamu mengatakan bahwa tidak akan ada yang menimpa kamu kecuali sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu?” Isa berkata, “Ya.” Iblis berkata, “Karena itu, lemparkanlah dirimu dari puncak gunung ini. Jika kamu ditakdirkan selamat, maka kamu akan selamat.” Maka Isa berkata, “Hai Iblis yang dilaknat, sesungguhnya Allah-lah yang berhak menguji hamba-Nya, bukan hamba yang menguji Tuhannya.” Maka Iblis yang kafir itu pun diam.
Alangkah pentingnya kita mengetahui secara mendalam dan memahami kata-kata setan dari kalangan manusia dan jin secara sama, agar kita dapat menolak atau mengembalikan tipu daya ke leher-leher mereka.
Sesungguhnya perbaikan dan perubahan itu tidak mungkin dapat dilakukan hanya dengan memberikan nasihat, mengeluarkan surat keputusan, memperindah makalah, dan memperpanjang khotbah atau pidato. Sesungguhnya perubahan itu ada dalam realitas kehidupan kita. Dari sinilah, seorang dai yang pantas untuk berbicara dalam Islam adalah seseorang yang paham terhadap kehidupan masyarakat dan problematikanya, kuat keterikatannya dengan wahyu yang tinggi, dapat mengambil dari wahyu itu dengan lemah lembut, mampu mengobati penyakit masyarakat, dan memperbaiki hati mereka. Dengan wahyu, dia dapat menarik simpati orang yang lari dan menenangkan orang yang sedang emosi. Dengan wahyu pula, dia dapat menghancurkan usaha-usaha pengkafiran, membatalkan tipu daya setan, melunakkan hati yang keras, dan menggembirakan hati yang resah. Sehingga setelah manusia mendengarkannya, mereka merasa butuh kepada Allah dan merasa perlu terhadap hidayah-Nya. Tidak ada petunjuk kecuali dari-Nya dan tidak ada tempat berlindung kecuali di bawah naungan-Nya.
Seorang dai tidak akan dapat berbuat demikian kecuali apabila ia siap hidup bersama Al-Qur’an dan berinteraksi secara intens dengannya. Al-Qur’an tidak akan memberikan kekayaan dan simpanannya kepada mereka yang tidak membuka mata hatinya untuk menerima ayat-ayat dan arahannya. Sehingga arahan dan prinsip-prinsip itu menjelma menjadi kehidupan yang nyata, yang dapat berjalan di atas bumi dan hidup di alam realitas.
Ustadz Umar Tilmisani rahimahullah pernah menyampaikan kisah awal pertemuannya dengan Imam Syahid Hasan Al-Banna. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Mursyid pernah bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu membaca Al-Qur’an?’ Maka aku menjawab, ‘Ya.’ Kemudian aku keluarkan mushaf kecil dari sakuku untuk meyakinkan apa yang saya katakan. Mursyid bertanya kepadaku, ‘Mengapa kamu menyimpannya di sakumu?’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya itu baik dan berkah. Aku tidak mengetahui dari Al-Qur’anul Karim kecuali sebagai kitabullah, yang merupakan berkah jika diletakkan di atas kepala untuk menghormati, atau di dalam saku untuk menjaga, atau di dalam kain sebagai rahmat.’
Imam Syahid berkata, ‘Bukan untuk itu Al-Qur’an diturunkan, wahai Umar. Sungguh, Al-Qur’an diturunkan sebagai undang-undang yang menghubungkan antara dunia dan akhirat. Sungguh, Al-Qur’an itu diturunkan agar kita amalkan di jalan Allah demi kebaikan kaum muslimin. Bukan untuk kamu letakkan di sakumu atau sekadar kamu baca sendirian.’
Kemudian Imam Mursyid menambah nasihatnya seraya berkata, ‘Jika kamu memperhatikan dalam membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya, niscaya kamu akan mendapatkan kesimpulan bahwa sekadar membaca tidak akan bermanfaat bagimu. Memang, selaku hamba Allah kamu membaca Al-Qur’an dalam rangka taqarrub kepada Allah, ini benar. Tetapi tidak cukup sampai di situ saja. Nasihatnya bukan masalah berkah semata, akan tetapi mengamalkan ajaran Al-Qur’an, itulah yang dituntut. Apakah Islam rela jika ada seorang muslim hina? Apakah Islam rela jika kaum muslimin dalam keadaan tertinggal di segala bidang? Dan apakah Islam rela jika para penghafal dan pembawa kitab Allah dalam keadaan demikian terbelakang?'”
Adakah pemahaman seindah ini? Sungguh engkau benar, wahai Imam. Musuh-musuh Islam takut jika melihat di dalam tubuh umat ini tergabung kejujuran Abu Bakar, keadilan Umar, kemuliaan Utsman, keberanian Ali, kecerdikan Khalid, kecerdasan ‘Amr bin ‘Ash, kesabaran Mu’awiyah, dan keberanian Ibnu Zubair. Musuh-musuh Islam ingin agar kaum muslimin mengekor kepada mereka, dan mereka tidak suka jika di kalangan kaum muslimin ada orang yang pintar dan cerdik yang mampu menyingkap kejahatan mereka. Sebagaimana diceritakan oleh seorang alim yang mulia, Zahid Al-Kautsiri, Wakil Syaikhul Islam di Daulah Utsmaniyah. Beliau berkata, “Suatu ketika, Duta Besar Daulah Utsmaniyah menghadiri pertemuan di Inggris dengan para pejabat negara. Berkatalah salah seorang pejabat kepada duta tersebut, ‘Mengapa kalian tetap bertahan untuk membiarkan wanita muslimah di negeri kalian menjadi terbelakang, terisolasi dari kaum laki-laki, dan tertutup dari cahaya?’ Duta itu menjawab, ‘Karena wanita-wanita kami adalah muslimah, tidak suka melahirkan anak dari selain suami mereka.’ Maka orang yang bertanya itu menjadi malu, tidak berani menggerakkan bibirnya sedikit pun, dan dia tidak lagi menghina kaum muslimin dengan celotehannya.”
Sungguh jawaban yang cepat dan tepat, sebagai buah dari kepahaman yang mendalam terhadap agama ini. Benarlah sabda Rasulullah Saw.,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نقيةُ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَحَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءِ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قيعان لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلاً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعْشَي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ به
“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah seperti hujan lebat yang turun menyiram tanah. Di antara tanah itu ada yang baik dan dapat meresapkan air, sehingga tumbuhlah rerumputan yang banyak. Ada juga di antaranya yang kering dan dapat menahan air, sehingga dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia; mereka meminumnya, memberi minum (ternak), dan menyiram tanaman. Ada pula yang menyiram tanah jenis lain, yakni tanah yang gersang; tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bermanfaat baginya ajaran yang dengannya Allah telah mengutusku, lalu dia amalkan dan dia ajarkan. Dan perumpamaan orang yang dengannya ia tidak dapat mengangkat kepala, dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (H.R. Bukhari-Muslim)
Setiap dai memerlukan kepekaan, pemahaman, dan pengetahuan yang detail terhadap manhaj dakwah. Untuk itu, kami akan memaparkan secara ringkas beberapa contoh manhaj para rasul dalam dakwah, agar kita mengetahui bahwa manhaj ini telah dimulai oleh para rasul dan para nabi, kemudian disempurnakan dan dimatangkan baik secara pemikiran, prinsip, maupun metode oleh risalah Al-Musthafa Saw.
Lalu mengapa kita tidak mempelajari manhaj itu, kemudian mengajarkan, melaksanakan, dan menyebarkannya agar benar-benar terealisasi pada kita apa yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qardzi rahimahullah? Ia berkata, “Sesungguhnya Musa a.s. berkata kepada Tuhannya, ‘Wahai Tuhanku, makhluk manakah yang paling mulia di sisi-Mu?’ Allah menjawab, ‘Orang yang lisannya selalu basah dengan zikir kepada-Ku.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, siapakah di antara makhluk-Mu yang paling alim?’ Allah menjawab, ‘Orang yang mencari ilmu dari orang lain.’ Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, siapakah di antara makhluk-Mu yang paling besar dosanya?’ Allah menjawab, ‘Orang yang menuduh-Ku.’ Musa bertanya, ‘Apakah ada seseorang yang menuduh-Mu?’ Allah menjawab, ‘Itulah orang yang beristikharah kepada-Ku, namun tidak rida terhadap ketentuan-Ku.'” (Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalam Ath-Thayyib, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, h. 53)
Sumber: Fiqih Dakwah: Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz.



