Barangsiapa merenungkan apa yang ada di dalam Al-Quran, dia akan memperoleh kesimpulan bahwa sesungguhnya Al-Quran memuat dua bentuk bayan (penjelasan) sebagai berikut:
- Bayan yang berkaitan dengan dakwah, yaitu mencakup:
– Tauhid
– Penetapan Risalah
– Adanya Al-Quran itu dari Allah Swt.
– Penetapan hari ba’ats
– Penjelasan mengenai penyimpangan dan kesesatan yang ada pada umat-umat di masa lalu. - Bayan yang memperhatikan sisi syar’i, yaitu sesuatu yang menjadi keharusan, seperti uraian tentang hukum-hukum terapan dalam ibadah, muamalah, masalah kepribadian, peradaban, politik, peperangan, pokok-pokok negara Islam, dan sebagainya. Inilah Al-Quran yang diturunkan di Madinah.
Akan tetapi di kalangan ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nasrani ada segolongan orang yang melakukan syirik dalam akidah sebagaimana juga dilaku-kan oleh orang-orang musyrik di Makkah. Di kalangan orang-orang Nasrani ada orang yang bersikap berlebihan terhadap Isa a.s., sehingga menganggapnya sebagai Tuhan.
Demikian juga di kalangan kaum Yahudi ada yang bersikap berlebihan terhadap Uzair yang dianggap sebagai anak Allah. Ini benar-benar perka-taan buruk yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak berkata demikian kecuali dusta. Oleh karena itu, Al-Quran menjelaskan kepada mereka pada masa itu tentang akidah yang benar dan batilnya prinsip yang mereka pegang.
Dengan ini semua, jelaslah bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidak mem-bebani para rasul-Nya untuk menuntut dari manusia agar menerima agama ini secara paksaan, tanpa memberi alasan dan bukti-bukti yang jelas bahwa apa yang mereka bawa adalah benar dan selain itu adalah batil.
Akan tetapi Allah Swt. hanya mewajibkan kepada para rasul-Nya agar mereka melaksanakan tablig yang disertai dengan penjelasan. Demikian itu karena manusia tidak mau beriman kecuali jika apa yang mereka terima itu disertai argumen yang bisa mereka pahami.
Para rasul bertugas untuk menjelaskan kepada manusia tentang risalah mereka. Allah Swt. telah menjelaskan tentang seluruh utusan-Nya bahwa mereka itu datang kepada kaumnya dengan membawa keterangan dan penjelasan, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt.,
تِلْكَ الْقُرٰى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤىِٕهَاۚ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۚ فَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا بِمَا كَذَّبُوْا مِنْ قَبْلُۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِ الْكٰفِرِيْنَ ١٠١
“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya telah mereka dustakan. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir” (Al-A’raf: 101).
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌࣖ ٢٥
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al. Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25)
Itulah Nuh a.s. setelah ia menawarkan dakwahnya kepada kaunnya, mereka berkata,
قَالُوْا يٰنُوْحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَاَ كْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٣٢
“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Hud: 32)
Maka Nuh a.s. menjawab perkataan mereka,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ نُوْحٍۘ اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَّقَامِيْ وَتَذْكِيْرِيْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَعَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ فَاَجْمِعُوْٓا اَمْرَكُمْ وَشُرَكَاۤءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ اَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوْٓا اِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُوْنِ ٧١
“Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan (peringatanku kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Yunus: 71)
Demikian juga mereka memperlakukan Nabi Hud a.s., ketika mereka diseru untuk beriman kepada Allah.
قَالُوْا يٰهُوْدُ مَاجِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَّمَا نَحْنُ بِتَارِكِيْٓ اٰلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ ٥٣ اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَرٰىكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْۤءٍۗ قَالَ اِنِّيْٓ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَاشْهَدُوْٓا اَنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ٥٤
“Kaum Aad berkata, “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali kali tidak akan sembaban kami telah melimpahkan penyakit gila atas dirimu.” (Hud: 53-54)
Jawaban Hud a.s. adalah,
اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَرٰىكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْۤءٍۗ قَالَ اِنِّيْٓ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَاشْهَدُوْٓا اَنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ٥٤ مِنْ دُوْنِهٖ فَكِيْدُوْنِيْ جَمِيْعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُوْنِ ٥٥
“Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jelaskanlah tipu daya semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguherya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya, Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 54-56)
Adapun Ibrahim a.s., sungguh dia telah mengenalkan kepada kaumnya tentang Tuhannya. Dia berkata,
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِۙ ٧٨ وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِۙ ٧٩ وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِۙ ٨٠ وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِۙ ٨١ وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ ٨٢
“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Tuhanku Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (Asy-Syu’ara’: 78-82)
Demikian juga hal itu dilakukan oleh para rasul dan para nabi yang lain. Mereka mengenalkan kepada kaumnya akan hakikat dakwahnya dan menjelaskan kepada mereka apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada mereka. Itulah yang pernah dilakukan oleh para utusan Allah yang mulia pada masanya masing-masing.
Adapun pada masa kita sekarang ini, umat Islam sudah terlalu lama dalam kondisi kebingungan, tersesat jalan, dan terjauh dari kebenaran, bahkan ada yang sengaja menyesatkan dari kebenaran dan beribadah dalam keadaan bodoh Mereka semua membutuhkan orang yang mampu membawa ke jalan yang benar dan memberi petunjuk kepada mereka ke Ash-Shirat Al-Mustaqim, sehingga mereka memperoleh petunjuk, dan tidak ada alasan lagi bagi yang berpaling setelah memperoleh penjelasan.
Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menjelaskan berada di atas pundak para dai, dan merupakan karunia Allah bahwa musuh-musuh agarna ini tidak mampu melawan kebenaran dengan bukti dan alasan. Kebatilan itu tidak memiliki argumen yang mendukung, tidak pula memiliki kekuatan dalam jiwa kecuali dengan syubhat dan syahwat.
Karena itu, wajib bagi seorang dai memahami, bahwa apabila ia sekedar membawa dakwah ini, ia akan menghadapi tuduhan-tuduhan yang tidak benar sebagai senjata bagi musuh-musuhnya. Wajib bagi seorang dai untuk bersabar dan teguh pendirian, dan hendaknya ia berdakwah dengan kepahaman dengan cara mengembalikan segala sesuatunya kepada sumber asli agama ini agar manusia mau mengambilnya.
Suatu hal yang aneh adalah, bahwa mayoritas yang menentang dakwah ini berasal dari golongan orang-orang kaya dan para pembesar dalarn setiap masa. Hal ini telah disniyalir oleh Allah dalam Kitab-Nya.
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ اَكٰبِرَ مُجْرِمِيْهَا لِيَمْكُرُوْا فِيْهَاۗ وَمَا يَمْكُرُوْنَ اِلَّا بِاَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ ١٢٣ وَاِذَا جَاۤءَتْهُمْ اٰيَةٌ قَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ حَتّٰى نُؤْتٰى مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ رُسُلُ اللّٰهِۘ اَللّٰهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسٰلَتَهٗۗ سَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا صَغَارٌ عِنْدَ اللّٰهِ وَعَذَابٌ شَدِيْدٌۢ بِمَا كَانُوْا يَمْكُرُوْنَ ١٢٤
“Demikianlah Kami adakan di tiap-tiap negeri penjahat-penjahat terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 123-124)
وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ ِالَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآۙ اِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ ٣٤ وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ ٣٥
“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampai kannya.” Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu), dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (Saba”: 34-35).
Mereka pula yang berkata,
قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَۗ ١١١
“Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu adalah orang-orang yang hina?”
(Asy-Syu’ara’: 111)
Mereka membandingkan antara kondisi mereka yang bergelimang harta, fisik yang bagus, dan kedudukan mereka di masyarakat, dengan keadaan kaum muslimin yang lemah dan miskin serta terpinggirkan. Allah Swt. berfirman,
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓاۙ اَيُّ الْفَرِيْقَيْنِ خَيْرٌ مَّقَامًا وَّاَحْسَنُ نَدِيًّا ٧٣
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuannya?” (Maryam: 73)
Mereka pernah meminta kepada Rasulullah Saw agar Nabi mengusir mereka (orang-orang yang beriman) dari majelisnya. Mereka pernah berkata kepada Nabi Saw, “Apakah pantas kamu mendekati mereka (orang-orang yang beriman)?
Sa’ad bin Abi Waqqas berkata, “Kami pernah bersama Nabi Saw dengan enam orang, maka orang-orang musyrik itu berkata kepada Nabi Saw, “Usirlah mereka, mereka tidak berani melawan kami.”
Sa’ad berkata, “Saya saat itu bersama Ibnu Mas’ud, seseorang dari Hudzail, Bilal, dan dua orang yang tidak saya sebut namanya, lalu terlintas dalam benak Rasulullah Saw. apa yang Allah kehendaki, maka beliau berbisik dalam hatinya, dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya,
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗۗ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِّنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُوْنَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ٥٢
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-An’am: 52)
Sumber : Fiqih Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz,




