Islam sebagaimana telah kami jelaskan merupakan agama sekaligus mencakup dakwah dan penyerunya. Dakwah di sini bermakna kedaulatan. Esensi ini tidak diragukan lagi oleh seorang muslim. Demikian pula, menyeru manusia kepada Islam yang hanif dengan keutuhan dan universalitasnya, dengan syiar-syiarnya dan syariatnya, dengan akidah dan kemuliaan akhlaknya, dengan metode dakwahnya yang bijaksana serta sarana-sarana dan cara penyampaiannya yang benar. Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ١٥ يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ١٦
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Ma’idah: 15-16)
Al-Quran juga mengemukakan tentang penghulu para dai yang telah membawa risalah Islam ini untuk alam semesta:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٢٨
Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta penyayang dan pengasih terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah: 128)
Sesungguhnya kita tidak dapat memisahkan antara dakwah dengan dai-nya, karena seorang muslim yang memahami dakwahnya dengan benar tetapi kurang tepat dalam menyampaikannya kepada manusia, bahayanya sama dengan seorang muslim yang tidak memahami Islam dengan benar tetapi pandai berargumen, pandai berbicara, dan baik dalam penyampaian. Kelompok pertama tidak pandai menyampaikan meski paham, sementara kelompok kedua pandai menyampaikan meski dengan segala kebodohannya.
Oleh karena itu, Islam hanya akan menjadi dakwah yang benar apabila dibawakan oleh seorang dai yang paham dan berakhlak mulia. Dakwah dan dai-nya bagaikan dua sisi mata uang yang saling membutuhkan dan tidak mungkin dipisahkan.
Dr. Musthafa As-Siba’i berkata, “Musibah yang menimpa agama sepanjang zaman disebabkan oleh dua golongan manusia. Pertama, kelompok yang salah paham atau tidak paham terhadap agama ini. Kedua, kelompok yang pandai menyampaikan. Kelompok pertama menyesatkan orang-orang mukmin, sedangkan kelompok kedua memberi alasan bagi orang-orang kafir.”
Oleh karena itu, seorang dai harus memahami bahwa dakwah merupakan tugas para rasul Allah yang mulia. Mereka adalah utusan Allah kepada makhluk-Nya, yang menyampaikan perintah Tuhan dengan petunjuk yang jelas. Kemudian, tugas ini diwarisi oleh para ulama dan aktivis dakwah yang ikhlas. Mereka berhak meraih derajat yang mulia dan pahala yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ أَيَّامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَنَامِهِمْ شَيْئًا .
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, Malik, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Masih adakah perbuatan yang lebih mulia daripada dakwah? Bukankah ia merupakan suatu kemuliaan yang diperoleh para dai? Karena mereka dapat memetik buah dari jihad mereka, yaitu petunjuk Allah kepada manusia menuju kebenaran. Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣ وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’? Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 33-34)
Demikian halnya karena dakwah berarti menyeru manusia kepada agama-Nya, mengajak untuk mengikuti petunjuk-Nya, berhukum dengan syariat-Nya di bumi ini, bertauhid dan beribadah hanya kepada-Nya, memohon pertolongan dan taat kepada-Nya, serta melepaskan diri dari segala penghambaan kepada selain-Nya, membenarkan apa yang dibenarkan-Nya dan mengingkari apa yang dianggap salah oleh-Nya, serta beramar makruf dan nahi mungkar serta berjihad di jalan-Nya.
Dakwah bukanlah urusan yang mudah, melainkan amanah agung yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung. Mereka semua menolak untuk memikulnya dan merasa takut, kemudian manusia memberanikan diri menerimanya. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat zalim dan bodoh.
Dakwah memerlukan para dai yang ikhlas, gigih, dan dinamis. Karena seorang dai adalah pendidik dan pembangun generasi. Mereka berupaya menumbuhkan generasi yang memiliki sifat-sifat dan akhlak mulia sebagaimana digariskan oleh Al-Quran dan diaplikasikan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Karenanya, menjadi kewajiban kita untuk mengetahui apa yang kita butuhkan, dan hendaknya kita dapat menentukan apa yang kita cari, karena kekurangan kita bukan terletak pada manhaj, bukan pula pada sarana, melainkan pada kepribadian, kualitas akhlak, dan jati diri manusia muslim.
Sumber : Fiqih Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz,




