RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,049)
  • Akhlak (134)
  • Al-Qur'an (78)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (191)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (11)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (198)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (136)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Al-Qur'an
  • Aqidah

Islam adalah Risalah tentang Prinsip-Prinsip Kemanusiaan yang Luhur

  • 26-04-2026
  • No comments
Ui2

Sejak bangsa-bangsa Muslim dan bangsa-bangsa lain dari Asia, Afrika, dan Eropa mengenal Islam, dan mayoritas mereka menganut agama tersebut dengan keyakinan yang kokoh bahwa itu adalah agama kebenaran yang dibawa oleh utusan yang jujur dan terpercaya, serta wahyu dari Tuhan semesta alam, Islam telah mewarnai seluruh kehidupan dan semua aspek aktivitas bangsa-bangsa ini dengan warna yang menyeluruh dan sempurna.

Kedua sumber utama agama Islam – yaitu Al-Qur’an dan Sunnah yang suci, yang merupakan penjelasan teoretis dan penerapan praktis dari Al-Qur’an yang Mulia – menjadi satu-satunya rujukan untuk semua hal yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan individu, keluarga Muslim, masyarakat Muslim, dan negara Muslim, serta untuk semua aktivitas politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pengasuhan, juga sistem legislatif dan peradilan.

Akidah dan syariat pun menguasai setiap orang, baik penguasa maupun rakyat, baik individu maupun masyarakat, dan keduanya memiliki kedaulatan tertinggi sehingga tidak seorang pun, baik penguasa maupun rakyat, dapat mengubah sedikit pun dari apa yang terkandung di dalamnya.

Dan di antara keajaiban ciptaan Allah untuk Islam ini adalah bahwa Dia membekalinya dengan dua makna yang mulia dan agung:

Pertama: Allah menjadikannya sebagai risalah tentang prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur, yang tidak akan tegak urusan langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya kecuali dengannya:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ

“Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, pastilah binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 71)

Kedua: Allah Ta’ala mendirikan agama yang luhur ini di atas nilai-nilai toleransi, kelapangan, pemaafan, dan pengampunan yang menjadikannya sebagai keamanan dan kedamaian, atau keadilan dan keseimbangan, bagi mereka yang tidak beriman kepadanya dan tidak menganutnya.

Maka Dia mewajibkan para pengikutnya untuk beriman kepada setiap nabi sebelumnya, dan kepada setiap kitab yang diturunkan. Dia memuji para nabi, kitab-kitab, hawariyyun, rasul-rasul, dan umat-umat yang mendahuluinya, serta orang-orang mukmin dari generasi sebelumnya. Dia juga memerintahkan orang-orang yang beriman kepadanya untuk menempuh jalan mereka dan mengambil teladan dari mereka:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّـۧنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong agama Allah, sebagaimana ‘Isa putra Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Siapa yang akan menjadi penolongku dalam menegakkan agama Allah?’ Para hawariyyun menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah.'” (QS. Ash-Shaff: 14)

Dengan dua makna ini, Islam mampu mempersembahkan kepada dunia sebuah peradaban yang dibangun di atas keutamaan-keutamaan jiwa dan tekad-tekad amaliah. Ia juga mampu menegakkan dalam sejarah sebuah negara adidaya yang tidak terhalang oleh perbedaan ras dan keyakinan untuk menjadi teladan keadilan dan toleransi.

Oleh karena itu, ketika Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

itu adalah pertanda terjadinya transformasi fundamental dalam peradaban umat manusia hingga Allah mewarisi bumi dan seisinya.

Jika Islam datang sebagai penyempurna agama Allah yang diutus-Nya untuk makhluk-Nya melalui perantaraan para rasul-Nya sejak Nabi Adam ‘alaihis salam, dan sebagai penutup risalah-risalah Allah ke bumi, maka Allah tidak menjadikannya terbatas hanya untuk satu kaum tertentu, seperti risalah-risalah sebelumnya, termasuk bangsa Arab yang kepadanya Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka dan dari kalangan merekalah utusan-Nya diangkat. Sebaliknya, Islam untuk seluruh umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا كَآفَّةًۭ لِّلنَّاسِ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Sifat universal risalah Islam untuk seluruh umat manusia mengharuskan diperhatikannya sejumlah pertimbangan penting yang melekat pada kehidupan manusia:

Memperhatikan Perbedaan Ras dan Agama

Dampak pertama dari hal ini adalah adanya perbedaan manusia dan keberagaman corak kehidupan mereka karena perbedaan lingkungan dan zaman. Allah Ta’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Di antara manifestasi perbedaan yang paling menonjol setelah ras adalah perbedaan agama. Itulah fitrah Allah dalam ciptaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan sebagai batu ujian terhadapnya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Menjaga Perbedaan Bahasa

Di antara manifestasi perbedaan antarumat yang diperhatikan Islam dalam arahannya kepada seluruh umat manusia adalah perbedaan warna kulit dan bahasa. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّلْعَـٰلِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Islam menghormati bahasa-bahasa bangsa lain. Ia tidak mewajibkan bagi mereka yang masuk Islam dari kalangan non-Arab untuk menggunakan bahasa Arab, meskipun bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan bahasa agama. Salat seorang Muslim tidak sah kecuali dengan membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat yang dilantunkannya dalam bahasa Arab selama salat. Adapun selain itu, ia tidak diwajibkan mempelajari bahasa Arab. Oleh karena itu, umat Muslim non-Arab tetap mempertahankan bahasa mereka. Demikian pula sikap Islam terhadap warna kulit dan ras, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Tidak ada keutamaan seorang Arab atas non-Arab kecuali karena ketakwaan.”

Keterbukaan terhadap Semua Peradaban

Karena universalitas adalah ciri utama Islam, maka keterbukaannya terhadap dunia mengharuskan dua hal dalam interaksinya dengan manusia di lingkungan mereka yang beragam: pertama, keterbukaan terhadap semua peradaban dan budaya; kedua, fleksibilitas dan toleransi dalam berinteraksi dengan keduanya.

Adapun keterbukaannya terhadap semua peradaban, hal itu tampak dalam upayanya mengakomodasi semua yang dikenal dari kitab-kitab kaum terdahulu, ilmu pengetahuan mereka, dan filsafat mereka dalam seratus tahun pertama sejarahnya. Ilmu pengetahuan Yunani, Romawi, Persia, dan India berpindah ke dalam Islam, di samping apa yang dilestarikan dari warisan bangsa Semit, Mesir, dan lainnya. Semua ilmu ini dipindahkan meskipun sebagiannya bertentangan dengan dasar-dasar dan ajaran Islam.

Keterbukaan ini mencapai puncaknya ketika Islam berpindah dari Jazirah Arab ke wilayah-wilayah lain, pertama-tama, dan kemudian ke semua negeri Muslim. Dalam berinteraksi dengan warisan-warisan bangsa lain, Islam hanya menetapkan dua syarat: (1) tidak bertentangan dengan keesaan Allah sebagai prioritas utama, sehingga menolak semua manifestasi paganisme dan kemusyrikan; (2) komitmen terhadap martabat manusia dan tidak merusak kehidupan atau kesehatannya sebagai prioritas kedua.

Memperhatikan ‘Urf yang Baik

Di antara ciri paling menonjol dari keterbukaan dan fleksibilitas ini adalah bahwa Islam menjadikan ‘urf (adat kebiasaan) yang baik sebagai instrumen yang kokoh dalam ushul fikih. Hal ini tercermin dalam sifat legislasi Islam, yang salah satu fondasi terpentingnya adalah perubahan hukum karena perubahan keadaan.

Ciri dasar Islam ini – bahwa ia menjaga semua yang baik dan bermanfaat serta memasukkannya ke dalam kerangkanya – mengakibatkan bahwa meskipun ia memiliki corak lokal yang menjaga adat kebiasaan luhur masyarakat dan nilai-nilai utama mereka yang diwariskan di lingkungan tempat mereka berada, corak lokal ini tidak tetap terbatas pada lokalitasnya. Sebaliknya, berkat universalitas Islam dan kelengkapan nilai-nilai kemanusiaannya, ia memperoleh dimensi global yang menjadikan, misalnya, seorang Muslim Mesir, dalam ke-Mesir-annya, bersaudara dengan seorang Muslim India, dalam ke-India-annya.

Penegakan Persatuan Umat Manusia

Di bawah karakteristik inilah Islam yang hanif datang untuk mencanangkan persaudaraan kemanusiaan, menyampaikan kabar gembira tentang seruan kepada universalitas, membatalkan segala bentuk fanatisme kesukuan, menempuh semua jalan teoretis dan praktis untuk mewujudkan seruan yang mulia dan luhur ini, serta menegaskan semua fondasi yang diperlukan untuk mewujudkannya:

1. Penegakan Kesatuan Jenis dan Keturunan

Islam menetapkan kesatuan jenis dan keturunan bagi seluruh umat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Manusia berasal dari Adam, dan tidak ada keutamaan seorang Arab atas non-Arab, juga tidak seorang kulit hitam atas kulit merah, kecuali karena ketakwaan.” Hikmah pembagian menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa hanyalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling bertentangan; untuk kerja sama, bukan untuk saling menelantarkan; dan untuk berlomba dalam ketakwaan serta amal saleh yang membawa kebaikan bagi kelompok dan individu. Allah adalah Tuhan semua, Dia mengawasi persaudaraan ini, memeliharanya, dan menuntut semua hamba-Nya untuk menetapkannya, memeliharanya, merasakan hak-haknya, dan berjalan dalam batasan-batasannya.

Al-Qur’an yang mulia menyatakan semua makna ini dengan jelas dan tegas:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan Allah menciptakan pasangannya dari dirinya; dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sungguh, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Dan firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam khutbahnya yang paling terkenal di Haji Wada’: “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan dan kebanggaan jahiliah terhadap bapak dan leluhur. Manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan seorang Arab atas non-Arab, juga tidak seorang kulit hitam atas kulit merah, kecuali karena ketakwaan.”

Dan beliau ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme kesukuan, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena fanatisme kesukuan, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas fanatisme kesukuan.” (HR. Abu Dawud)

2. Penegakan Kesatuan Agama

Islam juga menegakkan kesatuan agama dalam pokok-pokoknya yang umum. Syariat Allah bagi manusia berdiri di atas landasan iman, amal saleh, dan persaudaraan. Semua nabi adalah penyampai dari Allah, semua kitab samawi berasal dari wahyu-Nya, dan semua orang beriman dari umat mana pun adalah hamba-hamba-Nya yang jujur dan beruntung di dunia dan akhirat. Perpecahan dalam agama dan permusuhan atas nama-Nya adalah dosa yang bertentangan dengan pokok-pokok dan landasan-Nya. Kewajiban seluruh umat manusia adalah beragama dan bersatu dalam agama. Itulah agama yang lurus dan fitrah Allah yang telah ditetapkan-Nya atas manusia. Dalam hal ini, Al-Qur’an yang mulia berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًۭا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.” (QS. Asy-Syura: 13)

Dan Al-Qur’an berfirman, berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ:

فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَابٍۢ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَـٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَـٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ

“Maka karena itu, serulah dan tetaplah di jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau ikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada lagi perdebatan antara kami dan kamu. Allah akan mengumpulkan kita semua, dan kepada-Nya tempat kembali.'” (QS. Asy-Syura: 15)

Nabi Muhammad ﷺ menggambarkan makna ini dengan gambaran yang paling indah: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu ia memperindah dan mempercantiknya, kecuali tempat satu bata di salah satu sudutnya. Maka orang-orang mulai mengelilinginya, mengaguminya, dan berkata, ‘Mengapa bata ini tidak ditempatkan?’ Aku adalah bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Islam menempuh cara yang luar biasa untuk menegakkan kesatuan ini. Seorang Muslim wajib beriman kepada setiap nabi sebelumnya, membenarkan setiap kitab yang diturunkan, dan menghormati setiap syariat yang lalu. Ia memuji kebaikan setiap umat beriman yang telah lalu. Hal ini diwajibkan, dinyatakan, dan diperintahkan oleh Nabi dan para sahabatnya:

قُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ وَإِسْحَـٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub, dan anak-cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'” (QS. Al-Baqarah: 136)

Kemudian Islam menegaskan bahwa inilah jalan menuju persatuan. Jika para pemeluk agama lain beriman seperti iman kalian, maka mereka telah mendapat petunjuk. Namun jika mereka berpaling, maka mereka akan terus dalam perselisihan dan pertentangan, dan urusan mereka selanjutnya terserah kepada Allah:

فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ آمَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا هُمْ فِى شِقَاقٍۢ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan. Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Kemudian Islam memperkuat persatuan antara orang-orang yang beragama dan beriman di atas dua fondasi yang jelas dan diakui, yang tidak diperdebatkan kecuali oleh orang yang sombong: Pertama, menjadikan agama Ibrahim ‘alaihis salam sebagai fondasi agama. Ibrahim, tidak diragukan lagi, adalah rujukan bagi tiga nabi yang risalahnya dikenal, yaitu Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Kedua, memurnikan agama dari kepentingan dan keinginan manusia, serta meninggikan penyandaran agama semata-mata kepada Allah. Maka dalam Surah Al-Baqarah, kita membaca firman Allah:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَٰهِۦمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُۥ ۚ وَلَقَدِ ٱصْطَفَيْنَـٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh, Kami telah memilihnya di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Baqarah: 130)

Hingga firman-Nya:

صِبْغَةَ ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ صِبْغَةًۭ ۖ وَنَحْنُ لَهُۥ عَـٰبِدُونَ

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik cetakannya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 138)

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِى ٱللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَآ أَعْمَـٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَـٰلُكُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُخْلِصُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu? Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.'” (QS. Al-Baqarah: 139)

Kemudian hingga firman-Nya:

تِلْكَ أُمَّةٌۭ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan, dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 134)

Islam memuji semua nabi. Musa ‘alaihis salam adalah nabi yang mulia:

وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهًۭا

“Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69)

‘Isa ‘alaihis salam adalah:

رَّسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌۭ مِّنْهُ

“Rasul Allah, firman-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari-Nya.” (QS. An-Nisa’: 171)

وَجِيهًۭا فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةِ وَمِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ

“Dia akan menjadi orang terhormat di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 45)

وَيُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًۭا وَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Dan dia berbicara dengan manusia sejak dalam buaian dan ketika dewasa, dan dia termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali ‘Imran: 46)

Ibunya, Maryam, adalah seorang shiddiqah:

وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌۭ

“Dan ibunya seorang yang sangat jujur.” (QS. Al-Ma’idah: 75)

Para malaikat memuliakannya:

وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَـٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Dan ingatlah ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu di atas wanita-wanita di seluruh alam pada zamannya.'” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Taurat adalah kitab yang mulia:

إِنَّآ أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ فِيهَا هُدًۭى وَنُورٌۭ

“Sungguh, Kami telah menurunkan Taurat; di dalamnya ada petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Injil juga kitab yang mulia, di dalamnya ada petunjuk, cahaya, dan nasihat:

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم بِعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ ۖ وَءَاتَيْنَـٰهُ ٱلْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًۭى وَنُورٌۭ وَمُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَهُدًۭى وَمَوْعِظَةًۭ لِّلْمُتَّقِينَ

“Dan Kami iringi jejak mereka dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami berikan kepadanya Injil, yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan ia menjadi petunjuk dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 46)

Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah lentera-lentera petunjuk bagi manusia:

نَزَّلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ

“Dia menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali ‘Imran: 3)

Bani Israil, umat Musa ‘alaihis salam, adalah umat yang mulia dan diutamakan selama mereka istiqamah dan beriman:

يَـٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu di atas seluruh umat pada masanya.” (QS. Al-Baqarah: 122)

Umat ‘Isa ‘alaihis salam adalah umat yang utama dan baik selama mereka ikhlas dan beramal:

وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأْفَةًۭ وَرَحْمَةًۭ وَرَهْبَانِيَّةً ٱبْتَدَعُوهَا

“Dan Kami jadikan di dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa kasih sayang dan rahmat. Dan kerahiban yang mereka ada-adakan…” (QS. Al-Hadid: 27)

Interaksi antara umat Muslim dan non-Muslim dari kalangan pemeluk keyakinan dan agama lain didasarkan pada kemaslahatan sosial dan kebaikan kemanusiaan:

لَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai teman setiamu, yaitu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Perdebatan dilakukan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Dasarnya adalah mengingatkan kembali ikatan-ikatan risalah samawi dan kesatuan akidah imaniyah:

وَلَا تُجَـٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَٰحِدٌۭ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang lebih baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka. Dan katakanlah, ‘Kami beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'” (QS. Al-‘Ankabut: 46)

3. Penegakan Kesatuan Risalah

Al-Qur’an yang mulia menyatakan universalitas ini dalam banyak ayat. Allah berfirman:

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَـٰلَمِينَ نَذِيرًا

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Dan firman-Nya:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا كَآفَّةًۭ لِّلنَّاسِ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Saba’: 28)

Dan firman-Nya:

قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَـٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah, ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua, diutus oleh Dia yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan utusan-Nya, yaitu Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan firman-firman-Nya. Dan ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.'” (QS. Al-A’raf: 158)

Oleh karena itu, risalah beliau juga merupakan penutup segala risalah; tidak ada risalah setelahnya yang menggantikan atau menghapuskannya, dan tidak ada nabi setelah beliau:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍۢ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا

“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Oleh karena itu pula, mukjizatnya yang abadi dan kekal adalah Al-Qur’an yang mulia ini:

وَإِنَّهُۥ لَكِتَـٰبٌ عَزِيزٌۭ

“Dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang mulia.” (QS. Fussilat: 41)

لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَـٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ ۖ تَنزِيلٌۭ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍۢ

“Tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang. Ini adalah wahyu dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fussilat: 42)

Dahulu manusia bertanya-tanya sebelum era ini, bagaimana mungkin seorang individu dari satu umat bisa menjadi utusan bagi seluruh umat manusia? Lalu datanglah era ini, di mana jarak telah sirna, berbagai penjuru bumi telah terkumpul dengan sarana transportasi ini, kepentingan antar bangsa, negara, dan umat saling terkait sehingga seakan-akan mereka adalah satu negeri yang besar, tidak ada satu sisi pun yang terlepas dari sisi lainnya, baik sedikit maupun banyak. Berita dari Timur diketahui oleh Barat saat kejadiannya, dan berita dari Barat didengar oleh Timur saat terjadinya. Harapan para pembaharu saat ini terpusat pada “satu dunia”, “satu sistem”, “jaminan sosial”, dan “perdamaian global”. Demikianlah itu menjadi bukti yang besar, dan mukjizat lain bagi nabi Islam dan syariat Islam. Maha Benar Allah Yang Maha Agung:

سَنُرِيهِمْ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلْـَٔافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia adalah kebenaran. Tidak cukupkah bagimu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53)

4. Kesatuan Syiar

Islam, sesuai kebiasaannya yang “praktis”, tidak berhenti pada sekadar menetapkan dasar-dasar teoretis untuk persatuan kemanusiaan ini. Islam malah merancang sarana-sarana penerapannya, serta menetapkan syiar-syiar dan syariat-syariat yang memperkuat makna ini dalam jiwa dan memantapkan sendi-sendinya dalam masyarakat. Inilah perbedaan antara risalah-risalah filosofis dan risalah-risalah reformis, atau antara seorang filsuf dan seorang reformis. Filsuf menetapkan teori-teori, sedangkan reformis merancang kaidah-kaidah penerapan dan mengawasi langsung kesempurnaannya. Karena itulah, Islam bersifat teoretis dan praktis sekaligus; karena ia adalah risalah reformasi menyeluruh yang abadi. Atas dasar ini, Islam menetapkan syiar-syiar dan syariat-syariat yang dengan mengamalkannya akan terwujud apa yang diserukannya, yaitu kemanusiaan universal dan persaudaraan sejati antar manusia, meskipun berbeda tanah air, ras, dan warna kulit.

Kesetaraan total adalah slogan Islam dalam hak dan kewajiban, serta manifestasi ibadah. Seluruh umat manusia dimuliakan, diutamakan atas banyak makhluk lainnya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)

Seluruh manusia disapuh oleh seruan Islam ini. Banyak pembukaan khitab dalam Al-Qur’an yang mulia dimulai dengan “Wahai manusia!” sebagai isyarat tentang universalitas risalah ini dan kesetaraannya antara manusia dalam hak dan kewajiban.

Hak-hak spiritual –di samping hak-hak sipil, politik, individual, sosial, dan ekonomi– ditetapkan secara setara untuk semua. Tidak ada satu kaum pun melainkan Allah telah mengutus seorang rasul kepada mereka:

إِنَّآ أَرْسَلْنَـٰكَ بِٱلْحَقِّ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا ۚ وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌۭ

“Sungguh, Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan di dalamnya telah datang seorang pemberi peringatan.” (QS. Fatir: 24)

Begitu pula halnya dengan semua hak, kewajiban, dan ibadah yang dibawa oleh Islam ini.

Islam memperkuat makna-makna teoretis dan seremonial praktis ini dengan menyebarkan sebaik-baiknya perasaan kemanusiaan dalam jiwa, yaitu mencintai kebaikan untuk semua manusia, menganjurkan itsar, sekalipun dalam keadaan membutuhkan:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri membutuhkan. Dan barang siapa menjaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Berbuat baik dalam segala hal, bahkan dalam membunuh:

وَأَحْسِنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًۭا

“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi: 30)

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik.” (QS. An-Nahl: 90)

Islam juga menetapkan perasaan rahmat hingga kepada hewan. Pintu-pintu surga terbuka bagi seorang laki-laki yang memberi minum seekor anjing, dan neraka menelan seorang perempuan karena ia mengurung seekor kucing tanpa makanan, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ hingga para sahabatnya heran dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala karena berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Ya, pada setiap makhluk yang memiliki hati yang basah ada pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Tidak diragukan lagi bahwa perasaan-perasaan inilah yang melimpahkan kepada pemiliknya makna-makna kemanusiaan yang terbaik dan mengarahkannya untuk menghargai nilai persaudaraan universal.

Sumber: Tarbiyaa

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Kemanusiaan
  • Prinsip
  • Risalah
Anda Mungkin Juga Menyukai
4r2zb29z5ksg84s08w 800xauto
View Post
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Renungan Ketuhanan dan Sentuhan Keimanan

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

Screenshot+2024 08 31+at+7.09.48+PM
View Post
  • Aqidah

Pendorong dan Penghalang Taubat

Malik shibly lKbz2ejxYbA unsplash
View Post
  • Al-Qur'an
  • Aqidah

Al-Qur’anul Karim: Kitab untuk Sepanjang Zaman dan Seluruh Umat Manusia

Images 15 640x424
View Post
  • Al-Qur'an

Tilawah Al-Qur’an Baiknya Suara Keras, Pelan, atau di Dalam Hati?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 69fb9d51c56b9 1
    • Akhbar Dauliyah
    Empat Syahid dalam Serangan Israel di Gaza Utara
    • 15.05.26
  • Syaikh yusuf qardhawi membela fitrah pertemuan lakilaki dan perempuan xzl 2
    • Wasathiyah
    Pengaruh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Pemikiran Islam Kontemporer
    • 15.05.26
  • Images (10) 3
    • Wasathiyah
    Perumusan Misi Dakwah dan Tujuannya oleh Al-Banna (Bagian 2)
    • 15.05.26
  • 1714531601008 4
    • Fiqih
    Sedekah Sunnah Terbaik saat Musim Qurban adalah Qurban
    • 15.05.26
  • Trump6 5
    • Akhbar Dauliyah
    Bagaimana Iran Menghadapi Ancaman Trump untuk Melancarkan Serangan Baru?
    • 15.05.26
  • 2zliilslbukgssw4wg 800xauto 6
    • Wasathiyah
    Nilai Rabbaniyah (Ketuhanan) di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    • 16.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.