Orang-orang Barat sekuler telah menertawakan kita ketika mereka mempunyai anggapan bahwa pilar-pilar kedaulatan kita itu tergambar dalam slogan “Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, dan satu kepentingan yang sama”. Demikianlah mereka mengatakan kepada kita, yang kemudian kita membenarkan hal itu dan membangun persepsi kita serta mengatur berdasarkan hal itu, sehingga segala hubungan dan kepentingan didasarkan atas persepsi Sebenarnya tidak demikian Islam menginformasikan kepada kita, karena Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran: 110)
Berdasarkan ayat ini, maka ada pilar lainnya selain pilar-pilar yang telah disebutkan di atas, yang merupakan asas. Bahkan tanpa pilar ini maka pilar-pilar yang lainnya tidak berarti, yaitu sebagai berikut:
1. Beriman kepada Allah.
2. Menyuruh kepada yang makruf.
3. Mencegah dari yang mungkar.
Sekarang saya ingin bertanya kepadamu, apakah engkau dapatkan teritorial, kebangsaan, sampai bahasa dan kepentingan, yang semuanya ada sebelum Islam, mampu menyatukan bangsa Arab sehingga menjadi suatu urmat? Ataukah mereka tetap dipecah-belah oleh permusuhan, kebanggaan, kesukuan, dan fanatisme, sehingga hal itu disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,
وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya” (Ali Imran: 103).
Benar, itulah iman pertama kali yang membuat kepribadian pemilik akidah yang benar itu mampu membuat perubahan dalam masyarakat. Allah berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. (Ar-Ra’d: 11). Akidah itulah yang mempersatukan mereka, bukan tanah air, kebangsaan, bahasa, dan bukan pula kepentingan bersama.
Kita memang seringkali melihat bangsa-bangsa dan negara-negara bergabung atas dasar kesamaan-kesamaan tertentu, namun demikian mereka juga bercerai-berai menjadi berbagai kelompok dan golongan. Hal itu disebabkan karena perbedaan ideologis yang mendasar.
Coba Anda bertanya pada sejarah modern, apa yang membuat Jerman terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, Vietnam menjadi Vietnam Utara dan Selatan, Siprus menjadi Turkı dan Yunani, bahkan juga Yaman, menjadi Yaman Utara yang muslim dan Yaman Selatan yang nonmuslim?
Tidak lain semua itu terjadi karena perbedaan akidah yang telah memecah-belah mereka, terlepas dari benar dan tidakrıya akidah itu. Coba Anda bertanya kepada Makarius, mengapa dia memerangi Siprus yang masuk wilayah Turki Muslim, bukankah dia ingin menyatukannya dengan Siprus di wilayah Yunani Kristen. Coba Anda bertanya pada Beijen (Beigen) yang telah mengumpulkan orang-orang Yahudi dari Rusia dengan orang-orang Yahudi dari Amerika, Inggris, dan Maroko di dalam satu negara yaitu Israel yang dirampas dari tangan umat Islam, dan yang meneriakkan bahwa batas yang ingin mereka kuasai adalah dari Sungai Nil sampai Eufrat sesuai dengan anggapan mereka. Bertanyalah kepada mereka, atas dasar apa mereka bergabung?
Mengapa mereka menjadi heran terhadap bergabungnya umat Islam atas dasar akidah tanpa memandang perbedaan kebangsaan, warna kulit, dan tanah airnya? Sebagaimana bergabungnya Abu Bakar yang berasal dari Quraisy (Arab) dengan Salman yang berasal dari Persia, dengan Bilal yang berasal dari Ethiopia, dan dengan Shuhaib yang berasal dari Romawi.
Pernah datang suatu masa ketika seorang muslim berjalan dari Andalusia (Spanyol) ke Afrika Utara, Mesir, Syam, dan Irak, bahkan sampai ke negara yang paling jauh yaitu Cina dan India, tanpa ada perasaan takut dan terasing. Di mana saja ia berada di sana terdapat orang yang menyebut asma Allah. Di setiap tempat dia mendapatkan persaudaraan Islam serta mendengar seruan yang menyenangkan hatinya, itulah La ilaha ilallah, Muhamad rasulullah yang menyentuh hati dan pendengaran, sehingga dia hidup dengan penuh keamanan dan ketenteraman. Allah Swt. berfirman,
اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ ٩٢
Sesungguhnya ini adalah umat kamu, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al-Anbiya’: 92)
Untuk mewujudkan hal itu mereka menempuh dua jalan:
1. Dengan itiba’ (mengikuti) Rasulullah Saw., dari urusan yang paling kecil hingga yang besar, dan berakhlak dengan akhlak yang beliau praktekkan.
2. An-Nushrah (menolong atau mendukung); mendukung Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,
{يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْٓا اَنْصَارَ اللّٰهِ}
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah…. (Ash-Shaf: 14) Lalu,
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ ١٥٧
orang-orang yang beriman kepada (Muhammad), memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Demikianlah Rasulullah Saw. telah memancangkan kaidah-kaidah dakwah dan penegakan daulah. Barangsiapa ingin mengembalikan keagungan umat Islam dan daulah islamiah, dia harus mencontoh Rasulullah Saw. dan siap untuk meneladani dakwahnya.
Tidak mungkin seorang dai dapat merealisasikan apa yang diinginkan kecuali apabila ia berakhlak dengan akhlak Rasulullah Saw. sebagai dai yang pertama, dan bersedia mengikuti cahayanya. Untuk itu ia membutuhkan dua aspek utama sebagai berikut:
1. Akhlak dan perilaku.
2 Sarana dan kaidah-kaidah yang harus diikuti.
Sumber : Fiqih Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz,




