Hanya beberapa jam sebelum dialog langsung Amerika Serikat-Iran yang dinantikan di Muscat, Oman, pada hari Jumat (6/2) ini, Iran mengumumkan telah mengoperasikan rudal balistik canggih baru berjuluk “Khormashahr-4” di sebuah pangkalan militer baru. Di sisi lain, militer AS menegaskan sedang melakukan latihan rutin di kawasan sambil memperingatkan Teheran agar tidak mendekati kapal perangnya, menandai eskalasi ketegangan menjelang perundingan.
Pengumuman tentang rudal “Khormashahr-4” ini disampaikan oleh Kantor Berita Fars, media semi-resmi Iran. Menurut Fars, rudal tersebut telah menjadi bagian dari perlengkapan operasional di pangkalan rudal baru milik Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Spesifikasi yang diungkap mencakup jangkauan 2.000 kilometer, hulu ledak seberat 1.500 kilogram, dan kecepatan yang mencapai 16 kali kecepatan suara di luar atmosfer serta 8 kali kecepatan suara di dalam atmosfer.
Fars menyebut penggelaran rudal ini bertepatan dengan perubahan doktrin militer Iran dari defensif menjadi ofensif, dan merupakan “pesan bagi musuh di dalam dan luar kawasan” tentang kemampuan serta pengembangan teknologi rudal Teheran.
Respons dan Latihan Militer AS: “Dalam Kondisi Siaga Tertinggi”
Menanggapi perkembangan ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa kehadiran militernya di kawasan adalah untuk latihan rutin dan perlindungan kepentingan AS. Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta gugus tugasnya sedang melaksanakan “operasi latihan rutin” untuk meningkatkan kesiapan.
Namun, Hawkins juga mengeluarkan peringatan keras. Ia menuduh Iran mengadopsi perilaku “konfrontatif dan tidak profesional”, merujuk pada dua insiden baru-baru ini di mana sebuah drone dan sejumlah kapal cepat Iran mendekati kapal perang AS di perairan internasional. Hawkins menegaskan bahwa AS “tidak akan ragu” untuk bertindak demi melindungi personelnya, sebagaimana terbukti saat sebuah drone Iran ditembak jatuh oleh jet F-35 pada Selasa lalu. Ia menyatakan pasukan AS berada dalam “kondisi siaga tertinggi dan siap untuk misi apa pun” jika diplomasi gagal.
Ketegangan Sebagai Alat Tekanan Diplomatik?
Eskalasi militer ini terjadi di tengah upaya diplomatik intensif yang difasilitasi negara-negara Arab dan Muslim untuk meredakan ketegangan. Sebuah laporan dari NBC News mengungkapkan bahwa ancaman militer AS dan kemungkinan “pergantian kepemimpinan politik dan militer Iran” saat ini digunakan sebagai alat tekanan sementara jalur diplomasi tetap berjalan.
Laporan itu, yang mengutip pejabat-pejabat AS, menyebutkan bahwa pejabat tinggi pemerintahan Trump belum mendapat arahan jelas tentang tujuan pasti dari opsi militer potensial terhadap Iran. Presiden Donald Trump disebut membuka kemungkinan untuk mengubah rezim Iran, namun belum menentukan secara tepat sasaran operasi militer apa pun. Juga tidak ada peta jalan atau konsensus jelas di dalam pemerintahan tentang peran AS pasca-konflik potensial.
Jalur Diplomasi dan Militer yang Berjalan Beriringan
Dengan demikian, dua jalur yang tampak bertolak belakang demonstrasi kekuatan militer dan perundingan diplomatik ternyata berjalan simultan. Iran memamerkan kemampuan rudal canggihnya tepat sebelum duduk di meja perundingan, sementara AS menegaskan kesiapannya bertempur sambil tetap terbuka untuk dialog.
Keberhasilan perundingan di Muscat hari ini akan sangat bergantung pada apakah kedua pihak dapat mengesampingkan bahasa ancaman militer ini dan menemukan titik temu untuk meredakan krisis yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.
Sumber: Al Jazeera





